Reformasi Perburuhan Macron Disambut Pemogokan

0
78
Aksi pemogokan di sejumlah tempat di Perancis yang sebagian berujung kericuhan. Seorang demonstran tampak dibekuk polisi

Nusantara.news, Paris – Kebijakan Reformasi Perburuhan yang dicanangkan oleh Presiden Perancis Emanuel Macron disambut pemogokan. Tidak tanggung-tanggung, aksi pemogokan akan berlangsung selama tiga bulan. Masing- masing setiap lima hari akan ada 2 hari mogok. Para pemogok menuding ada agenda “privatisasi” di balik “reformasi perburuhan”.

Memang, terlalu dini memprediksikan Macron akan jatuh. Tapi yang jelas, jaringan kereta api Perancis sudah terganggu oleh gelombang pemogokan yang meluas ke seluruh Perancis. Meskipun pemogokan dipimpin oleh staf di perusahaan kereta api milik negara SNFC, namun pemogokan itu akan diikuti oleh buruh sektor energi dan perusahaan pengelola limbah.

Jadwal Pemogokan

Tantangan Terbesar

Pemogokan itu merupakan tantangan terbesar bagi Macron sejak terpilih menjadi Presiden Perancis pada Mei 2017 lalu. Sejumlah Serikat Pekerja mengatakan beberapa rencana untuk merombak SNCF (Société Nationale des Chemins de fer Français) yang terperangkap utang besar akan membuka jalan bagi “privatisasi” – sebuah isu yang rentan bagi Macron yang berhalauan kiri tengah.

Namun isu privatisasi itu segera dibantah oleh Perdana Menteri Edouard Philippe dengan mengatakan kebijakan reformasi tenaga kerja bertujuan mengubah status quo yang “tidak lagi dapat dipertahankan”. “Jika para pemogok harus dihormati, jutaan orang Perancis yang ingin bekerja juga harus dihormat,” ucap Edouard di Parlemen Perancis, Selasa (3/4) kemarin.

SNCF juga mengingatkan, pemogokan besar-besaran akan terjadi pada Rabu (4/4) ini. Dan pemogokan kali ini didukung oleh 4 serikat pekerja terbesar di Perancis yang langsung terancam keberadaannya oleh reformasi ketenaga-kerjaan Macron. Akibatnya, pelayanan public menjadi sangat terbatas. Sekitar 77% masinis KA SNCF diyakini mogok. Perusahaan juga menyebutkan, ada 34% dari stafnya yang juga terlibat dalam pemogokan.

Stasiun Gare du Nord lengang, tak ada pelayanan kereta api

Hanya satu di antara delapan Kereta Cepat TGV dan satu di antara lima kereta regional yang tetap beroperasi di hari pemogokan. Jalur commuter ke Paris juga telah dipangkas membuat bus dijejali oleh penumpang. Beberapa stasiun dipadati ribuan calon penumpang yang tidak terangkut oleh kereta api yang masih beroperasi.

Situs web yang mengukur kepadatan lalu lintas di sekitar ibukota mencatat adanya kemacetan sepanjang 420 Km selama jam sibuk. Sejumlah pengguna transportasi massal mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-harinya.

Pelayanan internasional juga terpengaruh oleh pemogokan. “Eurostar” memiliki 75% kereta yang beroperasi dan layanan Thalys ke Belgia, Belanda, Jerman memang mendekati normal – tapi tidak ada layanan ke Spanyol, Swiss atau Italia.

Sialnya lagi, pemogokan itu juga bersamaan dengan aksi hari ke-4 pekerja maskapai penerbangan “Air France” yang menuntut kenaikan gaji 6%. Akibat dari pemogokan buruhnya, maskapai penerbangan ini hanya melayani 75% jadwal penerbangannya. Para turis yang berlibur ke Eropa terganggu karena sekitar 15 ribu penerbangan di seluruh Eropa mengalami “delay” dengan alasan masalah teknis.

“Eurocontrol” yang menjalankan sistem lalu lintas udara mengatakan, kesalahan dalam sistem telah diidentifikasi dan penanganannya sedang berjalan untuk mengembalikan ke situasi normal. Gangguan penerbangan di seluruh kota Eropa itu mungkin tidak sepenuhnya terkait langsung dengan pemogokan di Perancis yang melibatkan buruh maskapai penerbangan nasional “Air France”.

Efisiensi Ketenagakerjaan

Selain itu Serikat Pekerja juga sudah memanggil kolektor sampah yang sejak semula menuntut layanan pengumpulan sampah secara nasional dan jaminan pensiun yang lebih baik. Para pekerja terlihat memblokade pabrik-pabrik pengolahan limbah.

