Ramai-Ramai Menuntut Kapal Perusak Terumbu Karang Raja Ampat

0
186

Nusantara.news, Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana mengajukan tuntutan hukum kepada Keith Michael Taylor, kapten kapal pesiar berbendera Inggris MV Caledonian Sky yang merusak terumbu karang di Raja Ampat, Papua Barat.

Kini, ungkap Djoko Hartoyo dari Biro Informasi dan Hukum Kementerian Koordinator Kemaritiman, pemerintah telah membentuk gugus tugas yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait. Gugus tugas itu nantinya menangani aspek hukum, pidana maupun perdata, termasuk Mutual Legal Assistance (bantuan timbal balik) maupun upaya ekstradisi bila diperlukan.

Selain itu, gugus tugas juga menangani penghitungan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kandasnya kapal MV Caledonian Sky, keselamatan navigasi dan hal-hal terkait lainnya.

Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menegaskan pemerintah siap menempuh segala cara agar pemilik kapal MV Caledonian Sky bersedia bertanggung jawab.

“Kita siap untuk mengambil segala langkah yang diperlukan agar masyarakat tidak dirugikan dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh MV Caledonian Sky bisa segera diatasi,” ujarnya sesaat setelah melakukan rapat koordinasi di Kantor Kemenko Kemaritiman, Senin (13/3).

Berdasarkan UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, perusakan kekayaan alam seperti terumbu karang, lahan gambut dan hutan merupakan tindakan kriminal yang ancaman hukumannya adalah pidana penjara. Untuk itu, meskipun perusahaan asuransi bersedia membayar kerusakan namun tidak dapat menghilangkan aspek pidananya.

Insiden Menyedihkan

Kandasnya MV Caledonian Sky di perairan Raja Ampat membuat warga setempat, kawatir. Terlebih mereka hidup dari para wisatawan yang hendak menyelam menikmati keindahan terumbu karang.

“Saya lahir di sini. Saya menangis ketika melihat kerusakannya yang begitu parah. Mungkin membutuhkan waktu 10 hingga 100 tahun untuk memulihkannya,”ungkap Ruben Sauvai yang berprofesi sebagai instruktur menyelam profesional dan sekaligus mengelola rumah penginapan dan tempat penyewaan alat menyelam.

Reef damage

Terumbu karang yang rusak di Raja Ampat.

Memang, kebanyakan masyarakat Rajaampat, selain hidup dari bertani dan nelayan, sebagian lagi hidup dari sector pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu turis manca negara berkunjung ke Raja Ampat, menikmati keindahan alam bawah laut.

Namun, kerusakan parah baru terjadi ketika MV Caledonian Sky yang berbobot 4.290 ton kandas di atas sekumpulan terumbu karang usai mengamati keanekaragaman burung pada siang hari tanggal 4 Maret 2017. Saat itu, laut sedang surut.

Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman memperkirakan kandasnya kapal pesiar itu telah menghancurkan terumbu karang seluas 1.600 meter persegi.

Beragam rekaman video yang diabadikan sejumlah penyelam menunjukkan terumbu karang dihantam badan kapal.

Noble Caledonia selaku pemilik MV Caledonian Sky mengatakan insiden itu “disayangkan”. Lebih lanjut, perusahaan menyatakan “berkomitmen kuat untuk melindungi lingkungan” serta menyokong penuh investigasi.

Ricardo Tapilatu, kepala Pusat Riset Sumber Daya Kelautan Pasifik di Universitas Negeri Papua terlibat dalam tim evaluasi resmi. Dia mengatakan kapal tersebut terjebak saat laut surut meski dilengkapi peralatan GPS dan radar.

“Kapal tunda dari Kota Sorong dikerahkan untuk membantu kapal pesiar itu kembali mengapung. Seharusnya itu tidak dilakukan karena akan merusak terumbu karang lebih parah. Mereka seharusnya menunggu laut pasang,” beber Tapilatu kepada laman Mongabay.

Ricardo meyakini perusahaan Noble Caledonia harus membayar kompensasi sebesar US$1,28 juta hingga US$1,92 juta untuk memulihkan kondisi Raja Ampat.

Memicu Kemarahan

Insiden itu telah memicu kemarahan publik Indonesia di media sosial “Ini tidak bisa diterima! Apa mereka tahu berapa lama terumbu karang untuk bisa tumbuhApa Anda sudah lihat kerusakannya?” ujar Feby Riani, salah seorang pengguna Facebook. “Ini Raja Ampat..salah satu daerah dengan terumbu karang paling indah di dunia ,” tambahnya.

Sebuah petisi daring telah diluncurkan berisi desakan agar Noble Caledonia tidak hanya memberi kompensasi berupa uang, tapi juga memperbaiki kerusakan terumbu karang.

Kapal itu sendiri telah berlayar dan Noble Caledonia menyatakan “lambung kapal tidak rusak dan tetap utuh”.

Di lain pihak, Laura Rest dari persatuan rumah penginapan di Raja Ampat, mengaku para pengusaha dan warga Raja Ampat amat bersedih

“Terumbu karang adalah hal utama yang menarik banyak wisatawan ke sini. Ini kontraproduktif dengan prospek wisata,” ujarnya.

Sejak insiden kapal, Ruben Sauyai menghindar membawa wisatawan ke lokasi yang rusak karena keindahan alam di sana telah “tiada”.

“Kami sudah lama mencoba merawat terumbu karang itu dan hilang semua hanya dalam hitungan jam. Saya begitu sedih dan malu membawa wisatawan ke sana,” ujarnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here