Ragukan Teroris Penyanyi Muslim ini Keluar dari TV Perancis

0
292
Penyanyi muslimat Mennel Ibtissem mundur dari program penyaringan bakat the Voice yang ditayangkan oleh TV Perancis setelah pernyataannya tentang teroris di media sosial menuai banyak kecaman

Nusantara.news, Paris – Karena terpeleset memberikan ulasan tentang terorisme di media sosial, Mennel Ibtissem, seorang penyanyi muslimat yang karirnya sedang melejit dikeluarkan dari program televisi di Perancis. Pernyataannya yang meragukan identitas pelaku terorisme di Nice, Perancis, di hari “Bastille Day” tahun 2016 yang menewaskan 86 orang itu menuai “banjir” kecaman dari berbagai kalangan.

Padahal sebelumnya, penampilan Ibtissem yang berusia 22 tahun itu  sempat viral di internet setelah penempilannya di acara “the Voice”. Video klipnya yang membawakan lagu “Hallelujah” karya Leonard Cohen telah viral  – ditonton 900 ribu kali di YouTube. Tapi akibat ulasannya di media sosial yang sekarang sudah dihapus itu kini dia dikeluarkan dari kompetisi “the Voice” – semacam program pencarian bakat di televisi.

Penampilan Mennel Ibtissem di TF-1 Perancis yang viral di YouTube

Lewat tulisan di media sosial, Ibtissem meragukan identitas teroris yang mengguncang kota Nice. Media di Perancis melaporkan – dalam sebuah posting yang mengulas serangan di Nice – dengan jumlah 86 terbunuh di “Bastille Day”, dengan enteng Ibtissem menulis, “Ini telah menjadi rutinitas, satu serangan dalam satu pekan!”

Ibtissem juga dinilai nyinyir lewat tulisannya di media sosial yang terjemahan bahasa Indonesianya begini, “Dan untuk selalu tetap setia, ‘teroris’ ini (anehnya) membawa surat identitas yang lengkap bersamanya. Memang benar, ketika anda merencanakan tindakan kotor, Anda tidak lupa membawa surat-surat Anda.”

Pesan-pesan yang dikupas dalam reportase sebuah media di Perancis juga termasuk taggar #PrenezNousPourDesCons yang dalam bahasa Indonesia berarti membawa kita untuk orang idiot. Taggar ini dianggap menghina para korban terorisme.

Rupanya teroris yang diragukan Ibtissem itu seorang sopir truk yang diidentifikasikan sebagai pria asal Tunisia berusia 31 tahun. Satu pekan setelah kejadian pria asal Tunisia itu menyelinap ke sebuah gereja di Saint-Etienne-du-Rouvray dan membunuh seorang imam tua gereja di sana. Tapi Ibtissem mengulas dengan pernyataan, “Teror sesungguhnya adalah pemerintahan kita.”

Terang saja ulasannya itu memicu badai kecaman di media sosial – beberapa pemilik akun menyebut ini adalah penghinaan terhadap korban serangan Nice. Keluarga korban yang membentuk suatu asosiasi mengatakan tidak terima dengan tulisan Ibtissem di media sosial.

Bukan saja pribadi Mennel Ibtissem yang diserang, tekanan juga dialami penyiar TF-1 yang menayangkan the Voice dan mendesak agar Ibtissem disingkirkan dari kompetisi. Tapi tidak sedikit juga yang membelanya, bahwa dia ditargetkan keluar dari kompetisi secara tidak adil hanya karena dia seorang muslim.

Setelah ulasannya yang menuai kontroversi di media sosial diberitakan oleh media mainstream di Perancis, Ibtissem meminta maaf, dan dengan tegas dirinya bersikap mengutuk terorisme. Namun pada Jumat (9/2) kemarin Ibtissem mengumumkan keluar dari program “the Voice” yang sempat melambungkan namanya itu.

Lewat sebuah video yang diposting di Facebook dalam bahasa Inggris dia berkata, “Saya tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun, dan munculnya anggapan bahwa saya melakukan hal itu secara sengaja itu sungguh menyakitkan.”

Meskipun  tidak lagi menjadi peserta dalam “the Voice”, lanjut Ibtissem, tapi dirinya akan terus menyebarkan pesan tentang perdamaian dan toleransi, jauh dari semua bentuk fanatisme. Video yang ditayangkan lewat siaran langsung di Facebook dalam sekejap ditonton lebih dari 500 ribu kali di Perancis dengan ratusan pengguna mengungkapkan dukungan padanya.

5 Bahaya Media Sosial

Media sosial dalam banyak hal membuat hidup semakin mudah. Rapat yang terancam batal karena peserta terjebak macet bisa diatasi dengan video conference atau setidaknya dengan membuat  WhatsApp Group (WAG). Keluarga atau teman sekolah yang tercerai berai puluhan tahun bisa dipertemukan oleh media sosial.

