Refleksi Kesatuan dalam Perbedaan ala Aliran Aboge dan Syattariyah

0
249

Nusantara.news, Probolinggo – Perbedaan bagi ratusan penganut Islam Aboge (Alif Rebo Wage) di Kabupaten Probolinggo dan Tarekat Syattariyah di Kabupaten Magetan dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriyah, dimaknai hanya sekedar perbedaan teknis.

Namun prinsip ajaran Islam tetap diutamakan. Pemahaman ini yang membuat nyaris tak terdengar gejolak terhadap penganut kedua aliran itu di tengah suara mayoritas umat muslim di wilayahnya. Termasuk ketika mereka baru melaksanakan sholat Ied dua hari pasca ketetapan resmi pemerintah yang juga sesuai dengan hasil keputusan NU dan Muhammadiyah, 2 ormas Islam terbesar di Indonesia.

Dalam penetapan 1 Syawal, Islam Aboge berpedoman pada jatuhnya 1 Muharram dengan perhitungannya menggunakan rumus Waljiro yakni siji loro (satu dua),” kata tokoh jamaah Aboge Kiai Buri Mariyah di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Leces, Kabupatrn Probolinggo, Selasa (27/6/2017).

“Berdasarkan perhitungan kami, Lebaran jatuh pada pasaran kedua, sehingga Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal jatuh pada hari ini dan berselisih dua hari dari penetapan pemerintah,”tuturnya.

Menurutnya, 1 Muharram yang jatuh pada Selasa Pahing, maka 1 Syawal akan jatuh pada Selasa Pon karena hal tersebut sesuai dengan mujarabat yang menjadi pedoman penganut Islam Aboge.

“Meskipun berbeda, tiap umat Islam harus rukun untuk menjaga keutuhan NKRI karena yang berbeda hanya hitung-hitungan penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal. Yang salah itu kalau tidak puasa,” katanya.

Karena itu, tradisi yang menyertai pasca sholat Ied umumnya, seperti saling bersalaman dan kumandangkan takbir juga terlihat. Bedanya, terselip shalawar berlanggam Jawa usai jamaah Aboge menunaikan sholat Ied.

Di Kabupaten Probolinggo, jumlah jamaah aboge diperkirakan mencapai seribuan orang. Mereka tersebar di Kecamatan Leces, Dringu, Tegalsiwalan, Bantaran dan Kuripan.

Perbedaan serupa juga dapat ditemui pada prinsip ratusan jamaah Tarekat Syattariyah. Mereka juga baru melaksanakan sholat Ied pada 27 Juni 2017 di sejumlah masjid dan musala terdekat tempat tinggal mereka, salah satunya di Musala Al-Muslimin Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan, Magetan.

Salah seorang tokoh jamaah Tarekat Syattariyah, Zarkasih mengatakan, pihaknya meyakini bahwa pelaksanaan puasa atau Ramadhan harus genap 30 hari. “Kami mempunyai keyakinan bahwa bulan puasa atau Ramadhan harus disempurnakan selama 30 hari. Hal tersebut berdasarkan rukyat dan ‘ijtima’ yang kami yakini,” ujar Zarkasih kepada wartawan.

Ia meminta umat Islam lainnya bisa menerima sekaligus saling menghormati adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tersebut.

Pihaknya juga berharap perbedaan tersebut dapat dihormati semua pihak, sehingga kerukunan antarumat Islam dan lainnya dapat tetap terjaga dengan baik.

Di Magetan, penganut tarekat ini diprediksi mencapai 500-an orang yang tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya Kecamatan Lembeyan, Parang, Kawedanan, Takeran, dan Nguntoronadi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here