‘Rancak’, Keberagaman dan Harmoni dalam Seni

0
207

Nusantara.news, Surabaya – Keberagaman budaya, pola pikir, kebiasaan, maupun ide dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Keberagaman  itu justru merupakan identitas eksistensial dari masing-masing individu sebagai sebuah fakta sosial. Pelukis Masdibyo dan Gigih Wiyono memandang perbedaan sebagai bentuk energi yang dapat disatukan dengan harmonis dan apik. Visualisasi keberagaman dan harmoni itu terpampang dalam 30 karya lukis bertajuk “Rancak” yang dipamerkan di Galeri House of Sampoerna, Surabaya, mulai 3 Maret – 1 April 2017.

Rancak diterjemahkan sebagai proses harmonisasi yang tercipta dari keberagaman yang dinamis sebagai cara menjaga spirit kreativitas dan apresiasi dalam berkarya. Karakteristik dalam penciptaan yang berbeda dari keduanya menghadirkan karya variatif, namun tetap senada. Elok dalam sentuhan dan goresan kuas yang sarat pesan bagi penikmatnya.

“Ini merupakan gambaran tentang mahluk sosial yang acap kali terhenyak dan terhanyut, ketika terjadi peristiwa besar. Kemudian menuangkan hiruk pikuk perasaan itu ke dalam karya seni yang kerap memilukan, mengharukan, dan kadang juga membahagiakan. Itu salah satu karya yang kami tampilkan,” ucap Masdibyo, Rabu (3/1/2017).

Ungkapan Mas Dibyo itu tercermin dalam karyanya yang berjudul ‘Berdoa di Tengah Teror Jakarta’ dan ‘Rejeki Besar buat Bersama’. Lukisan bergaya ekspresionis karya Masdibyo ini seakan memberi makna perenungan sekaligus kebebasan dalam menginterpretasikannya bagi para penikmatnya.

Sementara itu, Gigih Wiyono, pelukis dan pematung asal Sukohardjo, Jawa Tengah menampilkan karyanya yang terinspirasi oleh mitos-mitos. Beberapa diantaranya adalah Dewi Sri dan kesuburan yang merupakan cerminan alam kosmologis yang hidup masyarakat agraris di kota kelahirannya. Sementara mitos tentang kekuasaan diwujudkannya ke dalam simbol keris, batik, aksara Jawa, dan motif tradisional lainnya, yang divisualkan secara kontemporer.

“Lukisan Berkah Berlimpah, Energi Berlimpah, Daun Sakti dan Sang Linuwih, merupakan penuturan pesan yang mengingatkan agar jangan pernah ragu dengan sesuatu yang telah di yakini. Karena kemampuan menyatukan jiwa antara yin dan yang, akan memberikan dampak positif bagi kehidupan lebih luas,” ucap Gigih.

Meski berbeda dalam berkarya, Masdibyo dan Gigih Wiyono memiliki kesamaan visi dan misi dalam berkesenian. Seni yang melatarbelakangi mereka membentuk kolaborasi dua kutub yang lahir pada tahun 2012 dengan debut pameran pertamanya di Bandung.

Masdibyo merupakan perupa yang merepresentasikan kutub utara (Pantura, Tuban, dan pesisir Jawa Timur, red.) dan cukup lama menggarap tema seputar kehidupan rakyat, kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan. Sementara Gigih Wiyono yang lahir dan besar di pedesaan merupakan perupa yang mewakili penjaga kearifan lokal kutub selatan (Sukoharjo, Solo, red.).

Pada pameran untuk yang kedua kalinya ini, mereka berharap dapat menambah wawasan serta menumbuhkan apresiasi generasi muda dan masyarakat luas terhadap karya seni. Pameran ini juga diharapkan dapat menularkan semangat kebersamaan dalam keberagaman dan saling mengisi dalam harmoni demi mencapai tujuan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here