Regenerasi  TNI, Bintang Terang tak Selalu Benderang

0
420
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menandatangani berkas serah terima jabatan disaksikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (9/12).

Nusantara.news, Jakarta – Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah memegang tongkat komando Panglima TNI seusai dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI di Istana Kepresidenan, 8 Desember 2017. Tanda pangkat bintang empat di pundaknya sudah dilingkari garis merah, pertanda dia adalah komandan. Pataka TNI sudah pula diterimanya dari Jenderal Gatot Nurmantyo dalam serah terima jabatan, 9 Desember 2017.

Itu artinya dia menjadi orang kedelapan yang menjabat posisi dengan nomenklatur Panglima TNI. Sebelumnya, di era Orde Baru, TNI dan Polri berada di bawah ABRI, dan orang tertingginya disebut Panglima ABRI.

Jika dihitung sejak Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jenderal Sudirman (1945-1950) dulu, Hadi Tjahjanto adalah panglima ke-19 yang memimpin angkatan bersenjata Indonesia. Dari TNI-AU, dia adalah orang kedua yang duduk di jabatan itu, setelah Marsekal Djoko Suyanto (Panglima TNI 2006-2007).

Jumlah ini sedikit lebih kecil dari pejabat yang pernah menjadi Kapolri. Orang nomor satu di kepolisian, sejak Kapolri pertama Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (1945-1959) sampai Tito Karnavian sekarang, berjumlah 23 orang.

Apapun, untuk menjadi salah satu dari 19 orang jenderal itu saja sudah prestasi yang sangat luar biasa. Jabatan panglima militer adalah impian setiap tentara di muka bumi ini. Atau, untuk ukuran Indonesia saat ini, jabatan itu adalah cita-cita setiap lulusan akademi militer. Karena hanya lulusan akademi militer yang punya kesempatan menduduki posisi terhormat itu.

Itu berkaitan dengan didirikannya sekolah militer di Indonesia untuk membentuk perwira-perwira tentara di zaman kemerdekaan. Akademi militer sudah dibentuk pada 31 Oktober 1945 di Yogyakarta, yang disebut Militaire Academie. Tapi dua tahun kemudian ditutup, dan pendidikan militer Indonesia dialihkan sementara ke Koninklijke Militaire Academie (KMA), Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda. Pada  1 Januari 1951  didirikan SPGi AD (Sekolah Perwira Genie Angkatan Darat) di Bandung, yang kemudian diubah menjadi Atekad (Akademi Teknik Angkatan Darat)  pada  23 September 1956. SPGi AD dan Atekad kemudian digabung menjadi Akademi Militer Nasional pada 11 Nopember 1957.

Akademi inilah yang sekian puluh tahun kemudian melahirkan para panglima TNI dan pemimpin TNI lainnya. Panglima TNI (waktu itu Panglima ABRI) pertama yang lulusan akademi adalah Jenderal Try Sutrisno pada Februari 1988. Try keluaran  Atekad 1959.

Sejak itu hanya lulusan akademi militer saja yang bisa menjadi panglima militer. Panglima ABRI sebelum Try, semuanya merangkak dari bawah. Jenderal Benny Moerdani, pendahulu Try Sutrisno, misalnya memulai karir militernya sebagai Tentara Pelajar.

Sementara tentara yang masuk melalui jalur penerimaan nonakademi militer, seperti sekolah calon bintara atau Sepa Milsuk, sudah cukup puas pensiun dengan pangkat perwira pertama. Beberapa memang yang sampai ke tingkat perwira tinggi, tetapi umumnya untuk  bidang yang tak dikuasai abituren akademi militer, seperti dokter. Begitu pun, mereka tetap saja tidak memegang tongkat komando.

