Puasa Ibunda (Bagian 2)

0
63

Memang beliau keterlaluan puasanya. Tidak pernah punya kerudung atau jilbab, baju dan jarit, lebih dari tiga helai. Kami selalu mengoleh-olehinya bermacam-macam pakaian, tapi besoknya selalu sudah dipakai oleh tetangga sana sini. Ibu rajin keliling kampung bertamu ke penduduk yang miskin, menanyakan bagaimana makan dan pakaian anak-anak mereka, sekolahnya anak-anak mereka dan berbagai keperluan sehari-harinya. Kakak dan adik saya yang mengurusi sekolah sering mendapat perintah untuk memberi keringanan biaya kepada  ini itu. Sekian kali saya diajak bertamu ke rumah gubug tetangga jauh dan minta supaya saya bangunkan rumah meskipun kecil dan sederhana.

Penghuni rumah kami bergelombang keluar masuk antara 30 sd 40 orang. Termasuk guru-guru sekolah dan anak-anak yatim. Ayah menyekolahkan mereka, mendirikan rumah-rumah sederhana mereka, dan mengupayakan pekerjaan mereka. Sebagaimana lazimnya manusia, ada sejumlah anak asuh Ayah Ibu yang berkhianat. Ayah tidak pernah punya tema bahwa ia dikhianati, difitnah, disantet atau dibunuh. Beliau mengerjakan saja yang menurut beliau wajib dikerjakan: membangun Sekolah, Koperasi Desa, menyediakan fasilitas-fasilitas olahraga, media-media informasi, kesenian Hadrah, drumband dan apa saja yang beliau mampu. Ibu banyak difitnah luar biasa, dan kami memerlukan maraton berpuluh-puluh kilometer untuk sanggup memaafkan – sementara Ibu cukup satu langkah untuk pasti memaafkan siapapun saja yang menganiaya beliau.

Saya menempuh kehidupan dengan sangat dipengaruhi oleh Ibu dan Ayah. Juga kami semua 15 bersaudara. Sejak kecil saya menjalani puasa, di dalam atau di luar Ramadhan, Senin Kamis cara Kanjeng Nabi atau puasa Daud. Bahkan saya memperluas lelaku nilai, prinsip, ilmu dan metoda puasa ke semua ranah kehidupan: sosial budaya, karier, pendidikan, politik dan relatif semua wilayah.

Orang pada naik ke puncak karier, saya tak tahu di mana tangganya. Orang punya profesi, saya sepanjang hidup disuruh-suruh orang, dijadwal orang. Semua berebut kursi, saya bikin bangku sendiri. Orang bersaing memperoleh dan menghimpun harta benda, saya berlaku seperti ikan di laut atau burung di angkasa. Sebagai burung, saya punya sarang, tapi buat masa depan anak-anak. Orang khatam Sekolah, saya dikeluarkan dari semua Sekolah yang saya masuki. Orang berjuang jadi orang besar, saya tetap kecil sampai tua. Orang menjadi, saya tidak menjadi. Orang “to be”, saya gagal bertubi-tubi.

Orang berjuang untuk sukses, saya merahasiakan pendapat saya tentang apa makna sukses.Saya berpuasa dari mengemukakan pendapat. Saya sangat banyak tidak setuju terhadap banyak hal dalam kehidupan manusia. Saya punya pendapat tentang Negara, Pemerintah, rakyat, masyarakat, ideologi-ideologi, juga tentang apa saja — desa dan kota, Mal dan supermarket, internet, teknologi masa datang yang mengancam eksistensi Bank dan membubrahkan konstelasi modal, tentang gadget, medsos, “syariat” Onyx atau Linux sampai Android dan Apple. Pun tentang dunia kuliner, pengajian, tausiyah, Pancasila dan apapun. Tetapi saya berpuasa lebih dari 70% untuk menahan diri dan tidak mengungkapkannya.

Buka puasa sejarah saya hanya kalau saya bisa men’saleh’kannya. Menghitungnya, mensimulasinya, memuhasabahinya, sampai optimis bahwa kemashlahatan ekspressi saya lebih besar dari mudaratnya. Kalau tidak mengamankan dan menyamankan orang lain, kalau tidak merupakan sumbangan terhadap “rahmatan lil’alamin” lebih baik saya simpan seribu kebenaran saya di tabung rahasia.

Yogya 29 Mei 2017.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here