Ramalan Paranormal: dari Pawang Nomor Kosong Hingga Ahok Turun di Tengah Jalan

0
6442

Nusantara.news, Surabaya – Berbagai cara dan sarana digunakan untuk mengetahui, memprediksi, atau meramalkan bagaimana dan siapa bakal memenangi laga pertarungan pemilukada. Jika lembaga survei bicara dari hasil survei atau pollingnya, pengamat bicara lewat analisis politiknya, sedang bagi seorang paranormal bicara yang mempunyai kemampuan supranatural, ia akan berbicara melalui ketajaman mata batinnya. Kesemuanya itu memiliki arah yang sama. Yakni, untuk mengetahui bagaimana konstelasi atau situasinya, seberapa besar peluang dan siapa lebih unggul.

Akhir tahun lalu, dalam acara “Sarasehan Metafisika Study Club” yang digelar di salah satu restoran bilangan di Jakarta, empat tokoh paranormal meramalkan situasi politik Indonesia pada 2017. Keempat tokoh paranormal yang dijadikan narasumber itu adalah Endang Tarot, Erwin St Bagindo, Permadi SH dan Gunadi. Kesan pesimis mewarnai ramalan-ramalan mereka. Itu karena anomali politik yang tidak menentu sehingga berpotensi besar menimbulkan kegaduhan atau kekacauan. Bahkan, Indonesia diramalkan bakal mengalami chaos menyerupai dunia Mad Max, sebelum akhirnya bangkit menjadi bangsa besar.

Kendati demikian, kegaduhan politik yang timbul di Indonesia bisa diredam oleh satu sosok. Hanya saja sosoknya masih misterius. Menurut Endang Tarot, satu figur atau sosok itu akan muncul yang kalimatnya seperti Sabdo Pandito. Dengan menggunakan medium tarot (kartu ramalan nasib), ia menerawang bahwa sosoknya itu tak terbantahkan.

“Di kuartal ketiga 2017 akan muncul  figur yang menjadi sosok harapan,” kata Endang Tarot saat mempresentasikan ramalannya di layar lebar menggunakan komputer.

Hasil ramalan Endang Tarot hampir sama dengan terawangan Permadi. Ia meramalkan dinamika politik nasional maupun global berdasarkan Jongko Joyoboyo. Itu adalah nubuat klasik dari seorang pujangga kerajaan Kediri yang punya pengaruh besar dalam budaya Jawa. Permadi menilai demonstrasi umat Islam menuntut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diadili atas kasus penistaan agama, merupakan awal dari rangkaian peristiwa kegaduhan politik yang terjadi.

Permadi yang juga paranormal para politisi Partai Gerindra ini beranggapan Ahok yang disebut sebagai goro-goro seharusnya ditahan karena mengomentari surat Al Maidah. Sementara, kekacauan ini baru akan berakhir setelah 2018, ketika muncul sosok pemimpin yang akan mempersatukan semua orang. Sosok inilah yang juga akan membawa Indonesia menjadi negara besar. Bahkan mampu mengalahkan Rusia, Cina, dan Amerika.

“Akan muncul pemimpin sejati yang bernama Satrio Piningit. Tuhan akan mengeluarkan, (dan) sekarang sedang menggembleng. Di bawah Satrio Piningit, Indonesia menjadi mercusuar dunia!,” seru Permadi.

Ahok Menang,Tapi Turun di Tengah Jalan

Jika di Jakarta ada empat tokoh paranormal membeber nasib politik Indonesia, di Jawa Timur ada pula tokoh paranormal yang mampu membaca konstelasi pemilukada dengan kemampuan mata batinnya. Dia adalah KRT Kholiq Waseso Puro atau akrab disapa Gus Kholiq. Bakat dan kemampuan supranatural diakui dimilikinya sejak masa kanak-kanak. Karena aktivitasnya yang padat dan dianggap berpengalaman, ia lantas dipercaya rekan seprofesinya menjadi Ketua organisasi kemasyarakaan Ikatan Paranormal Indonesia Dewan Pimpinan Wilayah (IPI DPW) di Jawa Timur.

Berbincang dengan Nusantara.news di salah satu pondok terapi berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Waru, Sidoarjo, Gus Kholiq juga meyakini situasi politik di Indonesia pada 2017-2018 bakal gonjang-ganjing karena rentan timbul konflik. Terutama, saat laga politik pemilukada putaran kedua 19 April usai digelar di DKI Jakarta. Paranormal yang selalu menyeimbangkan antara logika dengan metafisika ini mengawali terawangannya pada pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat bakal menang mengalahkan pasangan Anis Baswedan-Sandiaga Uno.

