Ramalan Ranggawarsita Presiden 2019, Jokowi atau Prabowo?

1
704

Nusantara.news, Jakarta – Suasana makin bising menjelang Pemilu Presiden 2019. Suara-suara di Medsos masing-masing pendukung kandidat capres sudah jauh dari rasional atau lebih tepatnya cenderung ke fanatisme. Setiap pendukung saling menyajikan tontonan ‘aneh bin ngawur’, sekedar untuk memenangkan hati capres tertentu.

Mencari sosok pemimpin di jaman sekarang tidak bisa asal coblos. Seorang pemimpin haruslah memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang bisa menyesuaikan tuntutan jaman. Dari panggung sejarah dunia kita melihat, bangsa Mongol menonjol karena adanya Jengis Khan, Yunani berkibar karena Iskandar Agung (Iskandar Zulkarnain), Arab menonjol karena kemunculan Muhammad SAW, dan sederet panjang pemimpin dengan karakter masing-masing.

Dalam tradisi Jawa sejak zaman dahulu sampai dengan sekarang, dikenal pemimpin-pemimpin dalam kurun waktu tertentu yang menonjol yang tentu saja juga dengan karakter masing-masing seperti Balitung, Empu Sendok, Darmawangsa Teguh, Airlangga, Empu Bharada, Jayabhaya, Kertanegara, Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Fatahilah, Ki Juru Martani, Panembahan Senopati, Sultan Agung, Mangkubumi, Diponegara, dan lain-lain.

Karakter pemimpin tersebut tentu saja berkaitan dengan situasi dan kondisi zamannya yang menuntut sikap tertentu. Setidaknya ciri pemimpin dalam budaya Jawa memiliki ciri, yakni monocentrum (tunggal), etis (baik dan buruk), pragmatis, sinkretis, dan metafisis.

Kali ini Nusantara.News akan membahas sosok kepemimpinan berdasarkan metafisis. Selama ini metafisis selalu dikaitkan dengan hal-hal metafisik seperti wahyu, pulung, drajat, keturunan (nunggak semi), dan sebagainya. Kemampuan memimpin bukan sekedar capability, tetapi lebih condong sebagai miracle. Karena kepemimpinan bersifat metafisis, hampir-hampir tidak ada sistem rekruitmen pemimpin yang baik di negeri ini. Sebab pemimpin yang seperti ini muncul secara sporadis dan take for granted.

Dalam serat-serat Jawa hanya dicantumkan tentang karakter ideal seorang pemimpin, tetapi tidak ditunjukan ”bagaimana karakter itu dapat diproses”. Hal ini tergambar dalam konsep ”raja gung binatara ”. Gambaran tentang pengalaman metafisis para calon raja diuraikan panjang lebar oleh Cornelis Christiaan Berg (1974) dalam bukunya Penulisan Sejarah Jawa. Secara praktis, pandangan ini masih dianut oleh calon pemimpin-pemimpin di Jawa.

Pemimpin sekaliber Soekarno pernah menyebut datangnya Ratu Adil di Indonesia. Soekarno berkeliling dan menemui seorang petani desa yang sabar dan giat bekerja di tengah hidup yang serba sulit di masa penjajahan. Soekarno pun bertanya-tanya, apa yang membuat petani desa itu terus saja sabar dan tekun dalam penderitaan? Ternyata petani desa itu masih punya harapan, bahwa suatu saat nanti di bumi Indonesia akan hadir sosok pemimpin yang akan membawa Indonesia menuju kejayaan, yaitu Ratu Adil.

Sampai sekarang rakyat Indonesia masih menanti-nanti datangnya Ratu Adil. Masyarakat ada menyebutnya sebagai: Putra Batara Indra, Pemuda Gembala, Sultan Herucakra, Ratu Amisan, Satria Piningit. Dan secara dramatis, gambaran Ratu Adil ini pernah diramal dan dikupas dalam tulisan-tulisan leluhur Nusantara. Paling sering kita dengar ramalan Jayabaya dan Ranggawarsita.

