Radikalisme Bisa Jadi Ancaman Investasi di Indonesia

0
271

Nusantara.news, Jakarta – Ancaman radikalisme, terutama yang terjadi dalam perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan dikhawatirkan memicu perpecahan dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak salah, jika sebagian pemilik modal mulai mengkategorikan Indonesia sebagai negara berisiko. Tidak mengherankan jika pelaku usaha mulai mempertimbangkan membeli country risk insurance. Namun, kabarnya Cina yang over returns malah bersemangat menebar modalnya, termasuk ke Indonesia.

Chairman Inacham (Indonesia Chamber of E-Commerce in China), Liky Sutikno dalam ulasannya di Bisnis Indonesia, menguraikan pihaknya tetap optimistis prospek Indonesia jangka panjang akan lebih baik. Disebutkan, sampai saat ini investasi Cina di Indonesia naik tiga kali lipat sepanjang periode 2015-2016.

Investasi itu berasal dari hijrahnya sejumlah perusahaan Cina yang memang sudah berada di Indonesia.Potensi alokasi dana investasi dari pemerintah Cina melalui perusahaan negara untuk disebar ke Indonesia mencapai US$50 miliar. Sementara perusahaan swasta Cina lainnya masih menunggu kesempatan yang tepat masuk ke Indonesia. Namun demikian, gejala memanasnya pengaruh radikalisme juga menjadi perhatian bagi perusahaan asing tersebut.

“Kalau yang dari swasta lebih dari itu. Sekarang yang alokasi diterima Indonesia tidak sampai 10 persen,”  kata Liky Sutikno di Jakarta, Senin (23/12017).

Memang, tingkat resiko investasi di suatu negara terletak pada banyak faktor. Namun, setidaknya terdapat 5 faktor resiko investasi di Indonesia berdasarkan berbagai asumsi dari sejumlah lembaga pemeringkat, yaitu:

  1. Kesiapan infrastruktur
  2. Regulasi dan kepastian hukum
  3. Bencana alam
  4. Kestabilan sistem demokrasi
  5. Persaingan harga yang kompetitif (Economy Cost)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here