Pustaka Tebuireng Luncurkan Buku Memoar Tokoh NU yang Terlupakan

0
124

Nusantara.news, Surabaya – Sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, Nahdlatul Ulama dipenuhi pemikir-pemikir yang berangkat dari kultur tradisional dalam mendukung gerakan kebangsaan yang bernafaskan Islam. Namun tak semua ulama tersebut dikenal luas.

Dinamika politik termasuk yang terjadi akhir-akhir ini membuat NU terombang-ambing kepentingan. Terkadang, suara elite struktural PBNU berseberangan dengan beberapa pemikiran tokoh nahdliyin yang telah berpulang ke Rahmatullah. Ini yang melatari Pustaka Tebuireng menerbitkan buku berjudul Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU yang Terlupakan, di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (11/4/2017).

Dalam rilis ke media, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid yang hadir dalam peluncuran buku tersebut menuturkan, tokoh-tokoh yang diulas dalam buku setebal 500 halaman itu tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas. “Mereka adalah Subhan ZE, Mahbub Djunaedi, Zamroni, Asmah Syahruni, Prof. Dr. M. Tolchah Mansoer dan dr Fahmi Dja’far Saifuddin,” katanya.

Menurut mantan Wakil Ketua Komnas HAM tersebut, keenam tokoh itu berjuang di dalam NU untuk menghidupkan NU. “Bukan malah mencari hidup di NU. Sekarang banyak yang tidak membesarkan NU, malah mengecilkan NU,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Sholah ini.

Rektor UINSA Prof. Dr. H. Abd A’la, M.Ag dalam sambutannya mengatakan, buku terbitan Pustaka Tebuireng ini hadir di saat yang tepat. Menurutnya, tokoh-tokoh yang diulas dalam buku ini patut dijadikan inspirasi bagi generasi sekarang, khususnya kalangan NU dan pegiat organisasi kemahasiswaan. “Semua tokoh itu adalah orang-orang yang ikhlas dalam membangun NU dan bangsa,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nyai Hj. Farida Salahuddin Wahid yang hadir mendampingi Gus Sholah “ditodong” menjadi narasumber dadakan oleh Abd. A’la. Adik kandung dr Fahmi D. Saifuddin itu menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan beberapa tokoh yang diulas dalam buku itu.

Nyai Farida juga menuturkan bagaimana ibu-ibu Muslimat NU di era 1960-1970-an seperti Nyai Asmah Syahroni, Nyai Saifuddin Zuhri, dan Nyai Solichah Wahid berjuang memberdayakan kaum perempuan melalui organisasi wanita NU itu. “Saat berdiskusi, mereka bisa berdebat hingga menggebrak meja. Tapi, ketika keluar ruangan, mereka kembali menjadi sahabat, kawan, dan teman berjuang,” ungkap kakak kandung Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini.

Sementara itu, Wakil Direktur Program Pascasarjana UINSA Surabaya Masdar Hilmy juga mengapresasi buku terbitan Pustaka Tebuireng ini, karena tidak hanya menjelaskan kebaikan dan peran positif tokoh-tokoh yang diulas, tapi juga menceritakan sisi lain dalam kehidupan mereka.

“Generasi sekarang harusnya mampu keluar untuk melawan risiko (seperti tokoh mahasiswa era Mahbub Djunaedi), bukan malah memanjakan diri dengan perkembangan teknologi yang semakin masif,” ujarnya.

Posisi elit struktural NU saat ini memang mesra dengan pemerintah. Namun melihat perkembangan yang terjadi, kemesraan ini jangan sampai jadi alasan rumah besar umat muslim di Nusantara ini mengabaikan dampak pusaran konflik global manfaatkan oknum-oknum komprador. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here