Tujuh Satriya Piningit

Menilik dari ramalan Jayabaya, raja Kerajaan Kediri sekaligus penerus Prabu Airlangga, ramalan Jangka Jayabaya hingga kini masih sering dilestarikan para pujangga. Serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-ramalan tersebut.

Paling terkenal ramalan Jayabaya yang menyebutkan “notonagoro”. Acapkali orang menggambarkan ramalan “notonagoro” dengan nama pemimpin yang berakhiran kata no, to, na, go, dan ro. Namun bila dilihat lebih detil lagi, gambaran ini sebenarnya adalah era kepemimpinan.

Era kepemimpinan bisa jadi memiliki jenis pemimpin yang sama seperti ketika era Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keduanya memiliki tipe sama dalam latar belakang, yakni sama-sama berasal dari nama besar orangtua. Yang dimaksud orangtua bisa jadi adalah orangtuanya sendiri ataupun mertuanya, atau kedekatan yang lain. Era kepemimpinan ini bisa jadi panjang atau pendek, tergantung pada figur pemimpin tersebut, apakah sesuai dengan kehendak rakyat atau bukan, memuaskan atau tidak dan juga pergolakan politik yang ada pada saat itu. Dan tentu saja dilihat dari urutan “notonagoro”, jelas ramalan ini sudah batal dan terlewati.

Namun bila dilihat dari ramalan Ranggawarsita, barangkali pencarian sosok pemimpin nusantara masih berlaku. Selama 47 tahun berkarya, sejak tahun 1826 hingga 1873, Ranggawarsita telah menghasilkan tidak kurang dari 60 judul buku dengan beragam bahasan. Tulisannya meliputi falsafah, kebatinan, lakon-lakon wayang, cerita Panji, dongeng, babad, sastra, bahasa, kesusilaan, adat istiadat, pendidikan, primbon, ramalan, dan sebagainya.

Ranggawarsita meramalkan bahwa raja-raja di Jawa adalah keturunan dari Nabi Adam yang kemudian juga menurunkan dewa-dewa seperti Batara Guru dan Semar yang tampak dalam Paramayoga. Khusus Semar, dianggap sebagai salah satu tanda turunnya wahyu sehingga siapapun yang diikuti Semar akan menjadi pemimpin yang baik.

Menurut Ranggawarsito ada tujuh Satriya Piningit (sebelum munculnya Ratu Adil) yang akan muncul sebagai tokoh yang di kemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit, di antaranya Satriya Kinunjara Murwa Kuncara, Satriya Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, Satriya Jinumput Sumela Atur, Satriya Lelana Tapa Ngrame, Satriya Piningit Hamong Tuwuh, Satriya Boyong Pambukaning Gapura, dan Satriya Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Ketujuh era tersebut hingga kini belum rampung dan terlampaui. Bila ketujuh era tersebut terlampaui, tentu bangsa Indonesia akan memasuki masa jaman Jayabaya yaitu masa keemasan dari bangsa negeri begajul menjadi negeri yang ambeg paramarta, gemah ripah loh jinawi, rakyat makmur sejahtera dan gotong royong menjadi hal yang sangat ringan.

Era Satriya Kinunjara Murwa Kuncara. Adalah tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), yang akan membebaskan bangsa dari belenggu keterpenjaraan dan menjadi tokoh pemimpin tersohor di seluruh jagad (Murwa Kuncara). Tokoh ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

Era Satriya Mukti Wibawa Kesandung Kesampar. Adalah tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa atau ditakuti (Wibawa), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan atau kesalahan (Kesandung Kesampar). Karena cara-caranya menggaet kekuasaan dengan melalui pengorbanan rakyat tak bersalah yang jumlahnya hingga ratusan ribu bahkan jutaan nyawa. Ksatria ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden kedua RI dan pemimpin Rezim Orba yang sangat ditakuti namun kaya raya. Berkuasa tahun 1967-1998.

Era Satriya Jinumput Sumela Atur. Adalah tokoh pemimpin yang diangkat (Jinumput) sebagai selingan perubahan setelah satria yang Kesandung Kesampar dapat dijatuhkan oleh keadaan (Sumela Atur). Orang ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie Presiden Ketiga. Berkuasa hanya satu tahun. Berkuasa tahun 1998-1999.

