Puluhan Pasar di Kota Malang Tergolong Tidak Sehat

0
90
Ilustrasi Pasar Kumuh

Nusantara.news, Kota Malang – Puluhan pasar tradisional di Kota Malang, tercatat sebagai kategori ‘Tidak Sehat’. Kategori tersebut disematkan melihat kondisi bangunan, kenyamanan, fasilitas, sarana prasarana dan keamanan pasar yang memadai.

Oleh karena itu Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang terus melakukan revitalisasi sejumlah pasar agar masuk kategori pasar sehat. Berdasar data di Disdag, dari 28 pasar tradisional di Kota Malang sekitar 20 pasar masuk kategori tidak sehat.

Hanya Pasar Oro-Oro Dowo, dan Pasar Bareng, yang tergolong sehat. Sementara itu yang akan menyusul adalah Pasar Terpadu Dinoyo (PTD) yang tengah di renovasi dan perbaikan pasar. Pasar tersebut direvitalisasi dengan  menggunakan dana dari APBN.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Rakyat Disdag Kota Malang, Eko Sya menjelaskan terkait langkah dan upayanya untuk menggenjot perekonomian masyarakat dan daerah dengan perbaikan jantung ekonomi.

“Kami selalu merevitalisasi pasar setiap tahun agar menjadi pasar sehat, kami ingin semua pasar rakyat harus masuk kategori pasar sehat. Itu agar warga nyaman belanja di pasar dan juga kegiatan ekonomi lancar dan cepat,” tutur Eko kepada wartawan.

Pemkot Malang merevitalisasi antara dua sampai tiga pasar rakyat per tahu. Revitalisasi itu memakai dana APBD dan APBN. Di antara beberapa syarat pasar sehat adalah dilengkapi instalasi pengolahan limbah sederhana, memiliki ruang laktasi, ada pengelompokan jenis dagangan sesuai standar kesehatan, dan sebagainya. “Tidak hanya itu mas, idealnya harus dilengkapi sarana kesehatan, dan wastafel untuk cuci tangan,” tegasnya.

Untuk menciptakan pasar sehat, pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kerja sama dengan pihak lain, baik investor, pedagang, dan masyarakat. Beberapa pasar di Kota Malang yang direvitalisasinya melibatkan pihak swasta di antaranya Pasar Terpadu Dinoyo (PTD), dan Pasar Blimbing. PTD sudah terbangun dan sudah ditempati.

Pemkot merevitalisasi Pasar Gadang Lama pada tahun ini. Rencananya ada dua pasar yang bakal direvitalisasi memakai dana APBN pada tahun 2018, yaitu Pasar Klojen dan Pasar Sukun. Pemerintah menganggarkan dana sekitar Rp 4 miliar untuk pembangunan fisik dua pasar itu. Pasar Klojen harus direvitalisasi karena usia pasar itu sudah puluhan tahun.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Kota Malag, Tika Hennivana merespon positif upaya Pemkot untuk membenahi Pasar di Kota Malang.

“Iya memang seiring berkembangnya zaman pasar tradisional pun juga harus dirawat, direnovasi. Namun, tidak menghilangkan esensi dan makna tradisionalnya, karena tradisionlanya seperti budaya tawar menawar dan lainnya. Itulah pasar Indonesia. Bukan ritel modern yang sudah ditetapkan harganya,” jelas Tika kepada Nusantara.news, Kamis (9/11/2017).

Melihat permasalahan konflik pasar yang marak akhir ini ia juga menghimbau agar tetap jeli dan waspada bagi para pedagang apabila ada permainan didalam pasar.

“Seperti beberapa kasus yang marak akhir ini, yakni Pasar merjosari dan dinoyo, belimbing itu harus menjadi pelajaran bagi semua pedagang agar tidak dipermainkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” tandas alumnus Universitas Brawijaya tersebut.

Pemertahanan dan pengembangan pasar diperlukan karena pasar merupakan salah satu tempat dan wadah jantung ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Karena di dalam pasar proses transaksi ekonomi dan proses perputaran roda ekonomi masyarakat bergulir. “Sebab, pasar rakyat tetap menjadi rujukan warga untuk belanja, serta jantung ekonomi masyarakat dan daerah,” ujarnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here