PSI, Energi Negatif Jokowi?

0
169
Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni

Nusantara.news, Jakarta – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi buah bibir di panggung perpolitikan nasional. Setelah kontroversi perda syariah yang menggegerkan, kini partai yang mengklaim berisikan anak-anak muda itu kembali menyulut kegaduhan terkait korupsi.

Pasalnya, bertepatan dengan hari antikorupsi sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2018 yang baru lalu, Sekjen PSI, Raja Juli Antoni, mengusulkan agar korupsi di era Orde Baru menjadi tema debat dalam Pilpres. Ia menyebut bahwa korupsi Orde Baru menjadi topik yang penting dibahas dalam debat Pilpres karena dapat memberi kontras dan akan mengangkat citra Jokowi sebagai produk reformasi yang bersih dari korupsi dan Prabowo sebagai bagian dari masa lalu yang penuh dengan jeratan korupsi.

Namun, usulan Sekjen partai nomer urut 11 itu sontak saja menimbulkan kritik dari rekan koalisinya, yakni Partai Golkar. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Andi Harianto Sinulingga menuturkan PSI telah melakukan blunder dengan mengungkit masalah korupsi era Orde Baru dan bahkan menyindir PSI sebagai energi negatif yang berdampak buruk bagi elektabilitas Jokowi.

“PSI justru sering sekali berakting yang kontra-produktif. Jika hal itu hanya merugikan PSI sih enggak masalah, tapi pernyataan politik PSI itu juga akan merugikan Jokowi. Berpendapat itu harus cerdas,” kata Andi.

Dalam konteks perannya sebagai bagian dari koalisi kerja Jokowi-Ma’ruf Amin, PSI memang sering kali terlibat konfrontasi dengan partai-partai senior lain. Terlebih, sering kali PSI mengeluarkan isu-isu yang “tak menjual” dan kontraproduktif dengan koalisi. Misalnya saja dalam konteks usulan tolak Perda Syariah, yang langsung menimbulkan turbulensi politik bagi masyarakat luas, juga bagi koalisi. Bahkan usulan PSI terkait perda tersebut menimbulkan kritik dari PPP dan PKB.

Selain itu, PSI melalui pernyataan Tsamara Amany, juga sempat bermanuver dengan menyinggung perihal ‘dosa’ partai-partai lama yang secara tidak langsung juga menyinggung internal koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin. Bahkan beberapa partai se-koalisi seperti PDIP, Partai Golkar, PKB, dan PPP merespons dengan sinis langkah PSI.

Dan kini, menyoal usulan debat korupsi, justru ditanggapi dingin oleh partai se-koalisinya. Golkar melalui Ketua Dewan Pimpinan Pusat, Andi Harianto Sinulingga, menyebut PSI telah melakukan blunder politik dengan mengungkit masalah korupsi era Orde Baru. Bahkan PSI disebut sebagai energi negatif dan berdampak buruk bagi Jokowi.

Tentu manuver politik PSI tersebut bisa dianggap sebagai upaya menelanjangi keburukan sesama koalisi. Terlebih, Golkar merupakan partai utama yang mendukung rezim Soeharto di era Orde Baru.

Menurut pemerhati politik, Dedi Kurnia Syah Putra, PSI seharusnya tidak boleh hanya memikirkan kepentingan pribadi dan merusak internal koalisi Jokowi-Ma’ruf. Gaya akrobatik yang dipertontonkan PSI tak hanya merugikan petahana dari sisi elektoral di Pilpres 2019 mendatang, tetapi juga menuai cibiran dari berbagai kalangan.

PSI, Diserang Kawan dan Lawan

Tak hanya dari kawan sekoalisi, PSI juga jadi bulan-bulanan warganet karena mengunggah vedio soal sawit sebagai solusi mengatasi pelemahan rupiah yang tersebar di dunia maya beberapa waktu lalu. PSI, dalam video tersebut menggambarkan bagaimana ekspor sawit dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan negeri ini.

Beberapa memang sepakat soal poin ekspor. Akan tetapi, banyak pula yang mengernyitkan dahi, mengapa partai yang mengklaim progresif ini harus menjual isu sawit. Padahal, komoditas ini dianggap menjadi biang keladi sejumlah masalah, mulai dari penggundulan hutan hingga konflik agraria. Masyarakat dunia maya pun segera memberikan julukan baru kepada partai ini, PSI: Partai Sawit Indonesia.

Serangan terhadap PSI juga datang dari lawan politik akibat pernyataan-pernyataan yang menyengat dari Sekjen PSI. Sebut saja soal Koalisi Indonesia Adil Makmur kubu Prabowo yang disebutnya tidak kekinian alias jadul, ia juga menuding hoaks ada karena oposisi tidak kredibel, hingga serangan terhadap Soeharto simbol KKN dan mengaitkan Prabowo bagian di dalamnya. Tentu saja komentar sekjen PSI itu membuat kubu oposisi jengkel. Oposisi menilai, apa yang dilakukan PSI merupakan sensasi dan upaya mencari muka di depan Jokowi.

“Ya wajarlah si parnopol memang butuh cari sensasi ya. Kalo PSI itukan cari sensasi ya. Pengen numpang ngetop terus. Ya wajar. Mau ngomentarin apa saja soal Pak Prabowo, tapi pemimpin kami bukan tukang bohong. Gitu loh,” tutur politikus Partai Gerindra Andre Rosiade.

Dalam kadar tertentu, gaya akrobatik dengan pernyataan-pernyataan vulgar PSI sebagai partai baru bisa dibilang cukup berani. Namun pada akhirnya, kini PSI harus dihadapkan pada kondisi dilematis: sebagai partai baru, partai yang lekat dengan citra anak muda ini memiliki agenda besar untuk menembus electoral threshold 2,5 persen untuk melenggang ke Senayan.

Jokowi dan kader PSI saat merayakan ulang tahun PSI beberapa waktu lalu

Dengan menjual isu yang kontroversial dan kerap membela Jokowi, diharapkan akan meningkatkan brand awareness PSI sehingga meningkatkan elektabilitasnya, terutama di kalangan massa mengambang dan kelompok milenial. Akan tetapi, di tengah kondisi sosio-kultural Indonesia yang lebih mudah terpikat dengan gaya politik santun, dan belum kuatnya PSI sebagai refleksi kepentingan milenial, maka ‘jualan’ PSI tersebut agaknya tidak akan banyak membantu.

Di luar itu, manuver politik PSI yang terkesan memilih isu-isu kampanye yang kurang populis justru menjadi bumerang bagi partai berlambang menggengam bunga mawar ini. Sebab, dalam konteks politik Indonesia, isu-isu populis masih menjadi faktor penting bagi politisi dalam menggaet suara pemilih.

Pada akhirnya, efek bumerang PSI juga bisa membawa ‘petaka politik’ bagi Jokowi-Ma’ruf di pilpres mendatang. Akan dengan sangat mudah masyarakat menilai bahwa sikap PSI itu merupakan sikap dari koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin. Padahal sebagai petahana, mau tak mau Jokowi akan diukur dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan semasa berkuasa. Termasuk wacana dari orang-orang kepercayaannya, seperti halnya elite PSI.

Begitu pula soal “percekcokan” elite PSI dengan partai satu koalisi, akan disimpulkan oposisi bahwa koalisi petahana terancam pecah kongsi. Jika sudah begitu, pernyataan elite Golkar bahwa PSI membawa energi negatif bagi Jokowi barangkali ada benarnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here