Era Satriya Lelana Tapa Ngrame. Tokoh pemimpin yang dahulunya atau memiliki latar belakang suka mengembara atau keliling dunia (Lelana) dan memiliki jiwa kontroversial dengan melakukan dakwah atau laku prihatin secara partisipatif dalam banyak keadaan (Tapa Ngrame). Era ini dilambangkan dengan naiknya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden yang keempat. Berkuasa tahun 1999-2000.

Era Satriya Piningit Hamong Tuwuh, yaitu tokoh pemimpin yang muncul karena jasa-jasa orangtuanya atau membawa kharisma leluhurnya (Hamong Tuwuh). Megawati menjabat presiden kelima merupakan anak Soekarno. Sedangkan SBY yang seharusnya masuk di era Satriya Boyong Pambukaning Gapuro, hal itu tidak terjadi. Pasalnya SBY menjabat presiden keenam besar atas jasa dan nama besar mertuanya. Di era kepemimpinan Satriya Piningit Hamong Tuwuh baik Megawati dan SBY memiliki jenis pemimpin yang sama, yakni Hamong Tuwuh.

Satriya Boyong Pambukaning Gapura

Memasuki era Satriya Boyong Pambukaning Gapura, adalah era ketika negeri ini dipimpin oleh seorang ksatria atau tokoh yang berpindah-pindah tempat kekuasaan dan rumah untuk membuka hal baru dengan inovasi atau apa. Dengan kata lain ini adalah the rising star, boyongan dari sana kesini dan kesini kesana, bukan seperti tentara yang tugas ke sana kemari namun karena dinamika perjalanan karirnya yang melonjak.

Tokoh yang dimaksud ini adalah Joko Widodo (Jokowi). Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Satriya Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak.

Era Satriya Boyong Pambukaning Gapura memang disebut-sebut menjadi pembuka jalan bagi Satriya Piningit ketujuh atau pemimpin baru yang akan memimpin nusantara, yakni Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu. Sehingga tugas Satriya Boyong Pambukaning Gapura sebagai “pembuka pintu” (Pambukaning Gapura) sangat berat. Ada yang menafsirkan, bahwa di era ini dengan terbukanya pintu sekaligus terungkapnya aib seluruh bangsa. Coba sekarang pikir, aib apa saja yang tidak mulai terkuak pada bangsa ini.

Di era Jokowi, sistem pemerintahan yang berjalan dinilai kurang baik. Yang terjadi banyak disintegrasi bangsa, anarkisme, radikalisme, dan seiring prahara terus-terusan terjadi di era ini, sehingga memandulkan kebijakan yang diambil. Yang ada hanya aib, aib, dan aib yang terus dipertontonkan.

Sosok Satriya Boyong Pambukaning Gapura dalam pewayangan digambarkan seperti Sisupala, Raja Cedi. Dialah yang membuka gapura aib semua orang sampai akhirnya aib sendiripun terkuak. Dalam lakon Sesaji Rajasuya Sisupala membuka aib bahwa Pandawa adalah anak-anak tidak sah Pandudewanata. Mereka semua lahir dari kekasih gelap Kunti, istri Pandu. Dari Dewa Darma lahirlah Yudistira. Dari Dewa Bayu lahirlah Bima. Dari Dewa Indra lahirlah Arjuna.

Sisupala pula yang membongkar aib Bisma, pepunden kaum Pandawa dan Kurawa. Menurutnya Bisma alias Dewabrata tak layak dihormati oleh karena lahir dari perempuan yang dikutuk pastu oleh dewata, yaitu Dewi Gangga. Dan seluruh bayi yang keluar dari rahim Gangga bukanlah anak Prabu Santanu, suaminya. Semuanya adalah arwah-arwah kutukan dewa yang mencari pembebasan melalui jalan keluar gua garba Gangga.

