Rais Aam PBNU dan Nahdliyin Beda Sikap Soal Ahok, Harakiri Ala PPP dan PKB

0
265

Nusantara.news, JAKARTA – Sikap dua partai berbasis massa Nahdliyin, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mendukung Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bertentangan dengan sikap Rais ‘Aam PBNU yang juga Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin.

Direktur Pusat Kajaan Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Abdul Muta’ali menilai sikap yang bertentangan ini menjadi bukti bahwa kultur santri yang taat pada titah kyai/ulama tergerus oleh pragmatisme politik. Sikap ini berpotensi harakiri atau bunuh diri politik bagi kedua partai tersebut.

Sikap PPP dan PKB 

Dukungan partai berlambang Kabah kepada Ahok-Djarot baik kubu Romi apalagi Djan Faridz sudah sangat jelas. Seperti dilontarkan langsung oleh Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy alias Romi kemarin di gedung DPR RI.

“Sekedar penegasan, kami akan segera deklarasi,” ujar Romi.

Alasan yang dikemukakan Romi mendukung ahok semata-mata untuk menjamin sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Karena itu, semua partai yang mendukung pemerintahan Jokowi – JK, tentu akan ikut mendukung Ahok – Djarot. “Di pusat parpol dukung pemerintah, tentu di daerah juga begitu. Itu semua untuk sinergi demi pembangunan berkesinambungan,” dalihnya.

Sementara, Ketua DPW PKB DKI Jakarta Hasbiyallah Ilyas telah mendeklarasikan dukungan kepada Ahok – Djarot pada Minggu (9/4/2017) di GOR Ragunan, Jaksel.

Hasbi berdalih, dukungannya itu karena Djarot juga warga NU. Sehingga, wajar jika PKB yang basis massanya NU juga mendukung Djarot yang notabene hanya Cawagub DKI. “Pak Djarot ini juga NU. Beliau sering datang ke pengajian bukan hanya saat pilkada,” katanya.

Sikap Rais Aam PBNU

Ironisnya, sikap kedua partai berbasis Islam itu justru bertentangan dengan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa peryataan Ahok di Pulau Seribu, Jakarta merupakan penodaan/penistaan agama Islam.

Bahkan, KH Ma’ruf menegaskan kembali sikap MUI itu saat menjadi saksi dalam persidangan Ahok di Gedung Kementrian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017) lalu.

Menurutnya, Ahok tidak perlu menyinggung surat Al-Maidah Ayat 51 dalam sosialisasi tentang budidaya ikan kerapu. “Ucapan Ahok di Pulau Seribu termasuk kategori penghinaan,” tegas KH Ma’ruf

Dari sikap itu, logikanya, Ahok yang menistakan agama tentu tak layak didukung PPP dan PKB. Apalagi, Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin adalah Rais ‘Aam PBNU. Sehingga, seharusnya PPP dan PKB mengikuti sikap ‘’menolak’’ Ahok sebagai cagub DKI.

Harakiri

Direktur Pusat Kajaan Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Abdul Muta’ali menilai sikap PPP dan PKB itu menjadi bukti bahwa pragmatism politik benar-benar telah mengalahkan kultur yang terbangun di NU selama ini, yaitu santri menghormati dan patuh terhadap perintah kyai.

“PPP dan PKB itu memang basis massanya banyak dari NU. Romi juga kan santri, apalagi PKB dilahirkan oleh Gus Dur yang jelas tokoh NU. Jadi, sikap PPP dan PKB itu bukti pragmatisme politik mengalahkan kultur NU. Santri tidak taat lagi sama kyai,” jelas Abdul kepada Nusantara.news, Rabu (12/4/2017).

Abdul menambahkan, alasan yang dikemukakan elit kedua partai mendukung Ahok demi menjaga keutuhan bangsa dan Negara sulit diterima akal sehat. Apakah, jika mematuhi perintah Kyai mendukung dan memilih pemimpin muslim itu bias mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara?

“Jangan karena kepentingan pragmatis lantas berdalih demi kebhinekaan dan NKRI. Apakah, kalau mendukung calon muslim seperti perintah kyai itu tidak Pancasilais?,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Abdul, hasil Muktamar NU tahun 1999 jelas melarang memilih pemimpin non-muslim. Artinya, sikap PPP dan PKB jelas alasan pragmatis.

“Gus Sholah sudah mengingatkan hasil Muktamar NU 1999 yang melarang memilih pemimpin non muslim. Kok, malah PPP dan PKB mendukung Ahok, Ironisnya juga, Ketua GP Ansor DKI Abdul Azis sempat-sempatnya minta dana hibah, umroh dan kantor kepada Ahok, seolah-olah itu jadi syarat kalau Ahok mau didukung harus bantu Ansor. Meskipun mungkin bercanda, tapi itu tidak etis dan itulah semua yang jadi pertanyaan kalangan NU di bawah,” paparnya.

Menurutnya, sikap pragmatisme kedua partai itu memunculkan banyak pertanyaan dikalangan NU kultural yang umumnya kelas menengah ke bawah. Mereka, mempertanyakan konsistensi elit partai yang menentang sikap kyai. Karena itu, PPP dan PKB sedang melakukan bunuh diri politik.

“Saya khawatir, sikap PPP dan PKB ini akan berpengaruh negative pada perolehan suara saat Pemilu 2019 nanti. Warga NU kultural tidak percaya lagi sama mereka dan ini sama saja harakiri (bunuh diri) PPP dan PKB,” pungkasnya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here