Krisis Qatar

Qatar-AS Bikin MoU Anti-teror, Saudi Cs. Tak Acuh

0
69
Menlu AS Rex Tillerson di Doha, Qatar 11 Juli 2017. Foto: Qatar News Agency via AP

Nusantara.news, Doha – Krisis diplomatik kawasan negara-negara Arab Teluk masih terus berlanjut, tanpa bisa diperkirakan kapan berakhir. Upaya terbaru, Qatar ingin membuktikan bahwa negaranya anti terhadap terhadap terorisme dengan membuat MoU atau kerja sama dengan Amerika Serikat tentang anti-terorisme. Qatar dan AS berharap, dengan begitu negara-negara Teluk tetangg Qatar, terutama Arab Saudi, percaya upaya sungguh-sungguh Qatar menolak terorisme di kawasan itu. Tapi, apa yang terjadi? Arab Saudi Cs. (Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir) tetap tak acuh. Mereka tidak terkesan, menganggap MoU itu “pepesan kosong” belaka.

Melalui Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, yang juga mantan petinggi ExxonMobil, memiliki kedekatan dengan para pengusaha migas di Qatar, pemerintah Qatar menandatangani kesepakatan anti-teror untuk tujuan mengakhiri pertikaian diplomatik yang telah berlangsung sejak awal Juni lalu.

Rex Tillerson telah mengumumkan kesepakatan dengan Qatar tersebut yang dimaksudkan menargetkan pembiayaan kelompok ekstremis dan teroris. Qatar telah dijauhi oleh para tetangganya salah satunya karena tuduhan mendukung gerakan terorisme, meskipun Qatar sendiri telah melakukan bantahan berkali-kali.

Sebagaimana dilansir dari AP, Tillerson, yang berada di Timur Tengah dalam upaya untuk membantu mengatasi krisis diplomatik Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir, mengatakan pada hari Selasa (11/7) bahwa pemerintah Qatar telah memahami akar masalah perselisihan yang sedang berlangsung.

Tillerson mengklaim, kerja sama untuk upaya membatasi pendanaan terorisme sebetulnya telah sejak satu tahun belakangan, Menteri Luar Negeri AS ini juga mengatakan kesepakatan yang sama dapat ditandatangani oleh negara-negara Arab lainnya sebagai langkah untuk mengakhiri kebuntuan diplomatik yang terjadi hingga saat ini.

“Memorandum tersebut memaparkan serangkaian langkah yang akan diambil kedua negara dalam beberapa bulan dan tahun mendatang untuk memutus dan menonaktifkan arus pendanaan teror dan mengintensifkan kegiatan kontra-terorisme secara global,” kata Tillerson dalam sebuah konferensi pers bersama di Doha dengan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed Bin Abdulrahman Al-Thani.

Tillerson yang mengemban misi dari pemerintah AS untuk menuntaskan krisis diplomatik di Arab itu  mengatakan, kesepakatan baru tersebut dibuat berdasarkan keputusan yang telah dibuat pada pertemuan puncak di Riyadh bulan Mei lalu, bersamaan kunjungan Presiden AS Donald Trump, untuk “membumi-hanguskan” terorisme dari muka bumi, sama sekali tidak terkait dengan krisis Qatar.

Arab Saudi Cs. tidak terkesan

Namun, meskipun Washington dan Doha memuji kesepakatan kerja sama itu, empat tetangga Qatar, Arab Saudi Cs. menggambarkan MoU dengan AS sebagai “tidak mencukupi”. Negara-negara itu malah memperingatkan, komitmen yang dibuat oleh otoritas Qatar tersebut tidak dapat dipercaya.

Hal ini tampak dari pernyataan bersama yang dimuat oleh kantor berita negara Saudi SPA yang mengatakan, keempat negara Teluk atau GCC akan dengan sangat hati-hati memantau keseriusan Qatar dalam memerangi segala bentuk pembiayaan, mendukung dan melindungi terorisme.

