Rakyat Iran Memilih Pemimpin Moderat, Menguntungkan Barat?

0
42
Presiden Iran Hassan Rouhani memasukkan kertas suaranya dalam pemilihan presiden di Teheran, Iran, Jumat (19/5). ANTARA FOTO/TIMA via REUTERS

Nusantara.news, Teheran – Presiden Iran Hassan Rouhani akhirnya kembali membuktikan tradisi kemenangan petahana dalam pemilihan presiden Iran, Jumat (19/5) kemarin. Sepanjang sejarah pemilu Iran, calon petahana selalu memenangi pemilu.

Apakah kemenangan tokoh moderat Rouhani, dan melanjutkan periode pemerintahan sebelumnya cenderung menguntungkan dunia Barat?

Pemilu Iran membuktikan, kelompok garis keras dan koservatif tidak dikehendaki oleh rakyat Iran. Tapi apakah posisi ini menguntungkan bagi Iran, khususnya jika dihadapkan dengan dunia Barat.

Kendati Rouhani merupakan seorang moderat yang cenderung globalis dan diterima dunia Barat, tapi dia agaknya harus menghadapi pemerintahan Presiden Donald Trump yang lebih tidak bisa diprediksi, berbeda dengan Barrack Obama.

Sebagaimana dilansir AP, saat pemilihan presiden berlangsung di Iran, Trump mendarat di Arab Saudi, Sabtu (20/5). Arab Saudi diketahui sebagai rival utama Iran. Selain itu pemerintahan Trump juga menentang keras kesepakatan nuklir yang ditempuh Iran dengan negara-negara lain, termasuk AS era Obama pada 2015. Pemerintah Trump ingin meninjau ulang kesepakatan tersebut. Trump juga baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap Iran terkait program rudal balistiknya.

Meski begitu, Rouhani telah berjanji untuk terus bernegosiasi dengan AS untuk meyakinkan mereka agar mencabut sanksi non-nuklir. Terlepas dari ketegangan yang terjadi, bagaimanapun Rouhani melihat Iran telah mendapat keuntungan dari Barat dan dari investasi asing. Dan, tampaknya, pemilih Iran saat ini setuju dengan kondisi tersebut.

Pemilih Iran seolah mengirim pesan kepada pemerintah Trump, bahwa rakyat Iran mendukung upaya diplomasi damai dan moderasi, sebagaimana program pemerintah Rouhani.

Di Twitter, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan bahwa pemilu  tersebut menunjukkan tingkat kemajuan dari bangsa Iran.

Khamenei yang semula diduga mendukung Raisi, mengatakan bahwa Iran akan menunjukkan “martabat nasional” dan “kebijaksanaan” dalam hubungan dengan negara-negara lain.

Sementara itu, di Riyadh, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, mengatakan dia berharap Rouhani akan menggunakan kekuasaan barunya untuk membongkar jaringan terorisme dan mengakhiri program rudal balistik.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, menggambarkan bahwa pemilihan tersebut sebagai “masalah dalam negeri” Iran, dia menekankan bahwa Iran selama ini telah mencampuri negara-negara Arab dan memberikan dukungan untuk kelompok ekstremis Al-Qaeda.

Sementara itu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengucapkan selamat kepada Rouhani atas “mandat kuat yang diterimanya” dan bahwa Eropa siap untuk bekerja demi kerja sama dan perdamaian yang lebih baik.

Rouhani kembali terpilih untuk masa jabatan kedua sebagai presiden Iran setelah mangantongi 57% suara. Sementara, lawan terkuatnya Ebrahim Raisi hanya mengantongi 38,5% suara. Dengan demikian, tidak ada pemilu putaran kedua. Rouhani sebagai tokoh moderat dianggap bakal melanjutkan upaya reformasi Iran untuk keluar dari isolasi dunia luar.

Dengan terpilihnya Rouhani dalam pemilu dengan tingkat partisipasi 70% (sekitar 40 juta) menunjukkan bahwa rakyat Iran menginginkan negara tersebut tidak lagi mengisolasi diri dan bergabung dengan dunia global.

Rouhani mendapat mandat untuk mendorong upaya reformasi di Iran dan melanjutkan pembicaraan dengan pihak Barat yang pernah membuat kesepakatan nuklir pada 2015. Kesepakatan tersebut, di satu sisi telah membebaskan Iran dari sanksi global, tapi di sisi lain melemahkan program nuklir yang dikembangkan Iran.

“Kemenangan telak memberi Rouhani mandat yang tidak dia dapatkan selama masa jabatan pertamanya,” kata Cliff Kupchan, ketua Eurasia Group, sebuah perusahaan analisa politik, sebagaimana dilansir Washington Post, Sabtu (20/5).

“Dia akan tetap menjadi moderat,” kata Kupchan. Tapi dia “akan lebih agresif dalam mengupayakan reformasi di Iran.”

Rouhani dan para pendukung dari kaum reformis Iran melakukan pukulan telak kaum konservatif Iran yang sebagian besar mendukung Ebrahim Raisi, ulama dari garis keras. Raisi dan pendukungnya selama ini mencemooh diplomasi soft power yang dilakukan Rouhani.

Pemilu kemarin menjadi pertaruhan bagi rakyat Iran, apakah Iran akan terus terbuka terhadap dunia luar atau kembali kepada era masa lalu, dimana Iran terisolasi secara diplomatik dan ekonomi, tapi justru ditakuti oleh Barat. Tapi hasil pemilu kemarin, dengan terpilihnya Rouhani menunjukkan rakyat Iran menginginkan negara yang terbuka kepada pihak luar, khususnya Barat.

Sebelumnya, Raisi dan pendukungnya menginginkan kebijakan konservatif, sebagaimana presiden Mahmoud Ahmadinejad, dimana Iran dianggap maju dalam program pengembangan nuklir, meskipun pada akhirnya PBB memberi sanksi kepada Iran.

Sementara, Rouhani dianggap berhasil menghapus sanksi terhadap Iran, meskpun pertumbuhan ekonomi tetap berjalan lamban dan jumlah pengangguran masih tinggi. Banyak orang Iran masih hidup dalam kemiskinan. Dalam pemilu kali ini Raisi sebetulnya memanfaatkan ketidakpuasan rakyat miskin Iran dan menjalankan kampanye populis. Namun usahanya kandas, setelah hasil pemilu tidak memihaknya.

“Meskipun kondisi ekonomi buruk, rakyat (Iran) tidak mendukung populisme dan janji-janji kosong subsidi pemerintah,” kata Reza H. Akbari, seorang peneliti politik Iran di Institute for War and Peace Reporting.

“Ini sangat menyejukkan, mengingat tren populis baru-baru ini meningkat di Eropa dan Amerika Serikat,” katanya.

Kemenangan telak Rouhani juga menepis kekhawatiran yang berkembang sebelum pemungutan suara, bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dan Garda Revolusi akan melakukan upaya “kecurangan” untuk memastikan kemenangan Raisi.

“Yang sangat penting, bahwa Khamenei tidak memaksakan kemenangan bagi Raisi,” kata Kupchan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here