Ratusan Kilometer Jalan Rusak di Jatim, Rawan Lakalantas

0
156

Nusantara.news, [Lokasi] – 

Tudji Martudji

Nusantara.news, Surabaya – Di Jawa Timur, jalan rusak dan berlubang terus bertambah. Dari total panjang jalan nasional yang mencapai 2.361,23 kilometer, sekitar 13,811 persen atau sepanjang 158,17 kilometer rusak berat. Sementara, upaya perbaikan yang serius belum terlihat oleh pemegang tanggung jawab perbaikan jalan. Akibatnya, yang paling terdampak dan dirugikan adalah masyarakat, utamanya pengguna kendaraan roda dua.

Jalan nasional di Jawa Timur ada 3 jalur yakni jalur lepas Surabaya-menuju daerah Pantura, jalur lepas Surabaya menuju tapal kuda, jalur Surabaya lepas menuju Madiun, banyak yang rusak parah. Sementara, yang dilakukan penambalan baru di ruas jalan Kalianak, arah Surabaya menuju Gresik, dan di wilayah Kecamatan Manyar, Gresik. Itu pun setelah mendapat protes  keras berulangkali oleh warga setempat. Di lokasi itu pengendara kerap jatuh, dan mengalami luka-luka.

Nusantara.news, menerima sejumlah pengaduan, mereka diantaranya mengaku terperosok, jatuh, dan mengalami luka-luka akibat jalan berlubang. Sambil merintih kesakitan, mereka menggerutu, mengaku kesal yang tak tahu harus dialamatkan kemana. Misalnya saja, dua orang perempuan berboncengan motor jatuh di perlintasan kereta api, di wilayah Desa Kecamatan Tanggulangi, Sidoarjo. Motor Vario yang ditumpangi terjerembab, roda depan masuk lubang. Tak ayal, kedua pengendaranya tersungkur mencium aspal.

“Sabtu kemarin (11/2), saya berdua dengan teman saya terjungkal di dekat rel kereta api Tanggulangin, karena lubang dan jalan di perlintasan kereta yang rusak parah,” ujar Suhartini, si pengendara motor.

Mereka melontarkan kritik, pemerintah harusnya cepat melakukan perbaikan jalan yang berlubang, karena sangat membahayakan. Apalagi jika malam hari, yang minim penerangan.

Soekarwo menyebut, lambatnya perbaikan karena sistem manajemen Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) V sangat jelek.

“Ini karena BBJN V dalam membuat manajemen jalan memang sangat jelek,” kata Soekarwo.

Selain, karena kewajiban pemerintah pusat sangat besar, juga sejumlah ruas jalan yang sebelumnya menjadi kewenangan pemprov kini berpindah menjadi kewenangan nasional atau pusat.

Ditanya tentang lambatnya penanganan perbaikan jalan, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim, Hamy Wahyunianto mengakui, itu karena berpindahnya status pengelolaan jalan dari Provinsi ke Nasional yang tidak dibarengi dengan koreksi anggaran.

“Itu karena pelimpahan status jalan yang ada belum masuk pada persoalan anggaran, akibatnya memperlambat proses perbaikan,” ujar Hamy Wahyunianto.

Ditambahkan, dalam pembahasan PAPBD, diupayakan ada koreksi anggaran pasca pelimpahan kewenangan status jalan dari Provinsi ke Nasional. Harusnya, BBJN V yang mendapat pelimpahan jalan Provinsi ke Nasional dapat bekerja keras. Karena selama ini masyarakat tahunya merupakan jalan Provinsi, yang kondisinya lebih baik dibanding Nasional. Dirinya mengaku mendukung Provinsi Jawa Timur, bahwa manajemen jalan harus dilakukan oleh BBJN V, agar jalan yang ada (di Jatim) tidak sampai rusak berat.

“Seharusnya BBJN V bercermin dengan yang dilakukan oleh Dinas PU Bina Marga Jatim,” jelasnya.

