Puluhan Siswa SD Dilarikan ke RS Usai Minum Teh Botol Sosro

0
431
Dua siswa yang diduga keracunan teh kemasan mendapat perawatan medis di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (15/11). Sebanyak 57 siswa dari dua SDN III dan IV Kepatihan mengalami mual, muntah hingga sebagian jatuh pingsan diduga keracunan setelah meminum teh kemasan yang sedang menggelar promo di sekolah tersebut.

Nusantara.news, Tulungagung – Puluhan siswa SD Negeri III dan IV Kepatihan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (15/16/2017) sekitar pukul 10.00 WIB, mengalami keracunan massal usai meminum Teh Botol Sosro yang diberikan secara gratis dalam rangka promosi penjualan di sekolah.

Kepala SDN III Kepatihan Mulyaningsih mengatakan, kejadian bermula saat sekolahnya menerima tawaran dari sales teh botol Sosro, berinisial B dan E untuk mengadakan even promo di sekolah tersebut, pada Rabu (15/11/2017) pagi.

Dari pihak distributor Teh Botol Sosro mengirim beberapa tenaga marketing ke sekolah.

Dua orang tenaga marketing mengenalkan produk teh dengan beragam kemasan. Mulai kemasan kotak kertas dengan netto 210 ML, botol plastik hingga botol kaca dengan volume lebih banyak.

“Hari ini kegiatan baru dimulai. Nantinya sekolah akan dititipi lemari es yang diisi produk Teh botol Sosro,” katanya.

Dikatakan, kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh seluruh murid. Selain diskon harga, pihak teh botol sosro juga memberikan produk yang gratis yang dikemas melalui skema “game” atau permainan tanya jawab berhadiah di halaman SD setempat.

“Untuk memeriahkan suasana, marketing juga membuat arena permainan untuk siswa. Ya semua siswa ikut kegiatan tersebut,” jelasnya.

Suasana saat itu penuh keceriaan. Menurut Mulyaningsih, sekitar pukul 09.00 WIB sebanyak 400 murid langsung meminum produk yang disediakan. Bahkan ada siswa yang minum lebih dari satu botol. Hanya berselang 15 menit suasana berubah panik setelah sejumlah siswa mengeluh pusing, mual dan beberapa di antaranya muntah. Dalam waktu singkat jumlah itu terus bertambah. “Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya mereka kami bawa ke puskesmas dan rumah sakit,” ujarnya.

Pantauan Nusantara.News, siswa yang mengalami keracunan awalnya berjumlah 43 siswa, tapi kemudian meningkat menjadi sekitar 56 siswa. Rata-rata korban berasal dari kelas atas atau kelas 4 hingga 6. “Ada sekitar 56 siswa yang menderita mual dan sakit perut,” ujar Mulyaningsih.

Namun dirinya masih belum bisa menyimpulkan penyebab pasti mual serta sakit perut yang diderita siswanya. Sebab dari 400 siswa yang meminum teh botol, hanya 56 siswa yang mengalami gejala mual dan sakit perut. “Tadi semua siswa minum, namun hanya sekitar 56 yang yang mual dan sakit perut,” imbuh wanita paruh baya itu.

Kendati tidak berdampak fatal, 14 siswa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Iskak, 11 siswa ke Puskesmas Kota, dan 35 lainnya dirawat di sekolah.

Ditambahkan, dirinya menyerahkan kasus ini kepada kepolisian. Dirinya berharap agar murid-murid segera sembuh dan kembali ke sekolah. “Semoga tidak terjadi apa-apa, semuanya sehat,” tukasnya.

Beberapa siswa yang dilarikan ke IGD RSUD dr Iskak mengaku sempat pusing-pusing dan mengaku masih mual. Mereka sebagian terbaring di dengan selang infus terpasang di tangan. Namun secara keseluruhan kondisi para siswa yang sebagian sempat jatuh pingsan tersebut membaik.

