Rahmatan lil’alamin dari Borobudur (“Nobel” Prize untuk Umat Islam Magelang)

0
49

Apa? Borobudur dikepung oleh 200.000 orang dari 185 Laskar dari seluruh Nusantara?
Borobudur diputihkan? Borobudur dikepung? Apa-apaan ini? Aksi Bela Rohingya? Mau balas
dendam? Nyawa bayar nyawa?

Kapolri Tito Karnavian, di Mekah, terloncat berdiri karena mendengar kabar itu. Ia
mempercepat jadwal pulangnya dari berhaji. Langsung terbang ke Jakarta. Malam tiba, dan
langsung mengadakan rapat khusus dengan para perwira Mabes.

Laskar apa itu yang berani-beraninya akan mengepung Candi Borobudur? Pasukan dari
mana itu yang merencanakan kekejaman untuk mencederai Borobudur? Apakah karena
Borobudur adalah monumen spiritual Kaum Budha sedunia, lantas harus menanggung balas
dendam atas penderitaan kaum Muslimin di Rohingya? Apakah mereka hendak merobohkan
keajaiban dunia itu?

185 Laskar dari berbagai daerah berkumpul di Magelang untuk bersama-sama
menyerbu Borobudur? Laskar-laskar itu tak sekadar datang dari seputar Magelang, Yogya dan Semarang? Tapi juga dari daerah-daerah Jawa Tengah lainnya seperti Wonosobo,
Temanggung, Solo, Klaten, Karanganyar, Salatiga dan lain-lain? Bahkan dari Lamongan,
Mojokerto, Tasikmalaya, Tangerang, Riau? Yang dimaksud Laskar itu Peleton, Kompi atau
Batalyon? Berapa jumlah mereka?

Mau apa ini Umat Islam? Anak-anak siapa saja yang memimpin laskar-laskar itu?
Pernah sekolah apa nggak? Tahu Borobudur apa tidak? Pernah membaca fakta-fakta tentang
Borobudur atau belum? Apa guru-guru mereka di sekolah juga tidak mengerti betapa
dahsyat karya Borobudur? Tahu nggak mereka bahwa Borobudur dibangun sejak sebelum
Nabi Muhammad lahir dan belum selesai hingga wafatnya beliau?

Coba kumpulkan wakil-wakil dari 185 Laskar itu, tanyakan kepada mereka berapa juta
jumlah blok batu yang diperlukan untuk membangun Borobudur? Batu-batu itu diambil dari
mana? Bagaimana cara mengangkat jutaan batu itu sampai setinggi itu tumpukannya?
Bagaimana membuat desain arsitektur untuk sekian ribu panel reliefnya? Sekian ratus
pancuran airnya? Lebih banyak ratus lagi patung-patung stupanya? Bagaimana perencanaan
dan praktek memastikan ikatan antara jutaan blok batu-batu besar hanya dengan sistem
sambungan ekor burung?

Bagaimana merundingkan dan menyepakati draf muatan dan desain relief-relief
sebegitu banyak? Tak usah bertanya kepada mereka apa makna filosofis Kamadhatu,
Rupadhatu dan Arupadhatu. Tanyakan bagaimana mempersatukan “mazhab-mazhab”
untuk menyepakati penggolongannya? Seleksi kandungan isi cerita relief? Bagaimana
mewujudkan draf desain itu? Hanya lewat pembicaraan? Atau tergambar di lontar? Atau
secara telepati? Atau langsung dipahat hanya dengan pengarahan makro?

Bagaimana sistem manajemen pekerjaan sebesar itu? Siapa kepala EO-nya? Apakah
pemborongnya berpengalaman membangun Pyramid? Siapa yang bertanggung jawab atas
komplikasi pekerjaan itu? Anggarannya bocor atau tidak? Bagaimana sistem kontrolnya?
Formula pemerintahannya semodern apa? Bagaimana dengan mess atau asrama para
pekerja? Bagaimana logistik konsumsi dan akomodasinya? Apa menu makanan dan minuman saat itu? Apa alat makan saat itu? Bagaimana sistem sanitasi? Apa hiburan masyarakat waktu itu, agar tidak jenuh oleh pekerjaan raksasa itu?

