Ratusan Ribu Pelajar AS Gelorakan Perubahan, Indonesia?

0
741
Tercatat ratusan ribu anak muda melakukan aksi turun ke jalan menentang politisi-politisi yang dibiayai asosiasi pabrik senjata api nasional/ Foto NBC News

Nusantara.news, Washington – Saat mahasiswa dan pelajar di Amerika Serikat (AS) turun ke jalan di Indonesia kegiatan turun ke jalan dianggap ketinggalan zaman. Padahal Benedict Anderson – lewat bukunya “Revolusi Pemuda” menyebut Indonesia ada karena kegigihan anak mudanya berjuang menegakkan prinsip.

Indonesia ada bukan karena pemberontakan bersenjata, bukan pula karena gerakan Serikat Pekerja, melainkan karena adanya anak-anak muda yang memiliki kemauan keras untuk perubahan. Tapi julukan itu lupakan saja. Kesenjangan sosial yang akut, awetnya angka kemiskinan, dan korupsi yang tiada habis-habisnya gagal menggerakkan hati anak-anak muda turun ke jalan – menuntut perubahan.

Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan anak-anak muda. Terus turut campurnya generasi yang lebih tua membuat anak-anak muda kehilangan prinsip dasarnya – sebagai generasi pemilik masa depan yang mestinya tanggap dengan panggilan zaman. Bagaimana mereka peka membaca tanda-tanda zaman kalau mereka terkurung dalam dogma, atau terjebak dalam organisasi yang tidak pernah berdaulat kepada senior-seniornya?

Bahkan di hadapan generasi yang lebih tua acap kali mereka mengalami “early maturity” yang bersikap arif dan santun seperti kebanyakan orang tua. Pencarian dirinya sebagai anak muda hilang – sebagian lagi terperangkap dogma yang sesungguhnya tidak mereka mengerti, hanya butuh meyakini tanpa mengasah akal dan jiwa untuk bertanya.

Ini lain dengan di AS yang sebenarnya tidak ada tradisi “gerakan mahasiswa”. Lain dengan di Indonesia sejak 1908, 1928, 1945, 1965, 1974 dan 1998 yang kesemuanya menempatkan anak muda di garda depan perubahan. Jadi sebenarnya sangat ironis melihat kenyataan – Amerika Serikat yang meskipun ekonomi sedang melambat tapi hidup masih berkecukupan itu anak mudanya mau turun ke jalan sedangkan anak muda berpendidikan Indonesia mengalami penuaan dini yang menjauh dari fitrahnya sebagai anak muda.

Melawan Kapitalis Senjata Api

Kini anak muda di AS muak mendengar dalih-dalih dari sejumlah politisi yang membela hak penggunaan senjata api. Tapi di balik dalih itu mereka tahu, sejumlah politisi dibiayai oleh Asosiasi Pabrik Senjata Api Nasional (NRA/National Rifle Association). Untuk itu mereka turun ke jalan menyerukan penggunaan hak pilih di bilik suara untuk membungkam para politisi yang  menjual dogma Amandeman ke-2 Konstitusi AS untuk kepentingan pribadinya.

“Perubahan hanya bisa terjadi kalau calon-calon senator yang mendukung hak penggunaan senjata api kita kalahkan lewat Pemilu,” ucap berapi-api seorang pelajar dari atas panggung dalam demonstrasi besar-besaran yang melibatkan ratusan ribu pelajar di Amerika Serikat (AS), Sabtu (24/3) lalu.

Reli akbar yang bertajuk “March for Our Lives” itu memang menggelorakan semangat perlawanan terhadap senator dan DPR Amerika yang dibiayai oleh Asosiasi Pabrik Senajata Api Nasional (NRA/National Rifle Association). Untuk itu para Senator dan DPR yang dibiayai oleh NRA mesti dikalahkan di bilik Pemilu.

Sepanjang jalan dalam reli akbar itu, para pelajar membagi-bagi pamphlet dan seruan kepada calon pemilih Pemula agar mendaftarkan diri ikut Pemilu. Tujuannya tak lain membatasi kepemilikan senjata api yang sekarang ini dijual bebas – bahkan lebih bebas dari penjualan alcohol. Pemilihan umum (Pemilu) mereka anggap sebagai satu-satunya cara menekan politisi untuk mengusulkan lahirnya Undang-Undang yang mereka inginkan.

