Ratusan Ribu Keluarga Muda Inggris Tinggal di Rumah Kumuh

0
385
Carley Jones (23) beserta anaknya yang menempati rumah sewa yang sangat tidak layak huni dan merasa menjadi gembel di rumah sendiri Foto The Guardian

Nusantara.news, London – Diperkirakan sekitar 338 ribu rumah milik pribadi yang kumuh dan rusak parah disewakan kepada keluarga-keluarga muda. Penyebabnya tak lain mahalnya biaya sewa properti layak huni yang harganya tidak terjangkau oleh mereka.

Tentu saja rumah yang mereka sewa tidak sehat. Akibatnya ratusan ribu keluarga muda itu rentan terserang beragam jenis penyakit. Tikus, dinding berjamur, kabel listrik yang terbuka, atap yang bocor dan kunci yang rusak termasuk di antara kondisi yang membahayakan penghuninya.

Inilah kondisi interior rumah yang sangat mengkhawarirkan

“Saya merasa seperti gembel di rumah saya,” ungkap ibu muda Inggris yang bekerja sebagai cleaning service paruh waktu di sebuah sekolah.

Itulah persoalan mendasar yang dihadapi keluarga muda di Inggris di tengah semakin buruknya pemerintah menyediakan rumah murah dan layak huni. Dalam tujuh tahun terakhir biaya sewa sudah naik 15%.

Berdasarkan pantauan surat kabar The Guardian yang mendatangi rumah-rumah tidak layak huni dengan biaya sewa 1.100 poundsterling per bulan, ditemukan fakta adanya lubang di dinding luar, tempat tidur dipenuhi serangga, air terus menetes dari langit-langit dan dapur yang rusak.

Dapurnya pun terlihat rusak parah

Seorang ibu berusia 30 tahun yang tinggal di Bristol mengatakan rumahnya sangat lembab sehingga tempat tidur anaknya tercium bau busuk. Cerita lainnya datang dari seorang ibu 34 tahun yang tinggal di Luton tinggal di rumah tanpa pemanasan yang penuh dengan tikus dan kecoak. Satunya lagi, seorang ibu 24 tahun asal Kent mengisahkan rumahnya yang lembab dan tanpa kabel pemanas.

“Orang dewasa muda di Inggris memiliki pilihan yang sangat terbatas selain menyewa dari rumah pribadim tapi setidaknya kita mengharapkan rumah yang layak sebagai imbalan apa yang kita bayar. Kita juga tidak bisa berharap kepada Dewan Kota yang tidak memiliki uang untuk memperjuangkan hak-hak kita di saat kita dalam situasi terjebak di rumah yang tidak aman,” beber Direktur Rent Generations Dan Wilson Craw.

Perjuangan Bersama

Perjuangan politik anak-anak muda itu membuahkan tawaran dari anggota Parlemen lintas partai yang memberikan kekuatan baru kepada mereka untuk mendesak pemilik rumah yang tidak bertanggung jawab atas properti yang disewakannya.

Pemerintah pun tampaknya juga mendukung sebuah rancangan Undang-Undang (RUU) yang lebih memungkinkan penyewa mengambil tindakan hukum langsung kepada pemilik rumah tanpa harus melewati pemerintah daerah sebagaimana yang sekarang berlaku.

Mengutip hasil laporan Shelter yang terbit minggu lalu tercatat ada 48% keluarga yang menyewa di rumah pribadi melaporkan masalah tentang kondisi buruk dan tidak aman. Sayang, para pelapor merasa diabaikan dan ditolak oleh pihak yang berwenang.

Tangganya pun dalam kondisi mengerikan

Dukungan politik meluas setelah terjadinya kasus kebakaran di Grenfell Tower. Di tempat itu sebelumnya penghuni mengeluh tentang kondisi keamanan yang tidak dipedulikan hingga terjadinya kebakaran yang membuat 71 keluarga kehilangan rumah.

Tujuh bulan sebelum terjadi kebakaran, Ed Daffern, anggota Grenfall Action Group telah mengingatkan kondisi yang membahayakan dan menulis di sebuah blog, “hanya bencana yang akan mengungkapkan kebodohan dan ketidakmampuan tuan tanah kita.

”Data pemerintah menyebutkan sebanyak 2,4 juta orang Inggris tinggal di rumah kontrakan, baik sektor swasta atau milik pemerintah, dengan kategori bahaya tingkat I. Angka itu termasuk 756 ribu rumah tangga yang tinggal di rumah sewa pribadi yang dikontrakkan oleh pemiliknya. Hampir satu di antara lima dari keseluruhan penyewa rumah rusak – atau 244 ribu kepala keluarga tinggal di perumahan milik pemerintah.

RUU Rumah Layak Huni

Daerah yang paling berbahaya adalah East Midland dan West Midland yang rata-rata rumahnya bergaya Victoria. Namun berdasarkan survei para pekerja Kementerian Perumahan Inggris tercatat seperempat juta properti di sana dalam kategori bahaya tingkat I. Bahaya yang mengancam meliputi kabel yang terbuka, soket listrik berlebih, boiler rusak, kamar tidur dingin, atap yang bocor, jamur, hama dan tangga yang rusak.