Di era Sisupala ini terjadi pembongkaran aib besar-besaran. Ada aib seperti korupsi, pembohongan publik, dan berita-berita hoax. Sementara lambat laun aib Sisupala terkuak sendiri di khalayak ramai yang ternyata ibunya, Dewi Sruta, permaisuri Prabu Darmagosa, Raja Cedi, kerjaannya hanya mengintip orang mandi. Pas seorang resi mandi dia merasa ada yang mengintip. Spontan muncul kutukan si resi. Maka lahirlah Sisupala yang bermata banyak. Bayi ini akhirnya bermata normal sepasang ketika pada selamatan selapan atau 35 hari dipangku oleh Kresna.

Nah, pada Pilpres 2019 mendatang, kita bisa saja bergeser dari era Satriya Boyong Pambukaning Gapura ke era ketujuh Satriya Pinandito Sinisihan Wahyu. Jika Jokowi menang dua periode, maka rakyat Indonesia akan tetap dipimpin Satriya Boyong Pambukaning Gapura. Jika Prabowo yang menang, kita bisa saja beranjak ke era selanjutnya atau bahkan tidak beranjak sama sekali. Prabowo menjadi presiden, negara bisa saja mengalami perubahan-perubahan setelah mendapat petunjuk dari Tuhan (Sinisihan Wahyu). Atau, justru aib-aib bangsa ini semakin terbuka lebar. Di rezim Jokowi bisa jadi pintu (aib) terbuka separuh dan ketika dilanjutkan kepemimpinan Prabowo pintu menjadi terbuka lebar.

Yang jelas bila merujuk era Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu, yaitu masa dimana negeri ini dipimpin oleh seorang tokoh yang memiliki penampilan atau latar belakang keagamaan (Pinandita) dan memiliki wahyu yang bisa digambarkan sebagai wahyu kekuasaan (jika raja) ataupun wahyu yang lain seperti inovasi atau penemuan tertentu, atau bisa juga hal lain yang berdekatan dengan wahyu-wahyu ketuhanan. Tokoh pemimpin ini akan senantiasa bertindak atas dasar hukum dan petunjuk Tuhan (Sinisihan Wahyu). Tapi bukan berarti dia ulama atau rohaniawan, melainkan memiliki jiwa seperti rohaniawan atau Pinandita. Di era ini, bangsa Indonesia akan mencapai jaman keemasan yang sejati.

Ramalan tokoh pemimpin nusantara (Satriya Piningit) sebelum datangnya Ratu Adil memiliki banyak kelemahan. Acapkali penggambarannya tidak detail, sehingga yang terjadi orangnya jadi presiden baru masyarakat sadar bahwa orang itu sesuai dengan tulisan para leluhur nusantara. Namun setiap penafsiran boleh saja dilakukan selama hal itu tidak bertentangan dengan norma-norma.

Seperti pesan Prabu Jayabaya dalam tulisannya, “jangan keliru mencari dewa carilah dewa bersenjata trisula wedha”, sebuah pesan bahwa ke depan akan banyak orang yang mengaku-aku Satriya Piningit. Caranya, dengan melakukan pencitraan sedemikian rupa agar diakui kebaikan dan kehebatannya oleh rakyat.

Yang namanya Satriya Piningit atau Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu memang benar-benar ada, tapi bukan untuk ditunggu. Dia adalah manusia nusantara, mempunyai sifat “bisa merasa” dan tahu kalau dirinya hebat. Namun kehebatannya itu tidak dipoles melalui citra dengan mengiklan-iklankan diri “merasa bisa” memperbaiki Indonesia.[]

1 KOMENTAR

  1. QS Al-Baqarah 147 “Kebenaran Satria Piningit itu Presiden Indonesia 2019 adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
    Alkitab Matius
    11:13 Yesus” Sebab semua nabi dan kitab suci bernubuat hingga tampillah Satria Piningit
    11:14 dan–jika kamu mau menerima Satria Piningit–ialah Presiden Indonesia 2019 yang tampil itu.
    11:15 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar: Siapa bermata, hendaklah ia membaca: Siapa membaca, hendaklah ia memahami”

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here