Raden Saleh, Maestro Pelukis yang Menipu Eropa

0
430

Nusantara.news, Jakarta –Harus diakui, universalitas dunia seni “nyaris’ tak bisa dibendung oleh sekat-sekat kehidupan sosial lainnya. Sebab, dunia seni melewati segala rintangan yang menghalanginya. Ini pulalah yang terjadi pada diri Raden Saleh kelahiran tanah Jawa, yang memiliki bakat melukis sejak usia 10 tahun sehingga dia bisa bersekolah di Belanda, sebuah negeri yang sedang menggaruk kekayaan Nusantara.

Raden Saleh yang lengkapnya bernama  Raden Saleh Sjarif Boestaman kelahiran 1807 dan wafat pada 1880 ini, sejak kecil memang memiliki kegemaran menggambar. Bakatnya ini menonjol selagi masih bersekolah di Sekolah Rakyat (Volks-School). Bukan hanya menggambar, ternyata, Raden Saleh mampu membawa dirinya ke tengah pergaulan di lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elit Belanda saat itu.  Oleh karena itu pula, seorang kenalannya yang bernama Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus sebagai Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan sekitar menilai bahwa Raden Saleh memang pantas untuk mendapatkan ikatan dinas di departemennya.

Seperti gayung bersambut, kebetulan di instansi yang dikepalai Caspar Reinwardt itu terdapat pelukis keturunan Belgia bernama A.A.J. Payen yang secara khusus didatangkan dari Belanda untuk memindahkan pemandangan Pulau Jawa nan indah itu ke kanvasnya.  Hasil lukisan itulah yang menghiasi kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen sendiri sangat tertarik setelah melihat bakat Raden Saleh yang luar biasa tersebut dan segera ia berinisiatif membimbingnya.

Payen benar-benar terpesona dengan hasil lukisan Raden Saleh  ketika ia diminta menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi. Dari sinilah jalan terbentang luas bagi Raden Saleh untuk mengenyam pendidikan ke Belanda. Ini terjadi karena Payen sangat terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, oleh karena itu dia mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda.

Usulan ini mendapat sambutan hangat dari Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. Van der Capellen (1819-1826) dan memerintahkan untuk mengirim anak didik seni Payenk ke Belanda, setelah menyaksikan sendiri karya Raden Saleh.

A.A.J. Payen sendiri adalah mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda. Kendati dia mahaguru, tetapi namanya kurang menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda. Namun demikian, Payen-lah yang memiliki andil bagi kemajuan Raden Saleh, terutama di dalam belajar teknik pembuatan seni lukis Barat dengan memakai cat minyak. Mahaguru ini pula yang sering memboyong Raden Saleh di dalam perjalanan dinasnya keliling Jawa mencari model lanskap untuk lukisannya.

Pengiriman Raden Saleh ke negeri Belanda pada 1829,  yang disponsor oleh Capellen adalah waktu yang nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock.  Selain itu, di balik sponsor memberangkatkan Raden Saleh mempunyai misi lain.

Hal ini terungkap dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen yang mengatakan, selama perjalanan ke Belanda, Raden Saleh harus mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge mengenai adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Dan ini cukup menjadi bukti, bahwa hal ini pun merupakan kecakapan lain dari sosok seorang Raden Saleh.

Semasa belajar di Belanda, ketrampilan Raden Saleh muda pun semakin berkembang pesat. Hal ini pula yang menjadikan dirinya dianggap saingan berat bagi sesame pelukis muda Belanda yang tengah mendalami lukisan saat itu. Pernah para pelukis muda Belanda melukis bunga yang mirip sekali dengan aslinya, dan diperlihatkan kepada Raden Saleh karena beberapa kumbang dan kupu-kupu hingga di atas bunga lukisan itu.

Setelah peristiwa itu, mereka mengejek dan mencemooh Raden Saleh. Karena merasa dihina dan hatinya menjadi panas, diam-diam diam-diam Raden Saleh pun akhirnya menghilangkan diri.

