Puncak Kemarau, Lima Kabupaten Ditetapkan Darurat Kekeringan

0
57
Dirancang sejak era orde baru, Waduk Nipah di Sampang akhirnya bisa dituntaskan dan difungsikan tahun ini. Proyek ini cukup berperan mengurangi dampak kekeringan di Sampang dan sekitarnya.

Nusantara.news, Surabaya – Surabaya – Puncak musim kemarau yang terjadi saat ini, membuat enam kabupaten di Jawa Timur ditetapkan sebagai kawasan darurat kekeringan. Status ini ditetapkan Gubernur Soekarwo usai menerima laporan resmi dari enam bupati di ruangan dinasnya, Rabu (13/9/2017).

Instruksi awal yang diberikan Pakde Karwo, panggilan akrabnya, mengirim pasokan air bersih untuk kebutuhan warga. “Kepada enam daerah yang mengalami kekeringan akan segera dikirim air bersih untuk membantu masyarakat setempat,” terangnya kepada media.

Dari enam kabupaten yang sudah melaporkan darurat kekeringan, lima di antaranya ditetapkan darurat kekeringan. Yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, serta Kabupaten Probolinggo. Namun jumlah itu kemungkinan masih bisa bertambah.

Karenanya, Pakde Karwo mengimbau kepala daerah yang wilayahnya terdampak segera melapor ke provinsi untuk mendapatkan bantuan pasokan air bersih. “Ini juga sesuai instruksi Presiden Joko Widodo yang juga telah mengingatkan agar kepala daerah segera melakukan pengecekan wilayahnya terkait kekeringan,” sebutnya.

Data di Pemprov Jawa Timur, dari 38 kabupaten/kota, sampai saat ini terdapat 422 desa di 27 kabupaten mengalami kekeringan. Dari jumlah itu, 183 desa di antaranya posisinya di atas pegunungan sehingga harus dilakukan pengiriman air ke dalam penampungan air. “Karena lokasinya di atas maka rekayasa teknis seperti pembuatan sumur bor, pipanisasi tidak dapat dilakukan. Sedangkan, sisanya masih bisa dilakukan rekayasa teknis,” katanya.

Menurut dia, apabila tidak segera diberikan bantuan maka menjadi hal krusial, khususnya di daerah pantai selatan dan Madura. Sementara itu, berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, dari 8.501 jumlah desa di Jatim, pada 2015 terdapat 541 desa mengalami kekeringan.

Dari jumlah desa kering tersebut telah dilakukan rekayasa teknologi bagi 119 desa sehingga tahun-tahun berikutnya membantu mengantisipasi kekeringan. “Pada 2017 kekeringan hanya terjadi pada 422 desa, bahkan 2016 tidak terjadi kekeringan di Jatim,” kata pejabat yang sudah dua periode terpilih mempimpin Jawa Timur ini.

Sayangnya, bencana ini masih terjadi di beberapa daerah karena penanganan yang belum tersusun sistematis. Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan penanganan jangka pendek untuk kemarau memang masih sebatas mengirim pasokan air ke daerah terdampak. “Setidaknya hingga musim hujan nanti,” cetusnya di Jakarta.

Namun setidaknya, sudah ada itikad dari pemerintah melalui berbagai instansi untuk mengantisipasi dampak meluas di masa mendatang. “Kementerian PUPERA, Pemda dan Kementerian ESDM sudah banyak membangun sumur bor, embung dan bak penampungan air. Bantuan BNPB untuk pembangunan sumur bor, embung dan bak penampungan air ternyata telah mampu mengurangi dampak kekeringan di berbagai daerah,” bebernya.

Hal ini juga ditunjang pembangunan konservasi tanah dan air melalui pemanenan hujan dengan sumur resapan, biopori, rolak dan program lingkungan lainnya yang justru mendapat respon luas masyarakat umum. “Tetapi, kita memang perlu peningkatan dan perbaikan kualitas lingkungan, penghijauan, pengelolaan daerah aliran sungai terpadu. Termasuk pembangunan bendung dan waduk, revitalisasi embung dan saluran irigasi, konservasi tanah dan air,” papar pria yang karib disapa Mbah Topo tersebut.

Pemerintah, kata dia, saat ini terus menyelesaikan pembangunan bendungan dengan target pembangunan 65 bendungan selama 2015-2019. Di antara target itu, sejumlah bendungan sudah dirampungkan hingga akhir 2016. Dua di antaranya ada di Jawa Timur. Yakni Bendungan Bajulmati di Malang dan Bendungan Nipah di Madura.

Hingga akhir 2019, pemerintah menargetkan pembangunan 29 bendungan selesai sehingga menambah tampungan air total sebanyak dua miliar meter kubik di berbagai daerah. Sekarang tinggal menunggu konsistensi upaya penanganan kekeringan yang butuh dukungan bersama. Sehingga warga yang terdampak kekeringan, ironisnya didominasi di pedesaan, bisa diberi solusi permanen agar tidak terulang setiap memasuki musim kemarau. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here