Serikat Pekerja sektor energi juga menyerukan pemogokan untuk menuntut – antara lain – mengakhiri liberalisasi pasar energi dan peninjauan kembali deregulasi. Ribuan pelajar di Perancis juga melibatkan diri dalam pemogokan, menentang peraturan yang secara tegas membatasi masuk universitas.

Analis BBC di Paris Hugh Schofield menulis ada tiga alasan yang membuat Presiden Emmanuel Macron optimis menjalankan reformasi pekerja, khususnya di lingkungan pekerja SNCF – perusahaan kereta api milik negara yang berdiri sejak 1926.

Pertama, tidak seperti pemogokan besar 1995 yang sukses menggulingkan pemerintah. Pemogokan kali ini tidak ada kesalahan dari niat pemerintah mereformasi – baik staf publik maupun staf SNCF tidak dapat berpura-pura mengatakan perubahan yang direncanakan muncul secara tiba-tiba. Reformasi tenaga kerja adalah janji kampanye yang membuat Macron terpilih.

Kedua, ada simpati yang jauh lebih kecil untuk SNCF daripada biasanya. Penyebabnya tak lain tingkat pelayanan kereta api telah menurun tajam – terutama untuk commuter – yang memang diperlukan program reformasi.

Ketiga, opsi baru telah terbuka untuk pekerja commuter. Ada pekerjaan bukan lapangan seperti car-pooling (semacam Depo), dan menjalani kembali pelatihan untuk mengatasi buruknya pelayanan.

Di stasiun lain penumpang berjejal, tidak terangkut oleh kereta api yang masih beroperasi

Namun selama tiga bulan ke depan akan menjadi hari-hari yang menegangkan bagi pemerintah Perancis. Masyarakat umum pengguna transportasi juga akan kesal. Kemarahan akan menyebar kemana-mana. Kehidupan sehari-hari akan bertambah sulit. Dalam situasi ini, rencana bisa menjadi sangat buruk. Sekali salah langkah opini publik akan dengan mudah beralih dari semula mendukung pemerintah menjadi pendukung pemogokan.

Buruh SNCF – semacam KAI di Indonesia – selama ini menikmati kondisi yang berkelimpahan – termasuk kenaikan gaji tahunan secara otomatis, fasilitas pensiun dini, 28 hari cuti tahunan tetap dibayar penuh dan perlindungan dari pemecatan. Kerabat dekat mereka juga berhak mendapatkan tiket kereta api gratis.

Akibatnya utang SNCF terus membangkak hingga US$ 57,5 miliar. Untuk itu pemerintahan Macron ingin memperbaiki klausul kontrak dengan buruh SNCF yang lama sekaligus mengusulkan untuk mempekerjakan pekerja baru dengan perjanjian kontrak sebagaimana yang berlaku di tempat lain dalam industri. Tujuannya adalah membuka BUMN kereta api itu menuju persaingan 2023 sesuai dengan persyaratan Uni Eropa.

Pertarungan Ideologi

Profil perburuhan di Perancis, lebih dari 11% dari angkatan kerja menjadi anggota Serikat Pekerja – tingkat yang paling rendah di Eropa – namun Serikat Pekerja di Perancis secara tradisional selalu tampil mengatas-namakan kepentingan umum, secara ekonomi dan politik. “Kami membela layanan publik Perancis, bukan hanya pekerja kereta api,” ungkap Kepala Serikat Pekerja Sud Rail Emmanuel Grondein.

Para pendukung Macron yang bergabung dalam Republik Macron On The Move juga melihat pemogokan itu memiliki konotasi yang lebih luas. “Kita perlu menyingkirkan budaya pemogokan dari negara ini,” ucap juru bicaranya, Gabriel Attal.

Memang, para pengurus Serikat Pekerja mencurigai Macron ingin menghancurkan kekuatan Serikat Pekerja. Perlawanan terhadap Macron yang lebih massif dimulai sejak 22 Maret – ketika puluhan ribu guru, perawat dan pekerja lainnya bergabung dengan aksi pemogokan pekerja kereta api.

Sebelumnya pemogokan bulan September 2017 lalu gagal menghentikan Macron untuk memberlakukan Undang-Undang yang memungkinkan perusahaan merekrut atau memberhentikan pekerja. Dan memang sebagian besar masyarakat menentang aksi pemogokan itu.

Apakah pemogokan yang dirancang selama tiga bulan ini berhasil menghentikan Macron untuk melakukan reformasi tenaga kerja yang ternyata berkait erat dengan liberalisasi jasa pelayanan kereta api Uni Eropa yang mulai diberlakukan pada 2023 nanti? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here