Aksi Pemuda Kota Malang, Dukung Petani Kendeng Tolak Pembangunan Pabrik Semen

0
132

Nusantara.news, Kota Malang – Ratusan pemuda pemudi kota malang yang berasal dari berbagai elemen dan kelompok tergabung dalam satu barisan Aliansi Malang Peduli Kendeng berunjuk rasa di Bundaran Tugu, di depan Balai Kota Malang, Kamis (23/3/2017) sekitar pukul 10.34 WIB.

Dalam aksinya, mereka menolak pendirian pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng. Selain itu, mereka juga menuntut agar Presiden Joko Widodo menghentikan izin operasi pabrik semen karena terbukti merusak ruang hidup petani.

Massa melantangkan kata-kata orasi, lantunan puisi dan membentangkan sejumlah panji-panji tuntutan atau banner. Berbagai macam tulisan pada panji-panji tuntutan tersebut antara lain ‘sawah habis di negeri agraris’, ‘tolak pabrik semen’, ‘kami terjajah karena gubernur serakah’, ‘kami nesu (marah, red.) karena negara bisu’, serta tulisan ‘kami didukung seluruh rakyat kontra pembangunan semen’ dan ‘jangan menzalimi petani Kendeng!’.

Sorak suara nyanyian, yel-yel dan lagu terus bergema di sekitar Bundaran Tugu di depan Balaikota tersebut. Mereka pun melantunkan nyanyian, seperti ‘Buruh Tani’ dan ‘Darah Juang’.  Selain itu, para demonstran juga membawa foto Ibu Patmi, salah satu petani Kendeng yang tanahnya terkena dampak pembangunan pabrik semen.

Sebagaimana diketahui, Ibu Patmi yang kerap turun dalam aksi menentang pabrik semen itu melakukan pengecoran semen pada kakinya, hingga akhirnya meninggal dunia pada (16/3/2017) lalu.

“Dalam Aksi ini, kami bersama Malang Peduli Kendeng memperjuangkan hak masyarakat di kawasan pegunungan Karst Kendeng, agar presiden menghentikan izin operasi pabrik semen tersebut,” ungkap Rudi, salah seorang organisator aksi Aliansi Malang Peduli Kendeng.

Rudi menjelaskan, ada beberapa poin tuntutan yang diajukan, diantaranya adalah kecaman terhadap sikap pemerintah, khususnya Presiden Jokowi, yang kurang memiliki kepekaan politik karena tidak segera mengambil kebijakan untuk melindungi hak-hak warga Kendeng. “Aksi kami merupakan suatu bentuk bukti dukungan dari warga Kota Malang yang menolak pembangunan pabrik semen di Kendeng,” jelasnya.

Ia  menambahkan bahwa dalam era pembangunan ini, industri seolah dibiarkan liar begitu saja. Masyarakat juga diadu domba serta membiarkan mereka masuk dalam pusaran konflik dengan pihak manajemen PT Semen Indonesia.  

“Padahal, sudah ada putusan Peninjauan Kembali dari Mahkamah Agung MA pada 5 Oktober 2016 lalu dengan nomor register 99 PK/TUN/2016 yang membatalkan dan memerintahkan pencabutan izin lingkungan pabrik semen tersebut,” terang Rudi kepada Nusantara.news, Kamis (23/3/2017).

Di sisi lain, menurut Rudi, pemerintah setempat hanya melakukan pengkajian ulang terhadap kerusakan lingkungan serta menunggu kajian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Apa yang dilakukan pemerintah seolah-olah ingin terus memberi jalan bagi pembangunan semen tersebut.

“Sudah jelas, pembangunan pabrik semen akan berpotensi pada terganggunya sumber cadangan air sekitar serta mengancam lapangan pekerjaan para warga sekitar, khususnya petani. Manusia itu butuh padi dan beras untuk kehidupan, bukan semen,” pungkasnya. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here