Redenominasi, Yang Untung dan Yang Buntung

0
227
Pemerintah Turki berhasil melakukan redenominasi mata uang lira. Bagaimana dengan Indonesia?

Nusantara.news, Jakarta – Rencana Bank Indonesia (BI) untuk melakukan redenominasi, pemangkasan beberapa digit angka nol pada nilai tukar rupiah patut diacungkan jempol. Namun prosesnya harus hati-hati dan tidak boleh gagal, agar Indonesia menjadi negara yang beruntung.

Sebab, sekali Indonesia gagal dalam melaksanakan program redenominasi ini, bisa buntung. Ada baiknya BI belajar dari kisah negara-negara yang beruntung dan yang buntung dalam melaksanakan program redenominasi.

Dalam literatur terungkap, sedikitnya ada 55 negara yang melakukan program redenominasi selama 90 tahun terakhir. Dari ke-55 negara tersebut ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Rumania dan Turki adalah dua negara yang berhasil mempraktikkan progran redenominasi.

Dalam sebuah kajian yang bertajuk ‘Perbandingan Analisis: Pengalaman Beberapa Negara Yang Menerapkan Redenominasi Mata Uang’ yang ditulis oleh Duca Loana, dosen dari Titu Maiorescu University Bucharest, Rumania, terungkap negara itu terbilang sukses. Redenominasi dilakukan Rumania seiring dengan rencananya bergabung dengan zona euro.

Ekonom asal negeri Paman Sam, Steve Hanke, pernah mencoba menerapkan redenominasi pada akhir Orde Baru di Indonesia lewat model Currency Board System (CBS), tetapi batal. Namun, dia mengajari Bulgaria melakukan redenominasi yang tergolong berhasil.

Keberhasilan redenominasi Rumania dilakukan dengan memotong empat digit pada nominal mata uangnya. Bank Sentral Rumania mengeluarkan pecahan uang baru yang nilainya sepersepuluh ribu dari uang lama. Termasuk mengeluarkan pecahan 100 leu baru yang menggantikan pecahan uang tertinggi Rumania, 1 juta leu.

Setelah redenominasi dilakukan, nilai tukar 1 leu terhadap dolar AS menjadi 2,98 leu dan terhadap euro menjadi 3,6 leu. Jauh lebih kuat dibandingkan sebelum melakukan redenominasi. Pada 30 Juni 2005, nilai tukar Rumania terhadap dolar AS sebesar 29.891 leu dan terhadap euro sebesar 36.050 leu.

Untuk menjaga agar harga barang dan jasa tidak naik, Rumania menerapkan mata uang ganda selama 1,5 tahun. Mulai dari Juli 2005 sampai 31 Desember 2006. Setiap barang dan jasa di Rumania pada periode tersebut dibayar baik dengan mata uang lama maupun dengan mata uang baru.

Sejumlah negara yang telah melakukan program redenominasi terhadap mata uangnya.

Dengan motif yang sama, ingin bergabung ke dalam Eropa, Turki malah lebih dulu menerapkan redenominasi mata uang, tepatnya pada 1998. Setelah melakukan persiapan tujuh tahun, mulai 1 Januari 2005, pada awal tahun anggaran, Turki melakukan redenominasi terhadap lira. Redenominasi dilakukan di awal tahun anggaran dengan tujuan agar semua catatan pembukuan keuangan negara dan perusahaan langsung menggunakan mata uang baru dengan angka nominal yang lebih kecil.

Setelah redenominasi, semua mata uang lama dikonversikan ke mata uang baru. Jika nama mata uang lama adalah lira Turki dengan simbol TL, maka mata uang baru diberi kode YTL yang artinya uang baru lira Turki. Huruf Y adalah singkatan dari yeni dalam bahasa Turki, yang artinya baru.

Kurs konversi adalah 1 YTL untuk 1.000.000 TL. Turki menghilangkan enam angka nol. Mata uang kertas lama TL memiliki angka nominal tertinggi, yaitu 20.000.000 TL, dan pada 1 Januari 2005 menjadi 20 YTL.

Setelah redenominasi, Turki memiliki mata uang kertas baru, yakni 1 YTL (menggantikan 1.000.000 TL), dan 5 YTL, 10 YTL, 20 YTL, 50 YTL, dan 100 YTL.