Setelah banyak keluhan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) V kemudian melakukan perbaikan di ruas jalan Kalianak-Gresik, tetapi tidak maksimal. Data yang dimiliki BPJN V, jalan nasional di perlintasan Gresik-Sadang-Tuban rusak berat sepanjang 10 kilometer. Di Mojokerto, jalan rusak tak hanya di ruas jalan utama, tetapi juga di By Pass Mojokerto kondisinya memprihatinkan dan sangat membahayakan.

Satlantas Polres Mojokerto juga menyebut, sedikitnya ada tujuh kali peristiwa kecelakaan, satu korban meninggal dunia akibat jalan rusak. Jalan rusak lainnya di Simpang Empat Kenanten, sampai di tugu perbatasan Mojokerto-Jombang di Kecamatan Trowulan, kondisinya juga parah. Termasuk di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, di jalan ini pengendara juga kerap terjungkal.

Di Sidoarjo, jalan rusak hampir merata. Misalnya, di ruas Candi, Buduran, dan ruas jalan Gedangan, dan di wilayah Tanggulangin dan Bringinbendo, Kecamatan Taman juga banyak lubang.

“Banyak yang terjungkal dan jatuh. Kami berharap, pemerintah segera melakukan perbaikan karena kondisinya sangat membahayakan pengendara khususnya roda dua,” ujar Makruf, warga setempat.

Percepatan perbaikan jalan nasional dipastikan akan berlangsung lama.

Karena, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengingatkan Provinsi Jawa Timur kalau kewenangan perbaikan jalan menjadi tugas nasional. Dikhawatirkan akan ada dobel account, jika Provinsi Jawa Timur, turun tangan melakukan perbaikan.

“Alasannya jalan yang mau diperbaiki adalah jalan nasional. Ditakutkan ada double account,” kata Soekarwo.

Pakde Karwo sapaan Soekarwo, mengakui pihaknya (Pemprov Jatim), kerap mendapat protes dan pengaduan terkait jalan rusak.

“Masyarakat minta jalan rusak segera diperbaiki, karena memang tidak tahu kewenangan siapa,” tambahnya.

Meski begitu Provinsi Jawa Timur, untuk perawatan jalan provinsi dialokasikan anggaran sebesar Rp1,1 triliun. Sedangkan untuk jalan kabupaten/kota, gubernur minta bupati/wali kota juga ikut fokus melakukan memperbaiki jalan.

“Tahun 2017 ini kami harapkan kabupaten/kota di Jatim fokus pada pembangunan infrstruktur khususnya jalan,” pinta Pakde Karwo.

Dijelaskannya, pada tahun 2017 ini alokasi anggaran Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional disiapkan sebesar Rp1,5 triliun. Anggaran itu naik dibanding tahun 2016, yang sebesar Rp1,3 triliun.

Meski begitu, alokasi anggaran tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan perbaikan jalan nasional di Jawa Timur. Karena panjang total jalan nasional di Jawa Timur mencapai 2361,23 kilometer, harusnya anggaran yang disediakan Rp3 triliun.

Selain akibat berat tonase kendaraan yang melintas, penyebab jalan rusak juga akibat hujan dan banjir.  Untuk itu, diharapkan pemerintah kembali meninjau dengan ketat aturan muatan yang berdampak pada kerusakan jalan.

Akibat jalan berlubang dan tergenang air yang kerap mencelakai ternyata juga dirasakan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf. Gus Ipul, sapaannya Saifullah mengaku banyaknya jalan rusak yang mencelakai tak terhitung disuarakan oleh masyarakat, bahkan dia mengaku juga ikut merasakan, jadi korban jalan rusak. Ban mobil dinasnya, Alphard mengalami pecah ban. beruntung sopir bisa menguasai kendaraan hingga tidak fatal.

“Kejadian pertama saat melintas di jalan nasional di kawasan Kraton Pasuruan, dan kedua di ruas jalan bypass Krian Sidoarjo. Saat itu saya sedang tidur, saya terkejut, saya kira mobil menabrak, ternyata kena jalan berlubang,” jelasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here