Ratusan WNI di Najran Sudah Terbiasa Ditembak Rudal

0
72
Sebanyak 700 warga negara Indonesia (WNI) tinggal di Najran. Rata-rata mereka bekerja sebagai penjahit dan salon kecantikan. Di tempat tinggalnya, mereka kerap dibidik rudal dari Yaman yang dianggap sebagai petasan.

Nusantara.news, Arab Saudi – Pemberontak Syiah Al-Houthi yang menguasai sebagian wilayah Yaman, seringkali menembakkan rudal balistik ke arah Arab Saudi. Serangan rudal semacam itu telah memasuki tahun ketiga perang pimpinan Arab Saudi melawan kelompok Syiah Yaman.

Stasiun TV Al-Masirah milik kelompok Al-Houthi memberitakan, para milisi itu menembakkan rudal balistik jarak-jauh ke arah Pangkalan Militer Raja Faisal di Provinsi Jazan, bagian selatan Arab Saudi.

Tidak hanya itu, pemberontak Al-Houthi juga menembakkan sejumlah rudal balistik ke Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh dan markas raksasa minyak Aramco di perbatasan Arab Saudi di wilayah Najran. Pada Jumat (13/4/2018), pemimpin milisi Al-Houthi, Abdul-Malik Al-Houthi berikrar akan mengembangkan simpanan rudalnya yang didukung Iran.

Bahkan sebelumnya, kelompok pemberontak mengirimkan rudalnya ke wilayah Riyadh, tepatnya pada Senin (26/3/2018) dini hari. Ini bukan pertama kalinya pemberontak Al-Houthi menembakkan rudal ke arah Riyadh. Pada bulan Desember, pemberontak menembakkan satu rudal ke arah Istana Raja Arab Saudi di Riyadh.

Laporan Al-Arabiya menyebut satu orang berkewarganegaraan Mesir meninggal dunia akibat serpihan rudal yang jatuh ke pemukiman warga di sekitar kota Riyadh, sementara dua lainnya mengalami luka cukup serius.

Bagi Arab Saudi, jatuhnya korban tewas ini adalah yang pertama sejak Yaman melakukan aksi balas dendam atas invasi yang dilakukan Arab Saudi dan koalisinya pada 2015.

Kantor berita yang dikuasai kelompok pemberontak Houthi, SABA menyebutkan tipe-tipe rudal yang diluncurkan dari Yaman ke Riyadh itu adalah Qaher-2, Bukran-2H, dan Bader-1.

Total ada tujuh rudal yang diarahkan ke Riyadh, tiga di antaranya langsung mengarah ke Riyadh, dua mengarah ke Jazan, dan masing-masing satu lainnya ke Khamis Mushait dan Najran.

Meski serangan rudal dilancarkan bertubi-tubi ke wilayah Arab Saudi, namun semuanya bisa dicegal oleh pasukan pertahanan udara Arab Saudi. Hingga kini total peluncuran rudal jarak jauh ke wilayah Arab Saudi sudah mencapai 120 rudal.

Nah, bagi warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Najran dan Jazan, mereka sudah biasa menjadi sasaran roket maupun rudal kiriman dari Yaman. Kedua wilayah (Najran dan Jazan) yang masuk perbatasan Arab Saudi dan Yaman ini memang menjadi langganan sasaran rudal.

Lokasi Najran dan Jazan di Arab Saudi (tanda merah) yang menjadi sasaran roket maupun rudal dari pemberontak Al-Houthi di Yaman.

Justru yang khawatir dengan keselamatan mereka adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh. Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, sudah menjadi tugas pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan para WNI di wilayah konflik tersebut. Hal ini dibuktikan saat KBRI Riyadh mendatangi wilayah Najran untuk melakukan pertemuan dengan para WNI pada Kamis (19/4/2018).

“Kunjungan KBRI Riyadh ke Najran merupakan wujud kepedulian pemerintah Indonesia terhadap warganya. Ini bentuk ‘menghadirkan negara’ di tengah-tengah WNI di Arab Saudi,” jelas Dubes Agus Maftuh dalam keterangannya kepada Nusantara.News, Senin (23/4/2018).

Dalam kunjungan kemanusiaan ini, Dubes Agus Maftuh Abegebriel didampingi oleh Athan (Atase Pertahanan) Kol Inf Drajad Bima Yoga, Atpol (Atase Kepolisian) Kombes Fahrur Razi dan Tim Perlindungan WNI Mulyanto serta 10 staf KBRI Riyadh.

Untuk memasuki kawasan Najran, menurut Agus Maftuh, tidak mudah. Sebab diperlukan izin khusus dari Kemenlu Arab Saudi. “Ini menunjukkan wilayah Najran menjadi zona khusus yang berpotensi menjadi sasaran roket ataupun rudal yang dapat datang kapan saja,” terangnya.

Awalnya Kemenlu Saudi tidak bersedia memberi izin dengan pertimbangan keamanan. Namun berkat lobi-lobi KBRI yang merasa berkewajiban memberikan pengayoman terhadap keberadaan WNI di kawasan perbatasan Saudi-Yaman tersebut, akhirnya Kemenlu Saudi memberikan izin dan pihak keamanan Saudi memberikan pengawalan ekstra ketat.

