Puisi Karya Sukmawati Picu Kemarahan Warga NU Jatim

0
120
“Hari ini kami (NU) mendapat ujian pertama dalam kontek menjaga persaudaraan dan menjaga kerukunan sesama anak bangsa, dengan beredarnya video puisi yang dibaca oleh Sukmawati. Yang kami sayangkan dalam puisi itu menyebut ideom-ideom syariat Islam yang dibandingkan dengan budaya atau adat yang isinya tidak menghormati agama Islam" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Hari ini, di usianya yang genap 95 tahun, organisasi massa (Ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) disebutkan tengah mendapat ujian yang pertama, terkait konteks menjaga persaudaraan antar umat dan sesama anak bangsa. Penegasan itu dilontarkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah, di sela acara tasyakuran memperingati HUT NU ke-95, di kantor PWNU Jatim, Selasa (3/4/2018).

“Hari ini kami (NU) mendapat ujian pertama dalam kontek menjaga persaudaraan dan menjaga kerukunan sesama anak bangsa, dengan beredarnya video puisi yang dibaca oleh Sukmawati. Yang kami sayangkan dalam puisi itu menyebut ideom-ideom syariat Islam yang dibandingkan dengan budaya atau adat yang isinya tidak menghormati agama Islam. Ini sangat kami sayangkan karena bertentangan dengan sikap dan perilaku sang Proklamator yakni ayahandanya Bung Karno. Beliau (Bung Karno), saat mengambil setiap keputusan penting selalu berkonsultasi dengan para kiai. Pertama, PWNU Jatim sangat menyayangkan hal ini. Ke dua, PWNU Jatim menghimbau umat Islam, khususnya di Jatim untuk tenang, jangan terlibat tindakan-tindakan apalagi dengan melibatkan massa,” urai KH Mutawakkil di depan wartawan, di kantor PWNU Jatim di Jalan Masjid Agung Surabaya.

Masih kata KH Mutawakkil, menindaklanjuti itu pihaknya memerintahkan Ansor Jatim untuk ke Polda Jatim, guna menyampaikan surat aduan. Dan, meminta pihak kepolisian menindaklanjutinya.

“Terkait itu, kami (PWNU Jatim) juga memerintahkan Ansor Jatim untuk menyampaikan surat aduan ke Polda Jatim. Agar ini untuk segera diusut tuntas, apa pun itu maksudnya. Agar itu tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok untuk tujuan tertentu yang menabrak nasionalis atau pilar-pilar kebangsaan kita. Kita minta Kapolda juga Kapolri untuk mengusut tuntas secara hukum. Supaya tidak menimbulkan gejolak dan dimanfaatkan oleh pihak ketiga,” tegas KH Mutawakkil.

NU Jatim Minta Warganya Tidak Terprovokasi Puisi Sukmawati

Ketua PWNU Jatim itu juga kembali menekankan dan memberikan himbauan agar umat Islam, khususnya warga NU Jatim tidak terprovokasi. “Apalagi ini tahun politik tahun demokrasi, jangan sampai ini dipakai alat untuk black campaig,” katanya.

“PWNU Jatim memerintahkan Ansor Jatim untuk menyampaikan surat aduan ke Polda Jatim. Ini untuk segera diusut tuntas, apa pun itu maksudnya. Agar itu tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok untuk tujuan tertentu yang menabrak nasionalis atau pilar-pilar kebangsaan” (Foto; Tudji)

Untuk diketahui, di acara ‘Peringatan 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018’ di Jakarta Convention Centre, Rabu (28/3/2018), putri Soekarno, Sukmawati membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia. Tayangan video itu kemudian viral dan memunculkan reaksi, yakni oleh PWNU Jatim.

Mutawakkil menegaskan, itu adalah ujian pertama di HUT NU yang digelar tahun 2018, yang tengah mengusung tema “Menuju Satu Abad NU, Memperkokoh Ukuwah Wathonia untuk Indonesia Lebih Sejahtera”.

Ansor Jatim Lapor ke SPKT Polda Jatim

Selanjutnya di hari yang sama, Ketua Ansor Jawa Timur Rudi Triwahid bersama sejumlah stafnya dan juga anggota Banser mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim. Kepada wartawan Rudi menegaskan, yang dilakukan atas perintah PWNU Jatim.

“Kita ini ibarat anak dengan bapak, kalau (Ansor) diperintah bapaknya (PWNU Jatim) ya harus berangkat. Seperti yang rekan-rekan ketahui, itu terkait tayangan video pembacaan puisi yang dilakukan oleh Mbak Sukmawati Soekarnoputri,” kata Rudi.