“Saya ini kan tidak kenal dengan Ahok, juga tidak tahu perkembangan informasi politik terkini baik di televisi atau media lainnya, tapi sampean nanti saksikan saja, Ahok tetap bakal menang,” tutur Gus Kholiq, meyakinkan.

Tokoh paranormal yang sejak awal Badan Narkotika Nasional (BNN) didirikan diminta menjadi mitra untuk menangani pecandu narkotika di lapas-lapas ini menerawang kemenangan Ahok itu karena disokong para “petani-petani” di Ibu Kota.

“Meski dia keturunan Cina, Ahok ini lahirnya di Indonesia. Kendati digempur sana-sini, ibaratnya dia itu punya ruh yang sudah menjadi bagian DKI Jakarta. Maka jangan heran kalau dia mampu menguasai para petani. Oleh karenanya dia nggak mungkin kalah karena juga disokong petani-petani itu,” imbuh paranormal tiga istri delapan anak ini, sembari terkekeh lirih.

Di ruang tamu kebak dengan pigura foto-foto dirinya berpose bersama tokoh dan pejabat nasional, paranormal berusia 55 tahun yang juga dikenal nyentrik ini sesekali mengungkap kemampuan mata batinnya dengan sejenak terdiam. Terutamanya, saat Gus Kholiq mengaku merasakan getaran tidak wajar yang disebabkan anomali suhu politik pemilukada DKI Jakarta tidak stabil.

“Di Jakarta saat ini suhu politiknya tidak ramah. Di sana banyak kabut tebal dan terkadang diselimuti mendung. Bahkan, tak jarang disertai guntur. Ini sebuah isyarat sekaligus ancaman untuk sang jawara,” ujar Gus Kholiq, menghela nafas panjang.

Lebih dalam lagi, mata batin Gus Kholiq mengutarakan bahwa getaran yang ditangkapnya itu merupakan ancaman serius bagi Ahok. Kendati diterawang bakal menang dan berhasil mempertahankan kursi Guberbur DKI Jakarta, tapi jabatan Ahok itu berpotensi besar bakal dilengserkan. Itu artinya, kata dia, Ahok bisa lengser sebelum masa periode jabatannya berakhir.

“Tiak hanya kawan, tapi Ahok itu juga punya banyak lawan politik yang sepadan. Di situ saya melihat tongkat komando Gubernur Ahok ini nanti bisa jatuh ke tangan lawannya sebelum tugasnya tuntas,” ungkap satu-satunya paranormal yang mengaku berani melakukan pengobatan masyarakat di Dumai (wilayah pesisir pantai pulau Sumatera sebelah timur) saat dimintai bantuan partai Golongan Karya (Golkar) pasca Presiden Suharto mundur.

Khofifah Punya Garis Tangan Pemimpin

Sementara itu, menerawang peta politik di Jawa Timur sendiri, paranormal jebolan IKIP PGRI Surabaya jurusan matematika ini mengutarakan bahwa konstelasi politik ujung timur Jawa ini berbeda dengan DKI Jakarta atau daerah lainnya. Oleh sebab itu, kata Gus Kholiq, pergerakan politik di Jawa Timur tidak mudah ditebak oleh masyarakat awam, karena di Jawa Timur adalah wilayah paling gaib.

“Mulai berdirinya kerajaan Majapahit dan kerajaan lainnya jadi isyarat kuat. Dari sekian provinsi di Indonesia, Jawa Timur ini adalah provinsi paling gaib. Sosok atau para pemimpin-pemimpinnya masih kental dengan kultur Jawa-nya. Makanya, jika tidak memahami pusaran kekuatan-kekuatan di wilayah ini, jangan sekali-kali atau bahkan coba-coba jadi pemimpin,” ucap paranormal berjuluk Ki Bagus Tondonegoro ini, seraya tersenyum pendek.

Perbincangan dengan Gus Kholik semakin menarik. Itu setelah Nusantara.news menyebutkan sejumlah nama bakal calon gubernur (bacagub) yang saat ini bermunculan dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018. Dengan gaya senyumnya yang khas, paranormal yang mengaku pernah menjadi ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) pada masanya, meyakini jika dalam pertarungannya nanti akan muncul tiga nama pasangan cagub dan cawagub. Namun, ditegaskannya hanya ada dua cagub yang akan berlaga cukup sengit. Yakni, antara Khofifah Indar Parawansa dengan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.

“Mata batin saya mengatakan nanti di ajang pilgub Jatim 2018 bakal muncul tiga pasangan. Tapi yang kuat hanya dua, Khofifah dan Gus Ipul,” tegas Gus Kholiq, dengan nada tinggi tanda meyakinkan.