Namun tidak sedikit pula bahaya yang dihadirkan oleh media sosial. Berikut ini ada 5 bahaya yang perlu diantisipasi dengan adanya media sosial. Mennel Ibtissem mungkin tidak bermaksud melukai siapa pun, tapi karena pikirannya menyebar luas tiba-tiba menjadi persoalan ketika pernyataannya mengusik kenyamanan banyak orang.

Bahaya yang pertama, media sosial adalah dunia baru. Sepuluh tahun yang lalu meskipun sudah ada Medsos namun tidak segencar sekarang. Sebelumnya keseharian seseorang disita oleh musik, televisi atau lainnya. Kini medsos sudah seperti kebutuhan makan, minum dan tidur. Bahkan sudah menjadi semacam kebutuhan utama.

Facebook sendiri sekarang memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna di seluruh dunia. Perubahan itu memang menghadirkan peluang baru dan sekaligus perangkap. Di Indonesia saja pernah hampir setiap pekan ada seseorang yang terkena perkara karena menulis atau menyebarkan hal-hal yang dianggap berlawanan dengan undang-undang di media sosial. Belum lagi masalah penipuan, pelecehan seksual, dan sebagainya.

Bahaya kedua adalah adanya kecenderungan dari karakter sejumlah individu yang menyerang secara terbuka karakter orang lain. Ada kalanya pula persoalan rumah tangga atau hubungan perkawanan menjadi rusak setelah “kejelekan”partner hidup atau kawan diungkap ke Facebook sehingga banyak orang yang tahu.

Pesepakbola Inggris Fabrice Muamba yang kerap menjadi bulan-bulanan rasis

Tahun 2012 tercatat seorang mahasiswa Inggris, Liam Stacey dipenjara setelah membuat komentar rasis di Twitter tentang pemain sepakbola berkulit hitam Fabrice Muamba. Meskipun pada akhirnya menyesal dan meminta maaf, namun citra dirinya telanjur hancur menjadi musuh masyarakat. Hukuman sosial itu akan menghantui sisa hidupnya.

Bahaya ketiga, mengejar popularitas atau viral. Saat anda memposting apapun ke media sosial anda tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Namun sebagian orang sadar menggunakan media sosial agar meraih popularitas secara instan atau viral. Dengan begitu dia akan mendapatkan perhatian dari orang banyak.

Cara viral itu aneh-aneh. Apa pun yang bisa merebut perhatian orang. Tahun 2012 Lindsey Stone memposting foto dirinya di halaman Facebook miliknya dengan mengolok-olok sebuah tanda yang meminta “rasa hormat dan diam” di taman makam pahlawan Virginia tempat 400 ribu tentara AS dimakamkan.

Meskipun dirinya hanya menganggap sebagai lelucon, tapi gambar dirinya yang segera viral di media sosial itu menuai kecaman banyak orang. Dia mulai panen masalah baik, baik itu tanggapan di media sosial, panggilan telepon bahkan ancaman pembunuhan. Setelah itu Stone dipecat dari pekerjaannya dan hidup lontang-lantung menjadi pengangguran.

Bahaya keempat adalah kecanduan. Sebab banyak media sosial yang menawarkan semacam game online seperti misal “Neknominate”. Orang yang kecanduan program ini bisa berhari-hari di media sosial hingga lupa makan.  Stephen Brooker meninggal di tahun 2014 setelah kecanduan online. Padahal ibunya sudah mengingatkan.

Bahaya kelima, tidak berpikir ke depan. Ketika anda menulis atau memposting gambar atau video, maka materi itu akan menetap selamanya di “alam digital”. Mungkin tulisan, gambar atau video sudah dihapus dari postingan, tapi bagaimana kalau sudah ada yang mengunduh atau screenshot? Maka pikirkan dulu sebelum posting apapun di media sosial.

Politisi Partai Buruh Huw Thomas minta maaf atas postingan menghina bendera Inggris 9 tahun silam

Tahun 2015, kandidat Partai Buruh Huw Thomas daerah pemilihan Ceredigion dipaksa meminta maaf atas komentar yang ditulisnya sembilan tahun lalu. Karena meskipun postingannya yang menghina bendera Inggris telah dihapus namun masih bisa dilacak, atau bahkan bisa lewat unduh atau screenshot yang tak perlu kecanggihan hacker.

Seorang ahli komunikasi digital Craig McGill asal Glasgow, Skotlandia menuturkan, postingan tidak perlu dilihat jutaan orang untuk memiliki dampak. Orang bisa kehilangan pekerjaan setelah atasannya melacak rekam jejaknya lewat digital. Mesin pencarian Google sudah biasa digunakan para bos untuk merekrut karyawan.

Dan Mennel Ibtissem tampaknya sudah terperangkap dalam satu di antara lima bahaya itu. Sebab media sosial memang hal relatif baru dan tiba-tiba mewabah di masyarakat. Jadi, berhati-hatilah dalam menggunakannya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here