“Karena Indonesia ini negara hukum, semua harus diselesaikan dengan aturan yang ada” (Foto: Tudji)

Selanjutnya, pihaknya memasrahkan semuanya sesuai ketentuan dan tugas kepolisian. Pihaknya juga menegaskan kalau masalah itu, pembacaan puisi oleh Sukmawati bukan hal sepeleh, kepolisian harus bertindak cepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, yang akan mengganggu ketenteraman khususnya di wilayah Jawa Timur.

“Karena Indonesia ini negara hukum, semua harus diselesaikan dengan aturan yang ada. Untuk itu kami diminta oleh PWNU Jatim ke SPKT Polda Jatim ini,” terangnya.

Ini Komentar Guntur Soekarnoputra

Menanggapi pembacaan puisi yang ditulis oleh Sukmawati berjudul ‘Ibu Indonesia’. Putra tertua Sang Proklamator Soekarno atau Bung Karno, yakni Guntur Soekarnoputra mengaku kecewa. Guntur menyebut keluarga besar Bung Karno sejak kecil diajarkan agama sesuai syariat Islam.

“Sebagai anak tertua, saya saksi hidup, seluruh anak-anak Soekarno dididik oleh Bung Karno dan ibu Fatmawati sesuai dengan ajaran syariat Islam,” ucap Guntur, di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Ditambahkan, di keluarga mereka juga diajarkan tentang menjalankan syariat Islam. “Kami diajarkan syariat Islam dan Bung Karno juga menjalankan semua Rukun Islam termasuk juga menunaikan ibadah haji,” tegas Guntur.

Terkait itu, atas nama keluarga besar Bung Karno, Guntur menyesalkan munculnya pembacaan puisi oleh Sukmawati. Dirinya memilih tidak mengomentari lebih terkait puisi adiknya. Namun, satu hal yang pasti puisi yang dibuat Sukmawati sama sekali tidak terkait dengan pandangan dan sikap keluarga besar Bung Karno, tentang Islam.

“Itu pendapat pribadi Sukmawati, tidak ada urusannya dengan pandangan dan sikap keluarga,” tegas Guntur.

Dirinya juga yakin puisi tersebut tidak mewakili sikap keimanannya sebagai seorang muslimah, dirinya juga berharap Sukmawati segera meluruskannya.

“Saya ingin Sukma segera meluruskannya,” tegas Guntur mengakhiri komentarnya.

MUI Sesalkan Munculnya Puisi Sukmawati 

Masih terkait puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan Sukmawati, Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Irjen Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo menyayangkannya.

“Kita prihatin kenapa ada keluarga tokoh proklamator yang gagal memahami akidah iman, Islamnya sebegitu parah ya?” tegas Anton, Selasa (3/4/2018).

“Tahun lalu Mbakyunya (Megawati) di pidato resmi PDI Perjuangan mengaku heran dengan orang-orang yang mempercayai ada kehidupan setelah mati padahal mereka belum pernah mengalaminya? Itu berarti ia tak percaya akhirat kan? Kini, Sukmawati melecehkan syariat yang sangat dimuliakan, diagungkan dan dihormati umat Islam, soal azan dan jilbab,” tuturnya.

Dia menyebut, azan adalah sangat mulia. Nabi Muhammad SAW saja melarang berbicara ketika mendengar azan dikumandangkan. Dalam sabdanya yang masyhur, ‘Siapa yang bicara ketika dengar azan dikumandangkan ia akan kepayahan ketika sakaratul maut’.

“Begitulah keagungan azan, kok malah dilecehkan,” tegasnya.

Dahsyatnya Lafal Adzan

“Ilmuwan barat banyak yang kagum kemudian jadi Mu’alaf dan memeluk agama Islam”

Lafal adzan diakui memiliki kedahsyatan, sejumlah nama besar pun mengaku takjub mendengar suara adzan. Ilmuwan barat banyak yang kagum kemudian mereka menjadi Mu’alaf dan memeluk agama Islam.

“Antara lain, Prof. Garry Miller pakar matematika, bahkan aktor dan sutradara AS ternama pemenang Academy Award Morgan Freeman yang Nasrani itu bilang bahwa suara adzan tanda waktu-waktu berdoa bagi umat Islam adalah suara terindah di dunia yang ia dengar,” ungkap Anton.

Termasuk soal hijab atau jilbab yang dikenakan kaum hawa Islam. Saat ini, hijab pun digandrungi wanita-wanita non muslim. Itu artinya ajaran Islam tentang jilbab justru menaikkan kehormatan kaum wanita. Itulah bukti kebenaran dan satu persatu kebenaran Islam itu terkuak. “Saya sarankan, Sukmawati jika tidak tahu syariat Islam, belajarlah syariat Islam jangan malah melecehkan,” tegasnya.

“Sukmawati membacakan Puisi ‘Ibu Indonesia’

Puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibaca Sukmawati

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here