Berhari-hari anak berdarah biru itu tidak juga menampakkan dirinya di hadapan teman-temannya. Kejadian peristiwa penghinaan tempo hari itu menjadi alasan kuat bagi teman-temannya menduga bahwa pelukis asal Pulau Jawa itu berbuat nekat karena merasa putus asa.

Lalu, beberapa temannya itu pun segera berkunjung ke rumah Raden Saleh yang pintunya terkunci dari dalam. Diketok-ketok pun tak ada suara dari dalam. Mereka pun menjadi khawatir dan bertambah yakin terjadi apa-apa terhadap diri Raden Saleh.

Pintu rumah pun didobrak, dan ketika terbuka, alangkah tercengangnya mereka menyaksikan sesosok mayat tergeletak di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Mereka pun saling menjerit menyaksikan hal tersebut. Mereka tidak percaya terhadap Raden Saleh, mengapa senekat itu mengambil tindakan mengakhiri hidupnya hanya karena diejek dan dihina. Mereka tidak habis pikir bercampur galau menyaksikan sesosok mayat temannya sesama pelukis bersimbah darah di lantai.

Setelah peristiwa itu, berhari-hari Raden Saleh tak masuk ke sekolah. Hal itu tentu saja membuat teman-temannya cemas. Kekhawatiran teman-temannya sangat beralasan mengingat sebelumnya mereka pernah mengejek dan menghina Raden Saleh. Dan mereka pun menduga-duga, karena putus asa, bisa jadi Raden Saleh bunuh diri karena putus asa.

Di tengah suasana kepanikan itu, tiba-tiba Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. Seketika itu pula, teman-teman pelukis muda Raden Saleh terkesima sesaat, bagaimana mungkin ada dua Raden Saleh dalam waktu yang bersamaan di dalam satu tempat? Lantas, apa yang dikatakan Raden Saleh kepada mereka?

“Lukisan yang  kalian banggakan hanya bisa  mengelabui kumbang dan kupu-kupu, lalu bagaimana dengan lukisan saya yang mampu menipu manusia seperti kalian?” kata Raden Saleh diiringi senyumnya, sehingga  membuat para pelukis muda Belanda pun pergi.

Perlahan namun pasti, Raden Saleh pun semakin mantap memilih seni lukis sebagai  jalan hidupnya.  Namanya pun saat itu mulai merayap naik dan menjadi  buah bibir publik Belanda di mana-mana, apalagi setelah ia berkesempatan menyelenggarakan pameran lukisannya di Den Haag dan Amsterdam.

Mereka benar-benar terperangah dibuatnya, karena memang tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ada seorang pelukis muda dari negeri yang dijajahnya ternyata menguasai teknik dari watak seni lukis dunia Barat.

Ada satu hal lain lagi yang sempat mencengangkan dari hasil lukisan Raden Saleh.Konon, ketika dia menempati sebuah kamar rumah dari ‘ayah angkatnya’, Raden Saleh pernah dimarahi oleh tuan rumah. Gara-garanya, si tuan rumah yang selalu apik terhadap kebersihan rumahnya, tiba-tiba ketika membuka pintu rumahnya, ia dikejutkan oleh seonggok “kotoran manusia” persis berada di lantai bawah anak tangga.

Dalam pikiran si tuan rumah, perbuatan siapa lagi ini kalau bukannya si Raden Saleh. Bisa dibayangkan marahnya, melihat lantai berdebu saja tidak senang, apalagi ada onggokan ‘kotoran manusia’.

Raden Saleh pun dipanggil menghadap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi, ketika diraba oleh Raden Saleh ternyata membuat si tuan rumah tercengang karena onggokan kotoran manusia itu hanyalah sebuah lukisan yang sengaja dibuat Raden Saleh. Melihat kenyataan itu, sang tuan rumah pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Peristiwa di atas hanyalah segelintir beberapa pengalaman menarik dari Raden Saleh yang merupakan cerminan kemampuan olah seninya. Selama lima tahun pertama selama di Belanda, Raden Saleh belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema-tema pemandangan dari Andries Schelfhout.

