Puasa Ibunda (Bagian 1)

0
137

Sejak kecil saya merendam pertanyaan di lubuk hati, kenapa di keluarga saya tidak pernah saya alami dan rasakan tradisi atau suasana ritual puasa sebagaimana yang saya jumpai di semua keluarga yang lain. Memang pada setiap Ramadhan terdapat suasana khusus, semacam kegembiraan dan kekhusyukan yang tidak terjadi pada bulan-bulan yang lain.

Tetapi sejumlah “perilaku” atau “upacara” yang di mana-mana terjadi, tak ada di keluarga kami. Yang menonjol di masa kanak-kanak saya dari Ramadhan adalah bunyi “tédur” atau bedug yang ditabuh oleh dua orang di dua sisi, dengan aransemen yang khas. Bunyi “tédur” sore hari menjelang Maghrib di mana bakda Isya nanti kami mengawal shalat Tarawih, juga pada hari terakhir puasa yang besoknya Idulfitri — sangat menawan. Membuat kami anak-anak kecil tersenyum lebar tak habis-habis, tanpa pernah mampu merumuskan perasaan apa yang sedang kami alami.

Tatkala menjelang remaja, bedug dan tédur lenyap, ditelan oleh pertengkaran tentang bid’ah, ketelingsut dan terkubur oleh konflik berkepanjangan para ulama, kiai dan ustadz tentang mazhab, aliran, tafsir dan berjenis-jenis kuasa dan kesombongan ilmu. Kayu, kulit kerbau dan potongan batang pohon petai penabuh bedug, tidak lagi dilibatkan dalam pernyataan Allah “sabbaha lillahi ma fis-samawati wa ma fil-ardli”, bertasbih kepada-Ku semua yang ada di langit dan bumi. Alam dihardik oleh keangkuhan ilmu manusia.

Pepohonan dan hewan disingkirkan oleh supremasi Syariat hubungan manusia dengan Tuhan. Kekayaan alam diperbudak, ditindas, dijajah, dikuras dan dihabiskan oleh kehebatan peradaban manusia untuk membangun materialisme, teknologisme, industrialisme, dan hedonisme.

Di keluarga saya hampir tidak pernah ada kemewahan materi, pertunjukan spiritual, dramatisasi ibadah, buka puasa yang lebai dan over-romantik. Kalau sahur ya sahur saja sebagaimana makan-makan biasanya. Kalau berbuka ya berbuka saja, tanpa prosedur administrasi takjil ringan dilanjutkan buka-berat, sebab adanya makanan minuman ya hanya itu. Kalau taraweh ya taraweh saja. Tadarrus ya tadarrus saja. Tarhiman ya tarhiman saja.

Puasa seharian ya puasa saja. Semua tanpa kehebatan, tanpa kegagahan. Tanpa men-teater-kannya. Tanpa merayakannya. Tanpa menyadar-nyadarinya. Tanpa dibungkusbungkus dengan kealiman, kesalehan atau kesorga-nerakaan. Seingat sejak kecil di keluarga saya juga tidak ada atmosfir “nafsu” terhadap pahala seratus kali lipat, ganjaran seribu kali lipat. Kami melakukan semua itu karena memang sewajarnya kami melakukannya.

Kalau Idulfitri tiba, sehabis shalat bersama di lapangan desa, kami kembali ke rumah, tidak ada proyek panjang bersalaman, berpelukan, sungkem kepada yang lebih tua di antara 15 bersaudara. Hanya bersalaman malu-malu, dan kalau ada yang mengucapkan sesuatu, paling jauh “Nol-nol ya…”. Atau “sepure sing dowo rek”. “Sepur” itu kereta api, “dowo” itu  panjang. Sepurnya yang panjang, maksudnya itu pengalihan simbolik dari “mohon maaf sepanjang-panjangnya”.

Bahkan kepada Ibu dan Ayah. Karena saya lama di Yogya, pernah saya membungkuk, hampir bersimpuh, mencium lutut Ibu dan Ayah. Tapi Ibu tertawa terpingkal-pingkal dan Ayah tersenyum-senyum. Padahal sudah saya hapalkan narasi adiluhung: “Kawulo caos sembah pangabekti, mugi katur ing ngarsanipun Ibu lan Bapak, mbok bilih wonten klentaklentunipun atur kulo saklimah, tuwin lampah kulo satindak, mugi Ibu soho Bapak kerso maringi gunging samodra pangaksami, kawulo suwun kaleburono ing dinten riyadi puniko…”

Ketika suatu saat ada peluang, saya coba menggali bagaimana sebenarnya pandangan Ibutentang tradisi yang kami jalani itu. Hal “sungkem” hariraya yang Ibu tertawa itu, Ibu berkata: “Nak, maaf memaafkan itu kepastian hati setiap manusia hidup. Apalagi pada kita sekeluarga. Kita ucapkan atau tidak, kita sampaikan atau tidak, mustahil kita pernah tidak memaafkan dan tidak minta maaf kalau kita benar-benar bersalah. Maaf memaafkan itu setiap saat, sepanjang waktu, di dunia sampai akherat. Tiap hari adalah Idulfitri bagi kita.

Tidak ada hari di mana kita tidak memaafkan di antara kita. Ibu saya adalah juara minta maaf. Setiap saya sowan kepada beliau dan berniat minta maaf karena banyak hal, begitu mencium tangan beliau, selalu Ibu yang duluan mengucapkan, “Sepuroen Ibumu yo Nak, gurung tau iso menuhi kewajiban sing temenan” . Maafkan Ibumu ya Nak, belum pernah mampu memenuhi kewajiban yang seharusnya.

Demikian saya dan semua kami 15 bersaudara tidak pernah menang melawan Ibu dalam lomba minta maaf. Bahkan sejumlah orang di dusun kami yang menyakiti Ibu, termasuk ada yang pernah menghardik Ibu dengan kata “pelacur”, didatangi rumahnya oleh beliau untuk menyatakan minta maaf kepada mereka. Seseorang yang paling dengki dan memusuhi keluarga kami, oleh Ibu malah diberi amanat yang menyangkut tanggungjawab besar kepada Tuhan dan masyarakat. Kami ber-15 pecah kepala rasanya oleh kemurahan dan kebijaksanaan radikal Ibu. Dua hari kemudian kami semakin kebingungan, tapi menjadi sedikit agak paham, tatkala pemegang amanat itu dipanggil ke hadirat Allah swt, dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

Hal puasa, karena kebetulan itu merupakan naluri dan hobi saya sejak balita, di samping seneng tidur di wuwungan genting atau di dahan pohon, atau duduk-duduk lama di kuburan — saya pernah memancing pandangan Ibu. Beliau menjawab: “Sebenarnya, Nak, yang paling nikmat itu kita berpuasa selama hidup di dunia, hari rayanya besok-besok saja di sorga. Mudah-mudahan Pengeran ngijabahi.

Yogya 29 Mei 2017.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here