Mereka tidak menuntut penghapusan kepemilikan senjata api oleh masyarakat – karena itu dilindungi oleh Amandemen ke-2 konstitusi AS tentang hak mempersenjatai diri. Tuntutan mereka terhadap reformasi kepemilikan senjata api mencakup tiga hal. Pertama, adanya pemeriksaan kejiwaan menyeluruh terhadap pemilik senjata api. Kedua, senjata serbu tidak boleh dijual secara bebas. Dan ketiga, amunisi berkapasitas tinggi tidak boleh diperdagangkan secara bebas.

“Mari kita bawa ini ke legislator lokal kita dan mari kita bawa isu ini ke pemilu sela,” seru David Hogg – satu di antara yang selamat dari penembakan di Sekolah Menengah Marjory Stoneman Douglas yang juga sekaligus membantu mengatur pawai. “Karena tanpa memanaskan (isu) secara terus menerus, tanpa ketekunan pemilih dan tanpa peran serta orang Amerika ke bilik suara, demokrasi tidak akan berkembang.”

Ada banyak organisasi yang terlibat dalam reli – setiap hari Sabtu. Gerakan yang diprakarsai keluarga korban penembakan, mahasiswa dan pelajar AS itu bertekad meningkatkan jumlah pemilih terdaftar. Sebut saja HeadCount – organisasi non partisan yang mendaftarkan pemilih muda pada acara itu – bermitra dengan pelajar di belakang panggung “March for Our Live” dan telah mengirim 1000 relawan mendaftar peserta aksi di Washington yang dihadiri sekitar 800 ribu demonstran.

Para relawan berkemeja kuning dan hijau, ujar Juru Bicara HeadCount Aaron Ghitelman, masing-masing dibekali formulir pendaftaran dan masing-masing pula mengembalikan 10 hingga 20 formulir pendaftaran. Dan orang-orang muda yang mengisi formulir berasal dari seluruh negeri. “Itu jumlah yang sangat luar biasa,” ucapnya.

HeadCount juga mengirimkan relawan ke pawai-pawai lainnya di seluruh negeri – dan beberapa organisasi lain melakukan hal yang sama. Maka gerakan para mahasiswa dan pelajar sepenjuru AS itu tidak dapat dianggap enteng oleh siapa pun politisi AS. The Grand Old Party (GOP) alias Republik yang sejumlah kandidatnya menerima cipratan dana dari NRA diperkirakan tidak akan banyak terpilih pada Pemilu Sela – atau disebut juga paruh waktu – pada November ini.

Diane Burrows – wakil presiden Liga Pemilih Perempuan di New York juga mengabarkan kelompok yang dipimpinnya telah melatih dan mengirim sekitar 50 relawan ke rombongan pawai hari Sabtu. Masing-masing relawan membawa clipboard dan 10 formulir pendaftaran – dan beberapa dari mereka kembali ke kantor dengan membawa calon pemilih terdaftar.

Kepekaan Anak Muda Indonesia

Bagaimana dengan mahasiswa di Indonesia? Kesenjangan sosial yang disebabkan oleh ketimpangan dalam hal kepemilikan lahan dan asset-aset lainnya tidak menggerakkan mereka untuk menuntut land reform atau menuntut dikembalikannya keragaman hayati dari hutan-hutan monokultur yang tersisa – atau setidaknya penguasaan lahan-lahan yang ditelantarkan pemilik perkebunan ke petani, atau cara-cara lainnya yang dapat menghambat laju kesenjangan sosial yang akan terus melebar tanpa penyikapan.

Tentu saja ini urusan anak muda untuk lebih peka dan tanggap oleh panggilan zamannya. Generasi yang lebih tua mestinya juga tidak terlalu mencampuri kedaulatan anak muda untuk apa pun kepentingan politikya. Sehingga saat anak muda memberikan “kartu kuning” kepada Presiden Joko Widodo tidak dibully hanya karena dicurigai ada kepentingan generasi yang lebih tua di belakangnya.

Biarkan anak muda berkreasi dengan sikap yang berdaulat. Tapi kalau tidak ada gerakan sama sekali itu pertanda – entah hilang empati atau larut dalam dunia yang tertutup oleh dogma atau ketakutan tidak mendapatkan akses dari senior, atau apa yang mungkin patut direnungkan bersama – terutama oleh kalangan anak muda itu sendiri.

Sebab, bubar tidaknya negara ini tergantung kepada kepekaan mereka membaca keadaan. Kalau tidak peka, bukan salah bunda mengandung kalau novel Ghost Fleet yang meskipun hanya sepintas lalu mengangankan Indonesia Bubar akan menjadi nyata – entah berapa tahunnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here