Realistiskah Asumsi Rupiah Sebesar Rp14.400 Pada 2019?

0
73
Pada pidato penyampaian Nota Keuangan 2019 Presiden Jokowi mengungkapkan asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan pada level Rp14.400. Realistiskah asumsi tersebut, mengingat saat ini rupiah sudah nyaris tembus level Rp15.000 per dolar AS.

Nusantara.news, Jakarta – Pemerintah telah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah pada APBN 2019 sebesar Rp14.400 per dolar AS. Padahal hari ini rupiah sudah mendekati level psikologis Rp15.000. Realistiskah asumsi rupiah tersebut?

Penetapan angka Rp14.400 sebagai asumsi APBN 2019 sebenarnya sudah mengalami peningkatan. Awalnya asumsi rupiah dipatok pada kisaran Rp13.700 hingga Rp14.400, walaupun diambil level tertinggi sebagaimana disampaikan dalam Nota Keuangan Pemerintah di Rapat Paripurna MPR-DPR-DPD pada 16 Agustus 2018 lalu, namun jika dibandingkan posisi rupiah hari ini, tetap dinilai tidak realistis.

Menurut Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani, penetapan asumsi rupiah Rp14.400 setelah mengakomodasi neraca gejolak fluktuasi dari ekonomi global yang mempunyai efek pada ekonomi kita. Dan kita tahu APBN jadi tools untuk stabilisasi.

Presiden Jokowi sendiri menyatakan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS disebabkan oleh faktor eksternal. Paling tidak bisa dilihat bahwa yang melemah tak hanya rupiah, tapi hampir semua mata uang utama dunia juga ikut melemah terhadap dolar AS.

“Ini karena faktor eksternal yang bertubi-tubi. Baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di AS, baik yang berkaitan dengan perang dagang AS dan China, baik yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina,” demikian menurut Jokowi hari ini .

Pemerintah bersama otoritas terkait akan terus mewaspadai kondisi ini, sehingga rupiah bisa bertahan dari gempuran dolar AS. Kondisi ekonomi dalam negeri pun akan terus dijaga agar menguatnya dolar tak banyak berpengaruh ke kondisi di masyarakat.

“Saya terus melakukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, pelaku-pelaku usaha. Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci sehingga jalannya itu segaris semuanya,” ungkap Jokowi.

Adapun fokus saat ini adalah mengurangi defisit transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan mengurangi impor. Investasi juga harus terus ditingkatkan agar pondasi ekonomi dalam negeri bisa terus diperkuat. Kalau hal tersebut selesai, maka akan menyelesaikan semua persoalan nilai tukar. “Target saya sudah saya berikan agar dalam satu tahun betul-betul ada perubahan di penyelesaian defisit transaksi berjalan,” demikian harapan Jokowi optimistis.

Hal senada diungkapkan Gubernur BI Perry Warjiyo, bahwa faktor pelemahan nilai rupiah masih didominasi faktor eksternal, mulai dari perbaikan ekonomi negeri Paman Sam, rencana kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) yang lebih agresif, hingga ketidakpastian perang dagang antara AS dengan China.

“Pola ekonomi dunia memang didasarkan kuatnya ekonomi AS, sementara negara-negara lain mengalami perlambatan, ini kenapa dolar AS kuat dan yang lain lemah,” demikian papar Perry di ruang rapat Komisi XI DPR kemarin.

Kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed juga membuat arus modal asing banyak yang masuk ke Amerika, apalagi negara lain belum ingin melakukan penyesuaian suku bunganya. Ini juga semakin dorong investor global pindahkan portofolionya ke AS. Ini faktor-faktor yang sebabkan dolar kuat secara luas.

Selain global, depresiasi rupiah belakangan ini juga disebabkan oleh defisit transaksi berjalan (CAD). Pasalnya, transaksi berjalan yang masih defisit menandakan bahwa kebutuhan akan valas semakin besar.

“Makanya fokus kita tangani adalah kondisi CAD, ini yang harus menjadi fokusnya,” demikian Gubernur BI.

Tentu saja dengan asumsi rupiah yang tidak realistis akan berdampak negatif berupa pukulan bagi industri yang berbahan baru impor atau sumber bisnis dari eksternal. Seperti DPP Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA) mengatakan, pelemahan rupiah akan memberi pengaruh yang signifikan pada bisnis di bidang pelayaran.