Alasannya, karena karya seni mereka selama itu memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda. Di samping itu, dua tahun pertama di sana, dimanfaatkan pula oleh Raden Saleh  untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Raden Saleh senang belajar seni lukis dengan Krusseman karena dia adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.

Di kemudian hari, wawasan seni Raden Saleh semakin berkembang seiring kekaguman dan pengaruh pada tokoh romantisme seperti Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1862) yang merupakan pelukis legendaris Perancis. Pengembaraannya ke berbagai tempat demi menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari, Raden Saleh pun menekuni dunia lukisan hewan yang terkombinasikan dengan sifat agresif manusia.

Ketika terjadi revolusi Februari 1848 di Paris, Raden saleh menjadi saksi mata pada peristiwa itu yang akhirnya memengaruhi dirinya. Ia bersama pelukis Perancis kenamaan, Horace Vermet akhirnya pergi ke Aljazair untuk tinggal beberapa bulan pada 1846. Di kawasan ini pula yang melahirkan inspirasi Raden Saleh untuk melukis kehidupan satwa pada pasir.

Dari situlah maka lahir lukisan-lukisan besar yang bertema perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Mungkin saja kita pernah melihat salah satu lukisannya yang menceritakan sesosok penunggang kuda sedang memainkan tombaknya menaklukan singa buas yang hendak menerkamnya.

Negeri lainnya yang pernah dikunjungi Raden Saleh adalah Austria dan Italia. Pengembaraannya di Eropa berakhir pada 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Di zaman kolonial Belanda pada abad ke-19 memang belum ada yang lahir seniman pelukis sekaliber Raden Saleh. Maka tidaklah heran munculnya seorang anak berbakat yang nama lengkapnya adalah Pangeran Raden Saleh Syarif Bustaman segera saja menjadi sebutan di berbagai pelosokk Eropa.

Adapun darah biru yang mengalir di tubuhnya berasal dari keluarga Tumenggung Kyai Ngabehi Kertoboso Bustaman, keluarga Bupati dan Bangsawan di tanah Jawa memiliki garis darah langsung dengan Sultan dan Kerajaan Mataram. Sosok sang  ibu yang bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, yang tinggal di daerah Terboyo dekat Semarang, adalah anak dari Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja.

Raden Saleh merupakan pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempelopori seni modern Indonesia di zaman kolonial Belanda. maka, jelaslah mengapa selera seni lukisnya  bernuansa aliran Romantisme Eropa populer yang dipadukan dengan elemen-elemen kental berlatar belakang etnik Jawa.

Kepulangan Raden Saleh ke Hindia Belanda setelah 20 tahun menetap di Eropa, mengantarkan dirinya menjadi  konservator lukisan pemerintahan kolonial dan mengerjakan sejumlah portret untuk keluarga kerajaan Jawa, sambil terus melukis pemandangan.

Tetapi, di sini, dia selalu berkeluh kesah merasa tidak nyaman karena di tanah Hindia Belanda banyak orang hanya memperbincangkan tentang “gula-kopi, kopi-gula”. Keluh kesahnya itu terungkap dari sebuah surat.

Di tanah Hindia Belanda, Raden Saleh menemukan lokasi yang cocok untuk membangun sebuah rumah, letaknya di sekitar Cikini. Bangunan rumahnya itu terinspirasi pada bentuk istana Callenberg di Jerman saat ini pernah bermukim di sana.

Rumah dengan taman yang luas itu, sebagian besar lahannya di kemudian hari dihibahkan pula untuk kebun binatang dan taman umum pada 1862. Lokasi kebun binatang itulah yang sekarang kemudian dibangun pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki pada 1960. Sedangkan rumah model istananya hingga kini berdiri kokoh menjadi Rumah Sakit PGI Cikini.

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here