“Sejujurnya, apa yang dilakukan kawan-kawan KBRI termasuk nekat. Mereka dengan berani memasuki kawasan konflik. Padahal baru kemarin siang wilayah itu dikirimi rudal lagi dan berhasil dicegat patriot Saudi. Kepingan rudal jatuh di pemukiman warga. Tapi mau dikata apa, semua itu sudah menjadi tugas negara. Sebaliknya bagi kawan-kawan KBRI akan menjadi dosa besar jika kita abai terhadap WNI,” ujar Agus Maftuh.

Saat rudal dianggap petasan

Izin sudah dapat, namun perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan berat. Apalagi mayoritas delegasi KBRI Riyadh menempuh perjalanan darat. Sekitar 1.000 km dengan waktu tempuh 12 jam mereka menyusuri perjalanan dari Riyadh hingga Najran. Mereka harus melewati gurun dan sahara. Sementara Dubes RI dan rombongan mendarat di kota Abha dan melakukan perjalanan darat dengan 8 kali ganti pengawalan selama 4 jam untuk sampai di kota Najran.

Setiba di Najran, lokasi pertemuan diadakan di Funduq Najran, sebuah hotel yang juga sering menjadi sasaran roket. Dan benar, pada dini hari sekitar pukul 03.00 waktu setempat, delegasi KBRI yang menginap di hotel Najran sempat dikejutkan dengan bunyi keras yang diyakini sebagai suara rudal. Pagi harinya kantor berita Saudi Press Agency (SPA) melaporkan malam itu Angkatan Udara Saudi berhasil menghancurkan rudal di udara yang mengarah ke dekat kota Najran.

Dubes RI sempat berkelakar bahwa suara malam itu mirip suara orang main petasan. Namun hal itu ditimpali Athan Yoga yang juga ahli persenjataan. Menurut Athan Yoga, di dalam bodi rudal itu ada rangkaian tentang lokasi lintang utara lintang selatan (LU/LS) dan juga bujur barat bujur timur (BB/BT), dan kemungkinan melesetnya kecil ketika kena sasaran. “Jadi kalau tempat kita berpijak ada di dalam list (daftar) GPS tersebut ya Inna Lillahi”.

Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel saat tiba Najran setelah menempuh perjalanan darat 1.000 km. Wilayah perbatasan Arab Saudi dan Yaman ini kerap menjadi langganan sasaran rudal.

Namun situasi tersebut rupanya bukan menjadi kekhawatiran bagi 700 WNI di Najran yang rata-rata bekerja sebagai penjahit dan salon kecantikan. Bagi mereka, bunyi rudal ibarat petasan, dan kilatan roket tak ubahnya kembang api.

“Kami selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan, meski hampir tiap minggu mendengar suara dentuman roket dan rudal. Kami sudah terbiasa dengan suara tersebut dan kami anggap suara petasan, sementara tabrakan rudal roket yang dihadang di udara kami melihatnya sebagai kembang api,” jelas para WNI saat bertemu dengan Dubes Agus Maftuh.

Kendati warga WNI di Najran menganggap konflik antara Yaman dan Arab Saudi merupakan sesuatu yang biasa, namun tetap harus diwaspadai. Sebab yang namanya rudal tidak peduli dengan target dan sasaran. Hal inilah yang dijelaskan Dubes RI dan rombongan saat beramah-tamah dengan para WNI yang mencari nafkah di kota tersebut.

“Ini bentuk kepedulian kami. KBRI Riyadh berupaya untuk memberi rasa tenang bagi ekspatriat asal Indonesia. Meski mereka sudah biasa menghadapi kondisi di Najran, tetapi mereka harus tetap waspada,” jelasnya.

Dubes RI dan rombongan juga memberikan arahan serta mendengarkan curhat dari para ekspatriat. Tampak rasa gembira dan senyum sumringah terpancar dari wajah mereka. Maklum, mereka merasa lebih aman, nyaman dan terayomi oleh kedatangan KBRI sebagai “Orangtua” bagi WNI yang sedang berada di daerah konflik.

Dubes RI meyakinkan bahwa pemerintah Indonesia selalu melindungi WNI di mana pun mereka berada dan meminta agar sesama WNI menjaga silaturahmi dan menginformasikan melalui saluran resmi KBRI tentang perkembangan situasi mereka di Najran.

Dalam arahannya, Agus Maftuh menyampaikan seluruh ekspatriat Indonesia di Najran dalam menghadapi perkembangan situasi di tempat tinggal mereka, salah satunya dengan melakukan skema evakuasi. Karena banyak WNI yang belum mau dievakuasi dengan alasan masih nyaman meski tiap Jumat ada “petasan”, maka pihaknya mengarahkan WNI untuk mendekati safety area yang sudah disiapkan KBRI apabila sewaktu-waktu situasi menjadi mencekam dan tidak terkendali.