Menurut salah satu siswa, Sendy Giovano Aprilio Redondo (9) mengatakan, sekitar pukul 09.30 WIB ada mobil salah satu produsen Teh Botol Sosro masuk ke halaman. Mereka tengah menggelar promo produk. “Sebagian ada yang dijual, ada yang diberikan gratis,” ucap Sendy.

Salah satu siswa SDN Kepatihan Tulungagung dibawa mobil ambulance karena kondisinya cukup parah.

Untuk produk yang dijual, Rp 2.500 dapat dua kemasan. Sendy mengaku mendapatkan produk gratis. Namun jarak lima menit setelah minum teh dalam kemasan itu, Sendy mengaku pusing. Kondisinya semakin memburuk hingga mual dan muntah-muntah. Sendy bersama sejumlah siswa kemudian dilarikan ke IGD RSUD dr Iskak. Sendy dan kawan-kawan diinfus. “Sekarang sudah tidak pusing lagi,” ujar Sendy, dengan jarum infus masih menancap.

Dokter jaga IGD RSUD dr Iskak, dr Heru Dwi Cahoyono mengatakan para siswa mengalami gejala keracunan, namun belum positif intoksikasi (keracunan) yang biasanya ditandai dengan gejala muntah secara terus-menerus disertai tensi menurun drastis yang menyebabkan tubuh korban melemah.

“Memang ada gejala intoksikasi, tapi belum sampai parah sehingga kondisi mereka cepat membaik saat dilakukan pemeriksaan,” kata Heru.

Ditambahkan Heru, jika dilihat dari gejala yang sama, penyebab sakit para siswa ini dari minuman yang sudah mereka minum. “Ada persamaan, mereka minum jenis minuman yang sama. Dugaan kami kondisi mereka karena reaksi dari minuman itu,” tandasnya.

Namun Heru menegaskan, pihaknya tidak berani mengatakan anak-anak ini keracunan. “Sebab untuk bisa memastikan keracunan hanya Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensi),” pungkasnya.

Sementara Kabag Humas dan Pemasaran RSUD dr Iskak Mochammad Rifai menyatakan kasus diduga intoksikasi atau keracunan masal tersebut masuk kategori kejadian luar biasa (KLB) sehingga keseluruhan biaya pengobatan korban sepenuhnya ditanggung pemerintah daerah.

Kata Rifai, saat siswa masuk UGD, pihaknya langsung memberikan pertolongan dengan mengeluarkan racun di dalam tubuh siswa itu. Sebagian siswa ditampung di green zone UGD RSUD dr. Iskak. “Langsung kita tangani, sebagian di green zone,” tandasnya.

Sampel Dibawa ke Puslapfor

Pasca keracunan massal, kepanikan masih terjadi di SDN III Kepatihan dan SDN IV Kepatihan yang berada dalam satu kompleks bangunan di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung.

Sejumlah petugas dari kepolisian segera mengumpulkan sisa Teh Botol Sosro kemasan untuk dijadikan barang bukti awal sekaligus sebagai sampel untuk pemeriksaan laboratorium.

Beberapa petugas juga tampak sibuk meminta keterangan dari beberapa siswa, orang tua murid, serta guru dan perwakilan tim pemasaran produk teh kemasan untuk mengusut insiden keracunan yang nyaris membahayakan keselamatan anak didik di SDN III Kepatihan dan SDN IV Kepatihan tersebut.

Kapolsek Tulungagung Kota,  Kompol Mustofa Al Hadar mengatakan telah mengambil beberapa sampel dan menyita beberapa barang bukti untuk menyelidiki kasus tersebut. Bahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan Polres Tulungagung untuk mengirimkan beberapa sampel termasuk sisa minuman siswa untuk di ujikan ke Laboratorium Forensik (Labfor) di Polda Jatim. Setidaknya ada beberapa produk yang diamankan seperti Teh Botol Sosro dalam kemasan botol plastik, Teh Sosro dalam kemasan plastik, Teh Sosro dalam kemasan botol kaca, dan beberapa bekas bungkus Teh Sosro.