Berapa generasi Pemerintahan yang bersetia dan konsisten untuk kontinu menerapkan
program pembangunan selama 75 tahun? Apakah tidak terjadi pergantian kurikulum oleh
puluhan Menteri yang berganti-ganti? Kenapa pemimpin mau meneruskan pembangunan
yang dirintis oleh pemimpin sebelumnya, dan kelak yang mendapat nama baik adalah
pemimpin berikutnya? Apakah master plan pembangunan Borobodur tidak diamandemen
oleh penguasa berikutnya? Seberapa matang karakter kepemimpinan pada waktu itu?

Silakan datang Laskar-laskar itu ke Borobudur asalkan untuk belajar. Borobudur tetap
berdiri megah setelah 14 abad: sebutkan satu atau dua gedung di Jakarta atau kota manapun di Indonesia yang akan masih utuh 14 abad kelak? Tanyakan kepada sekian ratus ribu arsitek Tanah Air, bersedia dan mampukah mereka kita biayai untuk membangun seri berikutnya dari Borobudur? Yang tak usah lebih megah dan kuat? Cukup menyamainya saja? Bisakah ditemukan satu saja perupa dari Indonesia atau seluruh dunia, yang mampu membikin satu relief saja yang sehidup, semutu dan serealistis yang terpampang di dinding-dinding Borobudur?

Tahukah Laskar-laskar itu bahwa Borobudur bukan Mal? Bukan bangunan yang dibiayai
dengan uang untuk tujuan memperbesar dan memperluas perputaran uang? Tanyakan
kepada setiap presidenmu, semua menterimu, seluruh anggota lembaga perwakilan
rakyatmu: berapa kira-kira biaya yang diperlukan dengan standar keuangan saat ini — untuk
membangun Borobudur? Andaikan uang negaramu mencukupi, mungkinkah semua pihak
yang memegang otoritas keuangan menyepakati bahwa anggaran sebesar itu digunakan
untuk mendirikan Bangunan Nilai? Bangunan Spiritual? Bangunan Rohani?

Borobudur adalah satu dari tujuh keajaiban dunia. Selama kita menyelenggarakan NKRI
tak satu hasil karya pun yang bisa kita banggakan kepada dunia, sekualitas dan seberwibawa
Borobudur. NKRI sangat ditolong oleh nenek moyangnya, tanpa pernah menunjukkan
apresiasinya terhadap tingginya peradaban nenek moyangnya. Kita hanya mengambil
keuntungan dan gengsi dari Borobudur, tetapi tidak menghargai nilai-nilai peradaban
manusia yang melahirkan Borobudur. Dan sekarang ada 185 Laskar dari seantero negeri mau
mengepung dan mengancam Borobudur? Siapa mereka ini? Besar amat kepala mereka?

Sudah pasti Kepolisian lokal dan regional menyerahkan hal tanggal 8 ini ke Mabes.
Tidak berani menanggung risiko-risikonya. Apalagi tanggal 9-nya Jokowi datang. Tapi tiba-tiba malam itu saya ditelepon oleh salah seorang anak saya. “Masyaallah Cak, saya tidak
menyangka ajakan saya untuk unjuk solidaritas kepada saudara-saudara kita di Rohingya,
ternyata disambut besar-besaran. Saya tidak menyangka setinggi itu animonya dan seluas itu
resonansinya…,” katanya, kemudian ia menjelaskan panjang lebar segala sesuatunya.

“Apakah kalian akan berdemo di Candi Borobudur?” saya langsung desak.

“Tidak, Cak,” jawabnya.

“Apakah karena Rohingya kalian akan menyerbu Borobudur dan umat Budha?”

“Siapa bilang Cak? Kalau mau menjahati Borobudur, kenapa nunggu Rohingya? Selama
hidup kami tinggal di seputar Bodobudur, kami punya kesempatan puluhan tahun untuk
merusak Borobudur. Tapi kami menjaganya. Merawatnya. Mengamankannya….”

