REI dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

0
96

Nusantara.news, Surabaya – Peran dan fungsi REI (Real Estate Indonesia) selama ini, khususnya REI Jatim pada pembangunan perekonomian daerah sangatlah besar sekali pengaruhnya. Selain penyerapan tenaga kerja dan mendorong berkembangnya industri terkait properti dan perumahan, keberadaan REI Jatim secara nyata telah ikut membantu dalam penataan dan membangun kota-kota baru (di kabupaten/kota) melalui pengembangan kawasan yang dilakukan oleh para anggotanya.

Kawasan yang dibangun selalu diikuti oleh pertumbuhan ekonomi baru. Menggerakkan ekonomi sekitar kawasan, yang akumulasinya – kemudian – mengkontribusi PDRB kabupaten/kota/provinsi.

Banyak kawasan baru, bahkan “kota baru” di Jatim, yang cikal-bakalnya berawal dari permukiman yang dibangun oleh anggota REI Jatim.  Sebut saja, misalnya, Kota Baru Surabaya Barat. Pada awal 1970-an siapapun tidak membayangkan kawasan ini bakal tumbuh seperti sekarang.

Tidak dipungkiri bahwa cikal-bakal Kota Baru Surabaya Barat diawali oleh anggota REI Jatim, yakni PT Darmo Permai, PT Darmo Satelite Town, dan PT Pembangunan Darmo Grande yang mendapatkan izin pembebasan lahan seluas 650 ha pada 1972. Mereka membangun perumahan mewah di sana.

Pada perkembangannya, siapapun kini bisa menyaksikan bagaimana maraknya pergerakan ekonomi-bisnis di Kota Baru Surabaya Barat, setelah sejumlah perumahan mewah ikut dibangun di sana – seperti Villa Bukit Emas, Bukit Darmo Golf, Kota Baru CitraRaya (CitraLand), Graha Family, Perumahan Adi Istana, dan Pakuwan Indah. Semua itu dibangun oleh Anggota REI Jatim.

Sejumlah perumahan mewah itu kini sudah integrated dalam satu kawasan, dilengkapi pusat bisnis dan komersial, seolah menjadi kota tersendiri yang terpisah dari pusat kota Surabaya. Sebagian masyarakat menyebutnya Kota Baru Surabaya Barat (d/h Kota Satelit). Ada banyak hotel di sana, perkantoran, mall/plaza, apartemen/kondominium, golf, dan puluhan proyek ruko berkelas.

Dari aspek tenaga kerja, sudah puluhan ribu orang yang ikut terlibat dalam proyek-proyek perumahan milik anggota REI Jatim. Mereka semua menghidupi keluarganya, membelanjakan uang hasil kerjanya yang berarati ikut menggerakkan ekonomi sekitarnya.

Dari aspek industri terkait, ada puluhan sektor industri bahan bangunan yang terlibat di dalam pembangunan perumahan milik anggota REI Jatim. Industri-industri itu pun ikut tumbuh – hingga ke tingkat distribusi di toko-toko; semen, tegel, besi, kapur, cat, peralatan bangunan, dan banyak lainnya. Rangkaian bahan bangunan itu, sejak dari pabrik hingga ke proyek bangunan,  banyak menyerap tenaga kerjanya. Singkatnya, sudah banyak yang dikerjakan oleh REI Jatim melalui aktivitas bisnis anggotanya. Mereka semua, ikut membangun provinsi ini.

Meski belum mampu memenuhi kebutuhan target pembangunan perumahan yang ditetapkan oleh Pemprov Jatim setiap tahunnya sehingga angka backlog pembangunan perumahan terus bertambah, namun kontribusi REI Jatim sudah sangat besar – baik dalam konteks suplai unit hunian maupun peran sektor properti perumahan terhadap pembangunan perekonomian secara umum di Jatim.

Namun, di sisi lain pertambahan nilai lahan tersebut membuat tidak semua kalangan masyarakat dapat membeli atau mengakses perumahan tersebut. Perkembangan properti yang berkembang sekarang terutama di Kota Surabaya berada di level menengah ke atas. Sedangkan masyarakat yang membutuhkan hunian terutama masyarakat yang berasal dari luar wilayah, merupakan masyarakat yang berpenghasilan rendah atau menengah ke bawah. Hal ini berakibat kepada munculnya kawasan atau area kumuh dan permukiman liar.

Perkembangan properti juga berdampak pada lingkungan secara tidak langsung. Dampak tersebut adalah meningkatnya emisi gas rumah kaca. Berdasarkan data Dewan Nasional Perubahan Iklim bahwa sekitar 85 persen emisi di indonesia diakibatkan oleh kegiatan kegiatan terkait dengan penggunaan lahan. Penggunaan lahan ini di dominasi oleh kawasan perumahan, perkantoran, perdagangan, dll.

Dimana kawasan kawasan tersebut merupakan salah satu bagian dari properti. Salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca yang banyak dikaji adalah karbon dioksida (CO2). Salah satu fakta, perkembangan properti terutama pada sektor perumahan di Kota Surabaya menghasilkan emisi CO2 di masing– masing kecamtan sebesar 7,90121 x 1021 CO2/tahun.

Pesatnya perkembangan properti ini juga membutuhkan lahan yang cukup luas dan strategis pula. Hal ini membuat banyak lahan yang sebelumnya bukan lahan terbangun menjadi lahan terbangun yang diperuntukan sebagai perumahan. Lahan non terbangun ini banyak yang sebelumnya seperti lahan pertanian, perkebunan ataupun lahan yang diperuntukan sebagai ruang terbuka.

Pembangunan di Surabaya sudah mencapai 8 persen dari kepadatan Jawa Timur. Hal ini menunjukan salah satu indikasi adanya alih fungsi lahan yang cukup besar di Kota Surabaya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here