“Kita ambil sampel untuk mengetahui apakah benar disebabkan dari teh tersebut atau disebabkan lainnya,” kata Mustofa, panggilan akrabnya.

Petugas mengambil sampel Teh Botol Sosro yang dibawa ke Puslapfor. Tampak pula pihak penyelenggara Teh Botol Sosro tengah dimintai keterangan.

Dirinya menambahkan, pihaknya akan memanggil penyelenggara dalam hal ini minuman kemasan Teh Botol Sosro untuk digali keterangannya terkait agenda tersebut dan juga terkait apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, apakah minuman tersebut layak minum atau tidak.

Selain itu juga akan dilakukan koordinasi dengan instansi terkait. Sebab, seharusnya terkait agenda seperti yang digelar minuman kemasan dengan merk Teh Botol Sosro ini, atau sebagai pemohon harusnya mengajukan kegiatan terlebih dahulu ke dinas pendidikan, pemuda dan olahraga.

Kemudian dinas tersebut akan meneruskan dengan memberikan surat tembusan pemberitahuan kepada Kapolsek Kota dan Puskesmas. Dengan begitu kegiatan bisa dilaksanakan secara nyaman dan aman. “Ya kita akan memanggil penyelenggaranya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Menelusuri kasus tersebut,” imbuhnya.

Teh Botol Sosro Juga Pernah Bermasalah

Sebenarnya bukan sekali ini perusahaan Teh Botol Sosro berurusan dengan hukum. Kasusnya  sama dengan yang dialami siswa Tulungagung, di mana Teh Botol Sosro, mengakibatkan seorang pria mengalami keracunan.

Saat itu pada bulan Desember tahun 2009 dan mamasuki awal bulan Januari 2010, Teh Botol Sosro disebut lalai mencantumkan batas waktu konsumsi dalam produk minumannya. Seorang konsumen Teh Botol Sosro bernama Dallas Franky Hutapea dikabarkan menggugat produsen PT Sinar Sosro senilai Rp 1 miliar ke Pengadilan Negeri (PN) Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Peristiwa tersebut merupakan satu kelalaian dari produsen Teh Botol Sosro yang menjual minuman kadaluarsa tanpa mencantumkan batas waktu konsumsinya,” cerita Dallas saat melakukan konsultasi di PN Cibadak kala itu.

Manager HRD PT Shinhwa Bumi itu merupakan korban dugaan keracunan minuman Teh Botol Sosro. Bahkan Dalas sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Betha Medika Sukabumi.

Dugaan keracunan itu berawal ketika Dallas meminum Teh Botol Sosro yang dibelinya di sebuah kantin berdekatan dengan kantornya, di kawasan Desa Benda Kecamatan Cicurug.

Setelah meminum teh botol tersebut, Dallas mengalami mual-mual, pusing serta mengalami kejang di sekujur tubuhnya. Ia mengaku sempat melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian dan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk diselesaikan secara kekeluargaan dan dengan baik-baik, namun tidak ditemukan kesepakatan.

“Karena tidak ada itikad baik dari pihak PT Sinar Sosro, maka saya akan melanjutkan kasus ini kepada PN Cibadak untuk menggugat Teh Botol Sosro sebesar Rp1 miliar,” terang Dallas didampingi kuasa hukumnya Tatang S Wiriamihardja.

Kuasa hukum korban, Tatang S Wiriamihardja mengatakan, pihak PT Sinar Sosro juga harus meminta maaf kepada korban melalui media massa baik cetak maupun elektronik sebagai bukti keseriusan untuk menyelesaikan kasus ini.