“Kami menjelaskan apa yang harus dilakukan seluruh WNI di daerah terdampak konflik apabila terjadi keadaan yang meningkat menjadi darurat. KBRI telah mempersiapkan rencana dalam menghadapi perkembangan situasi di tempat mereka bekerja,” tutur Agus Maftuh.

Para WNI di Najran bertemu Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel. Meski sering dikirimi rudal, namun hingga kini mereka belum bersedia dievakuasi.

Dalam mengantisipasi meningkatnya frekuensi serangan rudal ke Najran dan Jazan, pihak KBRI Riyadh juga telah membentuk Crisis Management Team (CMT) yang dikomandani oleh Atase Pertahanan (Athan).

Dalam kesempatan itu, Athan Drajad Bima Yoga menyampaikan Standard Operating Procedure (SOP) tentang klasifikasi situasi serta langkah penanganannya. Sedangkan Atase Kepolisian (Atpol) Fahrur Razi menghimbau para WNI untuk tetap waspada dan memahami peraturan yang berlaku di Arab Saudi agar terhindar dari jeratan hukuman, serta sesegera mungkin menghubungi KBRI apabila berurusan dengan kepolisian sehingga bisa segera dilakukan pendampingan.

Menemukan WNI yang hilang 28 tahun

Di saat hampir bersamaan dalam menjalankan tugas-tugas negara, KBRI Riyadh berhasil menemukan seorang wanita berusia 74 tahun bernama Qibtiyah, WNI asal Bondowoso, yang hilang kontak selama 28 tahun di Arab Saudi. Nenek Qibtiyah berhasil ditemukan tim KBRI Riyadh. Nenek Qibtiyah sekarang berada di Rumah Singgah KBRI Riyadh, dan dalam proses pemulangan ke Indonesia.

“KBRI Riyadh berhasil menyelamatkan seorang nenek usia 74 tahun yang putus kontak dengan keluarga di Indonesia selama 28 tahun. WNI bernama Jumanti binti Bejo bin Nur Hadi alias Qibtiyah Jumanah datang pertama kali ke Arab Saudi pada 14 Agustus 1990,” Agus Maftuh melaporkan.

Maftuh mengaku mengetahui kabar hilangnya warga Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, Jawa Timur itu dari media sosial. Saat itu disebutkan Qibtiyah bekerja di Arab Saudi selama 40 tahun. Namun selama itu, dia tidak pernah ada berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia.

Setelah mengetahui ada WNI hilang selama 28 tahun, pihak KBRI Riyadh langsung melakukan pengecekan di database KBRI. Sayangnya nama yang dimaksud tidak ditemukan.

Dugaan KBRI, nenek Qibtiyah tidak pernah mengajukan perpanjangan paspor sehingga iqomah (izin tinggal di Saudi) sejak datang ke Arab Saudi. Sehingga dia tidak terdeteksi.

Maftuh kemudian melanjutkan pelacakan dengan menghubungi majikan (kafil) dan saudara-saudaranya untuk mencari keberadaan nenek Qibtiyah. KBRI sempat mendapatkan informasi bahwa Qibtiyah bekerja di rumah Nourah Mohammed al-Daerim di Kota Riyadh.

Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel (kiri) bersama Nenek Qibtiyah, TKI asal Bondowoso yang menghilang selama 28 tahun.

Tim Perlindungan WNI langsung intensif melakukan penelusuran dengan menghubungi para WNI yang pernah berinteraksi dengan Qibtiyah Jumanah, salah satunya Niayah binti Kasimin yang bekerja di kakak majikan Qibtiyah. Niayah adalah WNI asal Malang. Dia menjadi sumber informasi strategis tentang keberadaan Qibtiyah.

Sayangnya, majikan dan kerabat tempat nenek Qibtiyah bekerja tidak kooperatif, apalagi setelah mengetahui bahwa KBRI melakukan pelacakan terhadap Qibtiyah. Mereka bahkan berusaha menghambat dengan memberikan informasi menyesatkan kepada tim KBRI bahwa Qibtiyah sudah dipulangkan ke Indonesia 3 bulan lalu.

Adanya kendala ini, pihak KBRI terpaksa harus melibatkan otoritas di Riyadh. Pada 14 Maret 2018, KBRI Riyadh mengirimkan nota diplomatik ke Kemenlu Arab Saudi untuk meminta bantuan dalam menelusuri keberadaan Qibtiyah. Usaha ini belum membuahkan hasil, sehingga pada 27 Maret 2018 Agus Maftuh menyampaikan surat khusus kepada Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz al-Saud, yang juga keponakan Raja Salman, untuk meminta bantuan pencarian Qibtiyah.

“Gubernur Riyadh memerintahkan semua instansi di bawahnya untuk membantu KBRI Riyadh dalam menemukan Nenek Qibtiyah. Dan akhirnya pada tanggal 18 April 2018, nenek asal Bondowoso ini bisa ditemukan dan dijemput Tim Pelayanan WNI KBRI Riyadh untuk diproses hak-haknya dan kepulangannya ke Indonesia,” demikian Agus Maftuh.[]

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here