Dominasi Yahudi dan Sikap Bung Karno

0
266

Nusantara.news – Bung Karno, tentang pledoi “Indonesia Menggugat” 1930, telah menyatakan bahwa imperialisme baru dari Barat (dominan pengaruh Yahudi) harus kita cermati. Indonesia yang kaya sumber daya alam akan dijadikan sumber bahan baku bagi pabrik-pabrik di Eropa dan Amerika Serikat, serta akan dijadikan pasar penjualan produk-produk Barat di Indonesia. Untuk membentengi Indonesia, Soekarno menyebutnya Neokolim dengan mempertentangkan kapitalisme dan komunisme karena menyadari bahwa di belakang itu ada Yahudi dengan strategi perang dingin. Disayangkan Soekarno dalam perang dingin membuat “Nasakom” sebagai gerakan revolusi melawan kapitalis Yahudi. Saat itu negara komunis Uni Sovyet dan RRC, Soekarno menjaga bandulan ini. Selain tidak cocok sebagai ideologi dan paham Yahudi, Soekarno pernah diganggu oleh perlawanan dan pemberontakan yang didukung (back-up) oleh AS pada tahun 1952, yaitu oleh TNI (TB. Simatupang dan Nasution), PRRI dan Permesta 1957. Namun setelah menjadi simbol negara berkembang dengan Konferensi Asia Afrika (1955), Soekarno tampil percaya diri sebagai pemimpin dunia kala itu.

Popularitas Bung Karno sejajar dengan pimpinan dunia, bahkan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy saat itu sangat menghormatinya. Pada kurun waktu Asia-Afrika 1955–1962, peran Bung Karno sebagai inspirator negara-negara Asia untuk kemerdekaan. Pada tahun 1960 – 1962, Bung Karno mampu bargaining dengan Uni Sovyet mengenai membangun Indonesia. Bukan dengan Utang, tapi hibah dengan alasan keluar dari Olympiade, mengusung Ganefo. Indonesia memperoleh biaya membangun Senayan, Hotel Indonesia dengan patung “Selamat Datang”, DPR, Masjid Istiqlal, dan Jembatan Semanggi dari Uni Sovyet. Dengan AS, alasan izin tambang Freeport di Papua (Irian), maka berbuah dengan barter pembebasan Papua (Irian), logistik dibiayai oleh AS (1962). Di sinilah awal Soeharto direkrut oleh AS, untuk menjadi Sekutunya, untuk menggulingkan Soekarno. Pasca pembebasan Irian, AS menuntut izin tambang tembaga dan emas diberikan, namun Soekarno “mempermainkan” AS dengan alasan bagi hasil yang belum disepakati. Indonesia minta 60% : AS 40%. AS saat ini sudah mau 50% : 50%. (Saat itu skema royalti seperti sekarang, belum ada). Inilah salah satu marahnya AS kepada Bung Karno, karena bayaran sudah diterima, dimana Irian menjadi wilayah Otonom NKRI, sementara bayaran untuk AS, izin tambang tidak diberikan. Setelah John F. Kennedy tewas ditembak pada tahun 1963 (Demokrat), AS dikuasai oleh Partai Republik di bawah Presiden Lyndon Johnson, hubungan Bung Karno dengan AS dan internasional memburuk. Dengan slogan “Go to Hell, your aids” menjadi simbol perlawanan dunia negara berkembang saat itu. Sayangnya Bung Karno memilih Komunis dalam konsep Kenegaraannya saat itu, sehingga pasca pembebasan Irian, Soeharto menjadi sekutu strategis AS dalam menggulingkan Soekarno (1965). Sebelumnya Jenderal-jenderal Angkatan Darat direkrut menjadi perwira didik di Westpoint, dan Soekarno terguling pada tahun 1966.

Lalu bagaimana dengan pemerintahan Joko Widodo, bandulan poros Jakarta–Beijing, kedekatannya dengan para taipan, Cina‘s Overseas, yang diwujudkan dengan pembelaannya, terhadap Ahok. Terkesan dan patut diduga Joko Widodo pembelaannya menempatkan Cina sebagai partner strategis dalam ekonomi. Akankah Joko Widodo membawa Indonesia ke jurang yang sama dengan Soekarno pada tahun 1965? Sinyal Yuan/RMB sebagai acuan valas, kepercayaan dirinya beruntung di tahun 2017, dengan akan menerbitkan SUN senilai Rp 567 Triliun, dan menerbitkan izin reklamasi, serta menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 tentang Kepemilikan Asing dalam Properti, meyakinkan kita bahwa Joko Widodo memilih Cina ketimbang AS. Di saat AS dipimpin Trump yang keras untuk konsolidasi kepentingan nasional dalam melawan Cina. Akankah terjadi siklus tahun 1965, negara kembali salah pilih menyikapi perubahan global? Seyogyanya Joko Widodo mempelajari dengan baik apa arti Nasionalis Populis AS dan Brexit Inggris. Tekad Trump akan memenangkan perang dingin dengan Cina pasti akan mengubah konstelasi dunia di bidang ekonomi.

Bagaimana Indonesia harus menyikapi? Bandulan kedua kekuatan dunia saat ini akan berinteraksi lebih keras. Trump dalam pidato terakhir berteriak: “Apa yang AS dapat 20 tahun setelah menjadi polisi dunia?”. Sementara Cina tumbuh 2 digit belasan tahun, dan AS dapat apa? Lalu Indonesia jadi mitra strategis Cina di saat 2 negara besar akan bersitegang?!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here