Menariknya lagi, Gus Kholik juga mengungkapkan siapa yang bakal memenangi pertarungan dari dua nama yang boleh dibilang hampir seimbang itu. Dituturkannya, untuk menerawang dua sosok cagub itu sebetulnya tidak gampang. Itu karena masing-masing mempunyai ”benteng” cukup kuat. Kendati demikian, Gus Kholiq mengaku berhasil menembus dinding “benteng” itu dengan kekuatan instrumentasi mata batinnya sehingga mampu menyimpulkan siapa jawaranya.

“Namanya memilih pemimpin itu kan harus satu. Nah, saya merasakan Khofifah dengan Gus Ipul ini punya kemampuan memimpin yang hampir sama. Khofifah mempunyai tiga garis tangan sebagai pemimpin. Ketiga garis tangan itu meliputi kemandirian, titipan, jaringan. Mandiri artinya aura dan jiwa kepemimpinan yang muncul dari dalam diri, sedang titipan adalah orang-orang berkepentingan di dalamnya dan jaringan maksudnya koneksi yang luas, mulai para penguasa hingga pengusaha. Begitu pula dengan Gus Ipul, juga memiliki tiga garis yang sama. Hanya saja Khofifah sedikit sekali unggul ketimbang Gus Ipul,” terangnya.

“Sosok Khofifah ini kan saya bilangnya seorang seniman, yakni dari kasidah. Dari situ ia mulai berangkat dan belajar berpolitik sehingga berbakat dan moncer seperti sekarang ini. Contoh itu bisa jadi sebuah isyarat jika ia punya sisi lain yang tidak dimiliki lawan politiknya,” tambah Gus Kholiq, setelah terdiam beberapa saat.

Kendati diprediksi menang, Gus Kholiq juga menyampaikan bahwa keunggulan tipis Khofifah atas Gus Ipul bukan kemenangan mutlak. Secara afirmatif, kunci kemenangan sejatinya terletak di “pawang” yang berada di balik sosok Khofifah dan Gus Ipul.

“Tapi dari laga pertarungan itu tidak lepas dari sang pawang. Nanti sampean tinggal saksikan saja, pawang siapa yang lebih kuat. Jika sang pawang mampu menguasai nomor kosong, itulah yang disebut sebagai pemenang. Karena satu-satunya cara untuk mengalahkan nomor satu harus dengan kosong,” pungkas Gus Kholiq, sembari menawarkan secangkir kopi yang siap tersaji.

Siapa Satrio Piningit?

Fenomena paranormal dalam pemilihan legislatif maupun eksekutif tampaknya masih khas mewarnai politik Indonesia dan tak ditemui di negara-negara penjunjung demokrasi seperti di Amerika dan Eropa. Itu karena pewaris kultur leluhur bangsa Indonesia masih belum bisa lenyap, meski era teknologi informasi dan komunikasi semakin mutakhir. Kendati demikian, yang perlu dicatat, validasi terawangan dari mata batin paranormal di manapun memiliki probalitas (peluang) yang sama. Sama-sama bisa mendekati benar, sama-sama bisa akurat atau sama-sama bisa salah alias meleset.

Namun, jika merasakan konstelasi politik pemerintahan saat ini, harapan Indonesia memang masih jauh untuk menjadi negara berdaulat. Bangsa dan negara masih harus berhadapan dengan dampak perlambatan ekonomi hingga ancaman suhu politik panas sektarian di ibu kota.

Di luar negeri, Amerika Serikat yang memilih sosok Donald Trump menjadi presiden dan berulang kali menyatakan kebencian pada kaum muslim dan imigran menjadi peringatan keras bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Belum lagi di negara tetangga Filipina memiliki presiden baru Rodrigo Duterte yang berkalang pada pelanggaran HAM. Dan perang Suriah, dengan segala dampaknya pada situasi dunia juga tak kunjung berakhir, hingga ancaman ISIS di Timur Tengah yang kini mulai melirik kawasan Asia Tenggara sebagai basis.

Tentu saja, dari semua tantangan itu, bangsa dan negara Indonesia membutuhkan sosok-sosok atau figur berintegritas dan berdedikasi tinggi yang betul-betul memperjuangan kesejahteraan rakyat, bukan justru mengedepankan kepentingan golongan bahkan pribadi. Rakyat Indonesia sangat menantikan sosok pemimpin yang merdeka dan tegas dalam bersikap, sehingga mampu menahkodai bangsa menjadi negara berdikari dan berdaulat. Merindukan sosok satrio pingingit yang mampu menguasai angka kosong sebagai simbol ketulusan dan keikhlasan pada rakyatnya seperti yang diramalkan sejumlah paranormal. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here