Akademi militer beberapa kali bermetamorfosa. Mulai dari Militaire Academie Yogya, AMN, Akabri (Bagian Umum dan Darat, Bagian Laut, Bagian Udara dan Bagian Kepolisian), sampai Akmil, AAU dan AAL seperti sekarang yang berada di bawah Akademi TNI. Akademi Kepolisian (Akpol) sejak 10 April 1999 Akpol dinyatakan terpisah dari Akmil, AAL, AAU berdasarkan Skep Kapolri No.Pol: Skep/389/IV/1999 tanggal 9 April 1999 tentang Akademi Kepolisian Mandiri.

Di sinilah taruna akademi militer itu ditempa, sekaligus berkompetisi menjadi yang terbaik. Seperti mahasiswa di perguruan tinggi umum yang berlomba mencari indeks prestasi (IP) tertinggi, taruna akademi militer juga demikian. Mereka bersaing untuk meraih penghargaan Adhi Makayasa, lulusan terbaik di setiap masing-masing akademi. Kriteria umumnya adalah Tanggap (trampil dan berintelegensi tinggi), Tanggon (bermoral tinggi dalam penugasan kemiliteran) dan Trengginas (mempunyai fisik dan mental bagus agar tangkap dalam tugas).

Biasanya lulusan terbaik ini juga mempunyai karir yang baik pula, karena mereka memang mempunyai banyak keungggulan dibanding rekan-rekannya. Mereka adalah bintang yang terang. Contoh pertamanya adalah Edi Sudradjat. Dia adalah lulusan terbaik AMN angkatan pertama tahun 1960. Dalam karirnya, Edi berhasil meraih jabatan KSAD (1988), Panglima ABRI (1993) dan Menhankam (1993).

Dari sisi karir di TNI, Edi Sudradjat adalah yang paling gemilang di antara peraih gelar lulusan terbaik. Waktu itu nama penghargaannya adalah Garuda Yaksa, sebelum diganti dengan Adhi Makayasa pada tahun 1967.

Sampai saat ini, tak ada lagi lulusan terbaik selain Edi Sudradjat yang mampu meraih tiga jabatan itu. Sedikit “ di bawah” Edi adalah Moeldoko. Peraih Adhi Makayasa Akmil 1981 ini pernah menjadi KSAD dan Panglima TNI. Namun, berbeda dengan Edi, dia tidak pernah duduk sebagai menteri.

Perbedaan lain, Moeldoko hanya beberapa bulan (Mei-Agustus 2013) menjabat KSAD sebelum dipromosi menjadi Panglima TNI. Sebaliknya, Edi menjabat KSAD cukup lama (Februari 1988-Maret 1993). Tapi, Edi duduk di kursi panglima justru kurang dari tiga bulan (19 Februari 1993-21 Mei 1993), sebelum dia digeser ke jabatan Menhankam oleh Presiden Soeharto. Sedangkan Moeldoko bertugas sebagai Panglima TNI lumayan lama (Agustus 2013-8 Juli 2015) di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

Generasi Moeldoko yang lulus 1981 itu bisa dikatakan punya prestasi istimewa. Sebab, semua peraih Adhi Makayasa di angkatan itu, baik dari Akmil, AAL dan AAU, berhasil meraih bintang empat dan jabatan kepala staf angkatan. Selain Moeldoko, mereka adalah Marsetio yang menjadi KSAL (2012-2014) dan Ida Bagus Putu  yang menjabat KSAU (2012-2015).

Selain mereka, peraih Adhi Makayasa lain yang sampai ke pangkat bintang empat dan menjadi kepala staf adalah adalah  Agustadi Sasongko Purnomo (lulusan 1974) yang menjabat KSAD 2007-2009 dan Budiman (lulusan 1978, KSAD 2013-2014).

Sampai berakhirnya kepemimpinan Jenderal Gatot Nurmantyo di TNI, baru perwira-perwira di atas saja lulusan terbaik yang berhasil mencapai pangkat jenderal  dan menjabat kepala staf.

Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono, peraih Adhi Makayasa 1973, hanya sampai ke jabatan Kepala Staf Teritorial TNI dengan pangkat Letnan Jenderal. Karir militer SBY terhenti karena menerima diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Di era Presiden Megawati, SBY diserahi jabatan  Menko Polkam dan pangkatnya dinaikkan setingkat menjadi jenderal kehormatan (Jenderal Hor).

Selain SBY, penerima Adhi Makayasa yang juga tak sampai ke posisi KSAD namun diganjar dengan pangkat Jenderal (Hor) adalah Luhut Binsar Panjaitan. Jabatan militer terakhir yang disandang lulusan terbaik Akabri 1970 adalah Komandan Kodiklat TNI-AD (1997-1998). Karir militernya berakhir ketika ditugaskan menjadi Dubes RI di Singapura. Setelah itu berlanjut menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Gus Dur, dan saat ini Menko Kemaritiman

Jika dibandingkan dengan polisi, kondisinya kurang lebih sama. Jika di TNI-AD ada empat lulusan terbaik yang mencapai posisi KSAD, di TNI AU dan TNI AL baru ada satu, di Polri tercatat tiga lulusan penerima Adhi Makayasa yang berhasil meraih jabatan Kapolri. Mereka adalah Sutanto (lulusan Akabri Kepolisian 1973) yang menjadi Kapolri di era SBY (2005-2008), Badrodin Haiti (angkatan 1982, Kapolri (2015-2016) dan kapolri sekarang Tito Karnavian (lulusan 1987).

Pada umumnya penerima penghargaan Adhi Makayasa memang sukses dalam karir di TNI atau di Polri dengan mencapai pangkat perwira tingggi. Tetapi ada juga beberapa yang pensiun dengan pangkat perwira menengah.

Mungkinkah di era Marsekal Hadi Tjahjanto akan ada penerima Adhi Makayasa yang akan meraih empat bintang di pundaknya? Bisa jadi. Jika ditelusuri, ada beberapa peraih gelar akademik tertinggi di tiga akademi TNI itu yang saat ini sudah menjadi perwira tinggi.

Peraih Adhi Makayasa angkatan Hadi di AAU 1986 adalah Marsda TNI Yadi Indrayadi Sutanandika, yang sekarang menjabat Pangkoops AU II di Makassar. Dari AAL tahun itu, penghargaan itu diterima Laksma TNI I Nyoman Nesa, Staf Ahli Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman di Kemenko Polhukam. Sementara peraih Adhi Makayasa dari Akmil, Letjen Hinsa Siburian, baru saja pensiun dari jabatan Wakil KSAD.

Sedangkan lulusan terbaik dari generasi 1987, ada nama Mayjen TNI Muhamad Herindra. Lulusan terbaik Akmil 1987 ini sekarang menjadi Staf Ahli Tingkat III Bidang Hubungan Internasional Panglima TNI. Dari AAU, ada Kolonel ((Lek) Toto Miarto yang bertugas di Satuan Komunikasi dan Elektronika Mabes TNI. Sedangkan dari AAL, Laksma Harjo Susmoro, saat ini Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-AL (Kapushidrosal).

Jenderal Gatot Nurmantyo kemarin sempat berspekulasi, bahwa panglima TNI setelah Marsekal Hadi Tjahjanto pensiun di akhir 2021 nanti akan berasal dari angkatan 1988. Boleh jadi, perkiraan Gatot benar, karena masih ada waktu empat tahun lagi bagi alumni akademi TNI 1988 meraih akselerasi pangkat dan jabatan.

Tetapi, itu tentu bergantung peruntungan masing-masing. Ada semacam pameo di lingkungan abiruten akademi TNI atau kepolisian, bahwa pangkat tertinggi yang bisa diraih secara normatif adalah kolonel (atau komisaris besar di kepolisian). Untuk mencapai bintang, tergantung garis tangan. Atau, mungkin juga “campur tangan”. Mungkin karena itulah bintang terang penerima Adhi Makayasa tidak selalu benderang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here