Mengingat, industri perkapalan masih banyak yang mendapatkan pinjaman dari bank dalam bentuk dollar AS. Karena itu pasti berdampak. Karena pinjaman dari bank itu sebagian besar dalam bentuk dollar AS. Bagi pelaku-pelaku besar pelayaran yang usahanya di Indonesia, serta bayar dengan rupiah pasti akan terkena imbas, karena untuk bayar bunga harus pakai dolar.

Menurutnya, hal tersebut tentu akan berimbas pada laba bersih perusahaan yang bisa tergerus. Dampaknya pelemahan rupiah memang cukup signifikan, apalagi

Pukulan serius terutama terjadi pada industri tekstil, mengingat bahan baku tekstil cukup besar dari impor. Walapun industri tekstil mengekspor kembali hasil jahitannya, tapi secara operasional mengalami pukulan dua kali. Baik karena pukulan dari nilai tukar rupiah, juga adanya kenaikan pajak impor yang baru saja ditetapkan Kementerian Keuangan.

Industri otomotif juga termasuk yang terpukul dengan pelemahan rupiah. Mengingat sebagian besar mesin otomotif diimpor, sehingga pada gilirannya ketika dijual di dalam negeri, sudah memperhitungkan biaya kenaikan selisih kurs. Otomatis industri otomotif akan membebani kenaikan biaya itu kepada konsumen.

Termasuk industri elektronika yang sebagian besar komponennya juga diimpor, otomatis biaya pokok elektronika yang diimpor jadi naik. Kenaikan itu juga akan dibebani pada konsumen, akibatnya penjualan pun bakal menurun.

Yang tak kalah pentingnya, industri pangan yang masih mengandalkan impor bahan baku, baik berupa beras, gula, tepung, kedele, jagung, maupun pengembang makanan. Lagi-lagi rugi selisih kurs dari impor bahan pangan tersebut akan dibebani konsumen, multiplier effect-nya, daya beli konsumen akan terpukul sebesar penurunan nilai tukar rupiah.

Pertanyannya, realistiskah asumsi nilai tukar rupiah yang ditetapkan pada level Rp14.400? Padahal rupiah sudah beranjak ke posisi Rp15.000.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo pada 2019 tekanan terhadap rupiah akan berkurang drastis. Kalau tahun ini diasumsikan defisit transaksi perdagangan bisa menembus angka US$25 miliar, paling tidak tahun 2019 bisa ditekan US$12 miliar, sehingga tersisa US$13 miliar.

Darimana angka penurunan defisit tersebut? Ya, menurut Perry, pemerintah akan mengurangi impor berbagai kebutuhan dalam negeri. Dari sini saja terjadi penurunan defisit sebesar US$6 miliar. Lalu sisanya US$6 miliar, diperoleh dari upaya peningkatan ekspor dan industri pariwisata.

“Karena tekanan defisit transaksi perdagangan berkurang, maka otomatis tekanan terhadap rupiah berkurang signifikan,” jelasnya.

Selain itu Federal Reserve akan mengurangi durasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR), ini juga mengurangi efek psikologis tekanan terhadap rupiah. Sehingga asumsi rupiah di APBN 2019 sebesar Rp14.400 per dolar AS sangat realistis.

Hanya saja Gubernur BI lupa, bahwa pada 2019 adalah tahun politik, dimana banyak sekali kejutan yang mengganggu psikologi pasar. Kalau secara teknikal bisa dikalkulasi seperti diutarakan Gubernur BI, tapi kalau psikologi pasar memburuk karena situasi Pilpres 2019, bisa jadi membuat rupiah makin melemah. Bahkan diprediksi bisa mencapai Rp15.500 pada 2019.

Melihat kinerja makro ekonomi yang buruk, ditandai dengan pelemahan rupiah dan IHSG sebagai stetoskop penanda perekonomian sedang sakit, bisa saja pada 2019 rupiah akan semakin buruk.

Kondisi ini dibawa pasar sejak awal, baik mereka bermotif merealisasi profit (profit taking), tapi juga mereka menyadari situasi politik yang memanas, ditambah situasi global yang tidak menentu, mereka akan bermain cantik. Bagaimana caranya, ya dengan bermain aman memegang dolar AS.

Itu sebabnya ada adagium dolar pulang kandang yang bakal mendiskon langkah-langkah kebijakan pemerintah maupun BI. Tapi kita tetap berdoa semoga kondisi 2019 lebih baik dan lebih kondusif, walaupun agak berat.[].

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here