Turki memiliki uang kertas lama dengan nilai paling rendah 50.000 TL. Setelah 1 Januari menjadi 0,050 YTL alias 5 sen (5 YKr). Untuk mengakomodasi ini, Pemerintah Turki juga mengeluarkan uang logam pecahan, yaitu 1 YKr, 5 YKr, 10 YKr, 25 YKr, dan 50 YKr.

YKr adalah singkatan dari yeni kurus atau sen baru dalam wujud koin. Sebanyak 100 YKr setara dengan 1 YTL.

Selain mengeluarkan mata uang kertas 1 YTL, Turki juga mengeluarkan pecahan baru dalam bentuk koin setara 1 TRL yang nilainya setara dengan 100 YKr.

Turki melakukan redenominasi lewat beberapa tahap. Tahap pertama, mata uang TL dan YTL tetap beredar secara simultan selama setahun. Setelah setahun, mata uang TL ditarik. Waktu setahun ini bertujuan agar warga memiliki waktu leluasa menggantikan TL ke YTL.

Pada tahap kedua, seperti di banyak negara, setelah beberapa tahun, mata uang YTL dikembalikan menjadi TL. Dengan kata lain, penggunaan TL dengan angka nominal baru dipulihkan.

Untuk membantu pengenalan mata uang baru dan untuk menghindari kebingungan dalam proses penggunaan YTL dari TL, dua mata uang dengan daya beli serupa itu dicetak dalam warna dan desain serupa. Misalnya, desain dan warga mata uang 1 YTL sama dengan 1.000.000 TL.

Syarat sukses redenominasi Turki, sebelumnya Polandia dengan zloty, adalah keharusan negara pelaku redenominasi melakukan stabilisasi harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kunci keberhasilan Rumania dan Turki, menurut literatur itu, proses redenominasi dilakukan secara bertahap dan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu kondisi ekonomi dijaga agar stabil dengan inflasi yang rendah, tingkat koordinasi yang tinggi antara bank sentral dan kementerian keuangannya. Termasuk adanya masa transisi dengan menggunakan dua mata uang lama dan baru sebagai alat tukar yang sah.

Lain Rumania, lain pula Zimbabwe, pada Agustus 2006, Zimbabwe memotong tiga angka nol mata uangnya, dengan harapan masyarakat tidak repot dengan mata uang yang nominalnya tinggi. Tapi kebijakan ini justru memicu hiper-inflasi yang mencapai 2.200.000% (dua koma dua juta persen).

Pada Agustus 2008, Zimbabwe memangkas 10 digit angka nol, atau 10 miliar dolar Zimbabwe lama (ZWN) diganti dengan 1 dolar Zimbabwe baru (ZWR). Upaya ini tidak berhasil, bahkan harga barang terus melonjak. Sampai-sampai digambarkan, seorang warga yang akan membeli satu pesawat televisi, harus membawa uang satu gerobak.

Pada 2008, Zimbabwe akhirnya terpaksa memangkas 12 digit nominal mata uangnya. Mata uang 1 ZWL menggantikan 1 triliun ZWR. Dua step redenominasi di Zimbabwe terbilang gagal total dan membuat negeri itu bangkrut.

Mengapa redenominasi mata uang Zimbabwe gagal? Literatur itu menyebutkan, karena pelaksanaan redenominasi dilakukan dalam keadaan ekonomi tidak stabil sehingga justru memicu inflasi. Koordinasi antara bank sentral dan kementerian keuangan Zimbabwe kurang harmonis, bahkan masa transisi yang dilakukan terlalu pendek, yakni hanya 8 bulan.

Di Rusia, redenominasi bahkan dianggap sebagai instrumen tak langsung pemerintah merampok kekayaan rakyat.

Korea Utara pada akhir tahun 2009 melakukan redenominasi dengan menjadi 100 won menjadi 1 won. Namun, saat warga hendak menggantikan uang lama won ke uang baru, stok uang baru tidak ada.

Melihat kegagalan banyak negara itu, dan menyadari Nigeria tidak siap melakukan reformasi ekonomi, Kwanashie menolak redenominasi atas naira Nigeria.

Bagaimana dengan Indonesia? Mau tidak mau, suka tidak sukar, harus mengambil hikmah dan pelajaran dari proses redenominasi yang beruntung dan yang buntung. Agar keledai tidak terjerembab pada lubang yang sama…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here