Ya juga sih. Umat Islam penduduk mayoritas di Magelang dan Kecamatan Borobudur.
Mereka membuktikan bahwa merekalah pagar keamanan Borobudur. Bahkan sejak jauh
sebelum ada NKRI. Saya berpikir untuk kasih Hadiah “Nobel” untuk Umat Islam Magelang,
khususnya Kecamatan Borobudur.

Kemudian dia kirimkan foto-foto mereka bersama Bhikkhu Sri Panavaro, juga teman-teman
Walubi. Juga daftar 185 Laskar. “Kami semua sepakat dalam keprihatinan kemanusiaan atas situasi Rohingya, bukan permusuhan antar pemeluk Agama.”

Paginya, Pak Tito Karnavian langsung kirim utusan ke Yogya, dan langsung saya
pertemukan dengan sejumlah Kumendan Laskar-laskar yang bertanggung jawab atas
rencana gerakan itu. Pertemuan itu tentu saja tidak mengundang wartawan, apalagi divideo
kemudian diusahakan memviralkannya.

Judul saya ubah menjadi “Rahmatan Lil’alamin dari Borobudur”. Para Laskar,
Kepolisian, semua perangkat Pemerintahan, dengan merangkul semua tokoh ormas-ormas,
tentu saja Bhikkhu Panavaro, teman Walubi dan semua — diaspirasikan untuk menjadi “Satu
Tim NKRI” untuk menduniakan sikap tegas secara kebenaran, bijaksana secara politik dan
santun secara budaya.

Bikin garis demarkasi untuk memastikan keamanan Candi Borobudur. Pusatkan
semuanya di Masjid. Muatan Gerakan ini adalah Wirid, Shalawat, doa-doa Istighotsah. Dan
satu-satunya output tekstualnya adalah deklarasi tertulis yang rasional dan bijaksana.
Mudah-mudahan semua masuk surga bersama dengan semua yang dianiaya di Rohingya.
Para laskar sejak awal menjamin, “Kami tidak makar, tidak melakukan teror dan tidak
kriminal.”

Anak-anak muda ini memanifestasikan nurani kemanusiaannya dan bersedekah
empati. Selebihnya, ini semua kita hidup di dunia yang mengaku modern, demokratis dan
ber-hak asasi manusia. Ada organisasi dan manajemen di muka bumi ini untuk keamanan
bersama. Ada PBB. Ada Dewan Keamanan Dunia. Ada OKI. Ada Negara-Negara Islam Timur
Tengah yang kaya raya. Ada Pemerintah NKRI, negara terbesar penduduk Muslimnya. Ada NU
dan Muhammadiyah yang raksasa. Ada MUI. Mereka yang berkewajiban untuk menemukan
kunci sejarah. Termasuk memojokkan Inggris untuk membuka dokumen-dokumen otentik
tentang Myanmar. Supaya dunia tahu siapa sebenarnya warga Myanmar, dan siapa Rohingya
ini sehingga dihardik dan dianiaya.

Indonesia adalah warga dunia. Rohingya tidak membuat Indonesia bertengkar di
antara mereka. Rakyat jangan terlalu sakit jiwa terhadap Pemerintahnya, dan Pemerintah
jangan parno dengan selalu memperlakukan rakyat sebagai musuhnya.

Demikian. Kalau ada gorengan di Medsos, kesepakatan rahmatan lil’alamin ini adalah
korban yang digoreng, bukan yang menggoreng. Juga kalau ada penelusupan, penunggangan
dan subversi — Satu TIM NKRI ini korban yang ditelusupi, ditunggangi dan disubversi. Bukan
sebaliknya.

Terakhir, yang terutama saya tuliskan di sini adalah bukan siapa melakukan apa, siapa
mengumumkan apa, siapa mengklaim jasa apa dan berupaya memviralkannya — melainkan
kegembiraan rahmatan lil’alamin yang disepakati. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here