Saat itu Pimpinan PT Sinar Sosro Indonesia Cabang Sukabumi, Joko Purnomo mengaku pihaknya telah menerima adanya aduan korban yang diduga keracunan tersebut, bahkan pihaknya sudah melakukan penawaran dengan mengganti uang berobat kepada korban.

“Kami langsung mendatangi korban dan kami menawarkan kepada korban uang pengganti berobat, namun ditolaknya. Kami siap menghadapi segala proses hukum, kalau memang produk kami mengakibatkan keracunan,” katanya.

Menurut dia, produknya biasa berlaku satu tahun dan selama tiga bulan sebelum habis masa kadaluwarsanya sudah ditarik, sehingga pihaknya juga mempertanyakan produk yang diduga kadaluarsa tersebut.

Menengok agak jauh ke belakang, pada bulan Maret 2009 Babe Lawyer Club mengugat PT Sinar Sosro Cabang Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel) ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pangkalpinang karena dalam produk minuman Teh Botol Sosro terdapat butiran kotoran berwarna kekuningan.

Saat itu Ketua Babe Lawyer Club, Adiystia Sunggara di Pangkalpinang, mengatakan, atas laporan konsumen, Yudho Marhoed, pihaknya mensomasi PT Sinar Sosro Cabang Pangkalpinang pada 30 Maret 2009 karena produk Teh Botol Sosro yang beredar dan dikonsumsi masyarakat tercemar dan rasanya agak pahit.

Ia mengatakan, laporan ini merupakan salah satu bentuk perlindungan konsumen terhadap produk yang tidak lagi dikonsumsi sebagai diatur dalam Pasal 8 Jo Pasal 62 ayat (1) UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana denda dua miliar rupiah.

“Pelaku usaha dilarang memproduksi, memperdagangkan barang jasa yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang itu,” ujarnya.

Oleh karenanya, pelaku usaha yang memperdagangkan barang dan jasa tersebut wajib menariknya dari peredaran.

Ia menjelaskan, kejadian berawal pada Jumat (27 Maret 2009) sekitar pukul 18.30 WIB, pelapor beserta keluarga makan malam di kafe Pangkalpinang. Saat meminum Teh Botol Sosro dengan pipet sedotan terasa ada yang menyangkut di saluran pipet. Ternyata setelah dilihat di dalam botol Teh Botol Sosro itu terdapat kotoran dan warnanya agak kekuningan (tidak seperti warna teh botol sosro biasanya).

Terhadap kejadian itu pelapor menanyakan kepada pelayan rumah makan tersebut. Dan mereka bersedia mengganti dengan Teh Botol Sosro yang baru. Namun persoalannya tentu tidak semudah itu, kemudian pelapor meminta untuk melihat Teh Botol Sosro yang lain dan ternyata ada satu botol Teh Botol Sosro yang serupa seperti yang diminum anak pelapor. Pelapor membeli teh botol tersebut dengan harga seperti biasanya.

Menurut Adiystia Sunggara, dari informasi pelayan rumah makan, ternyata kalau ada konsumen yang komplain terhadap minuman dalam botol maka mereka cukup hanya mengganti dengan minuman yang baru. “Artinya peristiwa ini telah banyak terjadi dan dialami oleh masyarakat yang notabene adalah para konsumen,” katanya.

Dan kejadian yang baru saja dialami siswa SDN III dan IV Kepatihan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, bukan kejadian remeh temeh. Apalagi sudah disebutkan pihak RSUD dr Iskak bahwa kasus ini masuk kategori kejadian luar biasa. Karena itu aparat penegak hukum harus menangani masalah ini dengan serius. Tidak cukup masalah kelar dengan duduk satu meja dan korban diberi ganti rugi, melainkan harus ada pihak dari Teh Botol Sosro yang mau bertanggungjawab. Sehingga ke depannya, kejadian serupa tidak terulang kembali. Bagaimana juga, kelalaian produsen selalu menjadi bencana bagi konsumen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here