Ratusan Staf Diplomatnya “Dipecat” Rusia, Trump Akhiri Bulan Madu dengan Putin?

0
62
Momen pertemuan presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di KTT G20, Hamburg Jerman, 7-8 Juli 2017. Foto: Getty Images

Nusantara.news, Moskow – Kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat digadang-gadang menjadi babak baru hubungan AS-Rusia yang telah lama membeku sejak berakhirnya Perang Dingin. Trump, sejak terpilih sebagai presiden pada November tahun lalu menunjukkan kedekatannya dengan presiden Rusia Vladimir Putin. Ia juga mengangkat sejumlah pembantu yang diduga memiliki kedekatan dengan Putin, salah satunya Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Tapi rupanya bukan hal mudah mengubah arah kebijakan hubungan AS-Rusia yang telah saling bertentangan selama puluhan tahun lamanya itu. Sebelum masa “bulan madu” Trump-Putin berlanjut kerja sama, presiden populis itu digoyang berbagai-macam isu terkait “skandal” hubungan dengan Rusia, dari mulai soal kecurangan waktu Pilpres hingga soal pembocoran informasi intelijen.

Kini, sepertinya keberlanjutan hubungan Trump dan Putin tidak bisa diharapkan lagi. Presiden Rusia itu telah mengeluarkan keputusan cukup mengejutkan. Putin memerintahkan agar 755 staf dan karyawan diplomat AS di Moskow dipulangkan atau diberhentikan pada Minggu (30/7) kemarin. Keputusan itu harus sudah dilaksanakan mulai 1 September mendatang.

Keputusan putin merupakan buntut dari disetujuinya Rancangan Undang-Undang (RUU) yang memuat sanksi baru terhadap Rusia oleh Kongres AS pada Kamis (27/7) lalu. Rusia dijatuhi sanksi atas sejumlah tuduhan, seperti ikut campur dalam pemilu AS, mendukung rezim Suriah, mendukung pemberontak Ukraina dan aneksasi Crimea dari Ukraina. Saat ini RUU itu tinggal menunggu tanda tangan presiden AS Donald Trump.

Sebagaimana dilansir New York times, dalam membuat pengumuman tersebut, Presiden Putin mengatakan, Rusia telah kehabisan kesabaran untuk menunggu hubungan dengan AS membaik.

“Kami menunggu cukup lama bahwa, mungkin, sesuatu akan berubah menjadi lebih baik, kami menunggu harapan bahwa situasinya akan berubah,” kata Putin dalam sebuah wawancara di televisi milik negara Rusia, Rossiya 1, pada Minggu (30/7).

“Tapi, kalau dilihat dari semuanya, perubahan itu tidak akan segera terjadi,” kata Putin.

Putin mengatakan, pengurangan staf diplomat AS tersebut memang dimaksudkan untuk menimbulkan ketidaknyamanan bagi Washington dan para diplomatnya di Moskow.

“Lebih dari 1.000 karyawan—diplomat dan pekerja teknis—saat ini bekerja di Rusia; 755 di antaranya harus menghentikan aktivitasnya,” kata Putin.

“Itu cukup menggigit,” katanya lagi.

Langkah yang dilakukan Putin terhitung merupakan langkah diplomatik yang paling keras sejak konflik diplomatik serupa pada tahun 1986, di hari-hari pada saat runtuhnya Uni Soviet.

Keputusan ini juga menandai sikap diplomatik paling keras Rusia, sejak awal bulan lalu, saat Putin bertemu Trump secara langsung untuk pertama kalinya sebagai presiden AS pada KTT G-20 di Hamburg, Jerman.

Sebelum pertemuan tersebut, Trump bicara banyak soal keinginan memperbaiki hubungan dengan Rusia, memuji Putin dan Kremlin yang telah mengantisipasi pertemuan langsung dua presiden itu, yang akan menjadi awal era baru. Saat itu, Moskow telah melihat sebagai sinyal akan terbangunnya hubungan baik AS-Rusia.

Tapi persetujuan Kongres pada Kamis lalu, dan indikasi Presiden akan menandatangani RUU tersebut, telah mengubah segalanya. Putin marah sehingga melakukan sikap keras terhadap AS.

Sementara itu, Washington menyesalkan tindakan Putin terhadap ratusan staf dan karyawan kedutaan besarnya di Rusia. Kedutaan besar AS juga menyatakan protes atas keputusan presiden Rusia itu.

“Ini adalah tindakan yang disesalkan dan tidak beralasan,” kata pernyataan Departemen Luar Negeri AS.

Kongres AS mengeluarkan sanksi baru untuk menghukum Rusia karena dianggap mencampuri Pilpres AS tahun 2016, termasuk membocorkan email yang mempermalukan Hillary Clinton saat masa kampanye.

Kongres juga telah menyelidiki kemungkinan adanya kolusi antara tim kampanye Donald Trump dengan pemerintah Rusia yang diduga melibatkan putra tertua Trump, Donald J. Trump Jr. yang baru-baru ini mengkonfirmasikan, dia bertemu dengan seorang pengacara Rusia yang terkait dengan pemerintah Rusia untuk mendiskusikan soal penghapusan sanksi AS terhadap Rusia sebelumnya.

Sejauh ini, Presiden Rusia Vladimir Putin berkali-kali membantah campur tangan Rusia dalam Pilpres AS. Putin mengatakan, sentimen anti-Rusia di AS telah digunakan untuk menggerakkan pertempuran politik internal (antara Demokrat dan Republik).

Apakah hubungan Trump-Putin berakhir?

Ada pendapat berbeda soal masa depan hubungan Trump-Putin. Mengingat, jika dilihat dari sisi waktu, keputusan diplomatik Putin diumumkan setelah persetujuan Kongres AS, namun sebelum penandatanganan oleh Trump. Tampaknya Putin masih “menjaga perasaan” presiden AS itu.

Seorang pengamat di Carnegie Moscow Center, Alexander Baunov, sebagaimana dilansir New York Times menulis, bahwa langkah-langkah Rusia diumumkan pada saat yang paling “nyaman”.

“Segera setelah Kongres memilih untuk menyetujui sanksi baru, namun sebelum Trump menandatanganinya.” Ini menurutnya, memberi kesan bahwa tanggapan keras Putin adalah terhadap Kongres AS, dan bukan terhadap Trump.

Tapi apa pun itu, kebijakan yang diperlihatkan Putin tentu akan mempersulit terciptanya babak baru hubungan AS-Rusia di masa mendatang.

Jika dilakukan pengurangan sejumlah 755 staf atau karyawan, kedutaan besar AS di Rusia akan memiliki sejumlah 455 staf dan karyawan. Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah orang-orang Rusia yang dipekerjakan untuk misi diplomatik di AS.

Namun, sebagian besar dari 755 orang yang dipecat itu kemungkinan adalah pegawai asal Rusia yang bekerja di kedutaan AS di Moskow, juga dari konsulat AS di St. Petersburg, Yekaterinburg dan Vladivostok.

Tidak seperti halnya misi diplomatik Rusia di AS yang cenderung tidak mempekerjakan orang Amerika, AS justru mempekerjakan ratusan orang Rusia di kedutaannya yang melakukan tugas seperti penterjemahan, memproses aplikasi visa, memasak, mengemudi, dan lain sebagainya. Mereka itulah yang justru nanti akan “dipecat”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here