Lebih seperempat dari keseluruhan rumah pribadi yang disewakan di West Midland  tergolong sangat tidak layak untuk tempat tinggal manusia.

“Satu juta rumah di negara ini sekarang tidak layak. Penghuni terancam beragam penyakit dan dalam beberapa kasus keamanan penyewa dalam bahaya,” ungkap Karen Buck, anggota parlemen untuk Partai Buruh untuk Westminster Utara yang telah merancang RUU Tempat Tinggal Manusia melalui parlemen.

“Sebab sekarang tidak ada kewajiban bagi pemilik menyewakan rumah tinggal yang layak huni bagi penyewanya,” tandas Buck.

Di antara rumah yang rusak parah kategori I, London Borough of Newham memperkirakan ada 10 ribu rumah sewaan pribadi yang kondisinya sangat parah. Inspekturnya telah memotret tikus di lemari makan, bak mandi dan tempat tidur di dapur, kamar tidur di lemari dan rumah dengan lembaran plastik pelindung dari air di atap.

“Dalam prakteknya saat menyewa rumah anda hanya memiliki sedikit hak ketimbang saat anda misalnya membeli kulkas,” ulas John Healey MP yang menjabat Menteri Perumahan oposisi dari Partai Buruh.

“Terlalu banyak orang yang dipaksa menghuni rumah berbahaya. Setelah kebakaran mengerikan di Grenfell Tower, lebih penting lagi kalau Menteri (yang berkuasa) mendukung rencana Partai Buruh untuk membuat UU yang mengharuskan setiap rumah layak dihuni oleh manusia,” lanjutnya.

Sekretaris Perumahan Sajid Javid bertekad melakukan segala kemungkinan untuk melindungi penyewa dan meminta dukungan pemerintah untuk UU baru yang mewajibkan semua pemilik untuk memastikan properti aman dan memberi hak penyewa untuk melakukan tindakan hukum apabila pemilik rumah tidak mempedulikan keselamatan penyewa.

“Tragedi Grenfell menimbulkan konsekuensi bencana dari perumahan yang tidak aman dengan cara yang paling menghancurkan, dan bagaimana pun hukum kita telah gagal melindungi masyarakat untuk bertempat tinggal di rumah yang aman dan layak,” tuding Direktur Eksekutif Shelter Polly Neate.

“Terlalu banyak penyewa rumah milik dan perumahan milik pemerintah yang dipaksa hidup dalam kondisi buruk dan kadang berbahaya. Dan mereka tidak bisa mengatasinya lewat hukum untuk mengajukan gugatan ke pemilik rumah,” imbuhnya.

Kesaksian Penguni

Carley Jones mengaku biaya sewa Flat di kawasan Medway, Kent, selama tiga tahun terakhir naik hingga 40 persen. Penghasilannya tidak cukup untuk menyewa itu. Maka dia tinggal di rumah pribadi sewa yang kondisinya mengenaskan. Sebuah lubang di dinding kamar tidurnya membuat udara begitu dingin. Dia tidur di ruang tamu bersama jemuran yang apabila ditempatkan di kamar mandi sulit kering karena udaranya lembab.

“Banyak orang mengalami situasi ini,” ujar Carley (23) yang bekerja sebagai Cleaning Service paruh waktu di sebuah sekolah. “Sangat mudah bagi pemilik mengabaikan penghuni karena banyak orang yang putus asa untuk menemukan property.”

Lebih parahnya lagi, Jones yang tinggal di lantai bawah, beberapa meter dari pintu rumahnya tinggal seorang pria paruh baya persis di depan toko kosong selama 6 bulan. Pria itu, sebut Kementerian Perumahan, satu di antara 4.750 tuna wisma yang tidur di jalanan Inggris.

“Saya berjalan melewatinya dan berpikir, jangan-jangan tidak lama lagi saya seperti dia,” ujar Jones. “Saya merasa seperti gembel di rumah saya sendiri. Tidur nyenyak adalah suatu kemewahan. Ada sejumlah besar tekanan dan sekarang saya mengalami depresi dan kecemasan.”

Kepemilikan swasta di sektor perumahan di Inggris dan Wales menanjak pesat alam 15 tahun terakhir. Hanya seperlima dari keseluruhan jumlah penyewa yang tinggal di perumahan milik pemerintah. Beberapa juta memang bahagia tinggal di properti sewaan pribadi, namun setidaknya tercatat 756 ribu rumah tangga yang hidup pas-pasan di rumah tidak layak huni.

Itu terjadi di Inggris, sebuah negara makmur yang ratusan tahun mengakumulasi kapital dari negeri-negeri jajahan. Bagaimana pula dengan Indonesia yang baru 72 tahun merdeka? Untuk itu perlu pemerintahan yang visioner, cerdas, tegas dan tidak mementingkan diri sendiri agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan, sanndang dan papan kepada rakyatnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here