Sejak 5 Juni 2017, negara-negara Arab selain Kuwait yang terdiri dari Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, ditambah Yaman, Libya, dan Maladewa memutus hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar, mereka, yang tentu atas provokasi Arab Saudi, menuduh Qatar mendanai gerakan ekstremisme serta menganggap “Arab Kecil” itu terlalu mesra dengan musuh regional, Iran.

Mereka kemudian memberi batas waktu kepada pemerintah Doha untuk memenuhi 13 tuntutan, termasuk menurunkan hubungan dengan Teheran, penutupan penyiar berita Al Jazeera dan penutupan pangkalan militer Turki di wilayah Qatar.

Para negara tetangga Qatar tersebut juga menuding 59 tokoh dan 12 kelompok yang masuk daftar terorisme mereka memiliki hubungan dengan Qatar. Jelas, Qatar menolak tuduhan tersebut dan menolak memenuhi tuntutan mereka, yang menyebabkan ancaman tindakan sanksi tambahan berikutnya.

Pada hari Selasa (11/7), Saudi Cs. menegaskan bahwa sanksi mereka akan berlanjut sampai Doha berkomitmen untuk secara komprehensif memenuhi tuntutan mereka secara adil, termasuk dalam hal  terorisme dan membangun stabilitas dan keamanan di wilayah ini.

Tillerson juga rencanya akan bertemu dengan menteri luar negeri para negeri tetangga Qatar pada hari berikutnya di Jeddah sebagai bagian upaya Washington dalam mendorong untuk mengakhiri krisis diplomatik yang telah berlangsung sebulan lebih itu.

Jika melihat gelagat, ketika Qatar sudah membantah segala tuduhan tentang kontribusinya terhadap terorisme, menunjukkan keseriusannya dengan menandatangani kerja sama anti-terorisme dengan AS, tapi Saudi Cs. belum juga puas, lalu pertanyannya apa yang diinginkan Arab Saudi terhadap Qatar?

Padahal, terkait dugaan kontribusi bagi gerakan ekstremis, nama Arab Saudi juga tidak bersih-bersih amat. Misalnya, menurut sebuah penelitan terbaru, dilakukan seorang wartawan senior dan pengamat politik di Inggris, Douglas Murray, menyebut dalam laporan terbaru mereka berjudul “Ekstremisme Islam yang Didanai Asing di Inggris”, sebagaimana dilaporkan Independent, menyebut beberapa negara Teluk dan Iran bertanggung jawab atas sebagian besar pendanaan asing untuk ekstremisme di Inggris. Khusus Arab Saudi, disebut telah menghabiskan jutaan dolar untuk “mengekspor” paham konservatif Wahabi-nya kepada sejumlah komunitas Muslim di Barat sejak tahun 1960-an.

Kalau penelitian ini benar, artinya jika yang dipermasalahkan oleh Arab Saudi atas Qatar adalah kontribusi bagi gerakan ekstremis atau bahkan teroris, toh Arab Saudi juga setali tiga uang. Jadi, pasti ada kepentingan lain Arab Saudi atas tindakan boikotnya terhadap Qatar. Mungkin juga terkait rencana ekonomi yang dicanangkan Arab Saudi, dimana pada tahun 2030 negara itu tidak bisa lagi mengandalkan minyak yang cadangannya semakin menipis.

Saudi mungkin saja menginginkan model pertumbuhan ekonomi serupa Qatar yang dipandang berhasil mendatangkan banyak investasi dari negara-negara luar terutama Barat untuk membangun bisnis di berbagai bidang, tidak hanya mengandalkan migas. Qatar, bagi Saudi mungkin sudah menyilaukan karena ekonominya yang makin berkilau-kilau. Sementara, sebagai saudara tua Saudi tentu ingin menjadi yang paling menarik di kawasan itu, sehingga kilauan cahaya Qatar harus sedikit diredupkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here