Relasi AS – RRC: Pasang Surut Kebijakan ‘Satu Cina’ (4)

0
593

Nusantara.news, Jakarta – Dalam pemilu presiden yang digelar tahun 1968, Johnson kalah dari Richard Nixon. Pada tahun berikutnya,  Nixon secara gemilang membawa Republik kembali berkuasa di Gedung Putih. Nixon sebelumnya adalah Wakil Presiden di era kepresidenan Eisenhower. Di era Nixon inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan AS-RRC terjadi perubahan drastis. Sadar bahwa Teori Domino lebih banyak menyesatkan daripada memberi manfaat, Nixon secara serius berniat mendekatkan diri ke Beijing.

Nixon tiba pada kesimpulan bahwa jauh lebih baik bagi kepentingan AS untuk memanfaatkan perpecahan antara Moskow – Beijing daripada menganggap mereka sebagai persekutuan abadi yang memang tidak terbukti. Akhirnya pada tahun 1972 Nixon melakukan kunjungan bersejarah ke RRC dan langsung bertemu dengan Ketua Mao. Keduanya bersepakat untuk mengikat persahabatan dan mengembangkan kerjasama di berbagai bidang. Sebagai suatu peringatan yang ditujukan kepada Uni Soviet kedua pemimpin sepakat untuk mengambil tindakan terhadap ‘negara’ yang berniat membangun ‘hegemoni’ di Asia-Pasifik.

Satu hal yang paling penting dalam pertemuan antara Nixon dan Mao adalah bahwa AS mengakui posisi RRC atas seluruh teritori Cina, termasuk kedua sisi Selat Taiwan dan mengakui bahwa RRC adalah satu-satunya negara yang merepresentasikan seluruh Cina. Dengan demikian, politik Satu Cina yang sebelumnya berkiblat ke ke Taiwan kini berbalik menjadi berkiblat ke RRC.

Dalam Komunike yang ditandatangani Nixon dan Mao, kedua negara berjanji untuk bekerja menuju normalisasi penuh hubungan diplomatik. Meski tidak langsung berimplikasi pada hubungan diplomatik, namun masing-masing negara mulai mendirikan ‘kantor penghubung’ baik di Beijing dan Washington.

Sejak saat itu Nixon mencanangkan kebijakan baru terhadap ancaman komunisme. Di era Nixon, negeri-negeri yang berjuang menghadapi ancaman komunisme tak lagi memperoleh dukungan dari AS. Pemerintah AS lebih mendorong upaya penggunaan kekuatan masing-masing negara untuk melawan komunisme. AS hanya akan membantu pelatihan dan peralatan militer yang diperlukan, tanpa harus mempertaruhkan para pemudanya untuk ikut wajib militer dan memerangi komunisme di luar negeri. Selain menghamburkan anggaran militer dengan peluang kemenangan yang sulit diprediksi, mengerahkan pemuda AS untuk maju ke medan perang melawan komunisme ternyata merupakan kebijakan sangat tidak populer di AS.

Pengalaman Perang Vietnam yang menyakitkan bagi AS turut memberikan andil bagi tercetusnya kebijakan ini. Dengan demikian, hal ini merupakan cara baru AS dalam mengantisipasi bahaya ancaman komunisme. Pada era ini, Doktrin Nixon telah menggantikan Doktrin Truman. Namun demikian, hal ini tidak menghilangkan fakta bahwa secara politis AS tetap anti komunis. Nixon hanya mencoba menawarkan cara baru menghadapi komunisme dengan metode yang lebih luwes dan realitis.

Konsisten dengan doktrin yang telah dicanangkannya, Nixon dengan cepat mengambil keputusan menarik secara bertahap kehadiran tentara AS dari kancah Perang Vietnam. AS “membiarkan” pemerintah Vietnam Selatan berjuang sendirian menghadapi gerak maju gerilyawan Viet Cong–kecuali meninggalkan hampir sebagian besar peralatan militernya untuk tentara Vietnam Selatan.

Pada bulan April 1975, Saigon, Ibukota Vietnam Selatan terkepung total oleh gerilyawan Viet Cong. Tepat pada tanggal 30 April 1975 gerilyawan Viet Cong praktis menguasai sebagian besar Saigon. Di stasiun CIA di kota itu menjelang siang helikopter Korps Marinir AS mendarat di puncak bangunan menjemput rombongan terakhir warga AS dan orang-orang Vietnam yang ingin mengungsi keluar.

Itulah babak drama terakhir Perang Vietnam yang “disaksikan” oleh Nixon dari kejauhan. Saat itu ia tidak lagi menjabat sebagai presiden. Ia meletakkan jabatan di tahun sebelumnya karena terlibat dalam Skandal Watergate. Namun demikian, doktrin yang dicanangkannya menjadi platform kebijakan luar negeri AS terhadap komunisme pada umumnya dan RRC khususnya hingga sekarang.

Nixon sendiri di kemudian hari mengakui bahwa selama ia menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Eisenhower masih menganut sikap militan anti RRC. Bahkan, ia pernah mengusulkan agar wilayah kerja SEATO diperluas hingga ke seluruh Asia agar RRC tak berkutik. Di masa itu ia adalah seorang politisi yang sangat membenci RRC.

Di era kepresidenannya, pandangannya tentang RRC berubah total. Dialah yang justru berinisiatif menemui Mao. Bahkan, setelah ia tidak lagi menjabat presiden, karpet merah dan upacara kenegaraan selalu menyambut kedatangannya di RRC. Negeri Tirai Bambu itu ternyata sangat menghormati Nixon. Mao telah menjadi sahabat Nixon. Dalam memoarnya Nixon mengakui bahwa banyak hal yang mengejutkan dirinya terkait dengan soal-soal tentang RRC.

Faktor yang tidak kalah pentingnya di balik persahabatan Washington – Beijing adalah peran para Mak Comblang yang dimainkan oleh Pakistan dan Polandia. Pakistan yang selama ini menjadi seteru India cenderung lebih dekat dengan RRC. Sikap ini adalah dalam rangka mengimbangi kedekatan antara India dan Uni Soviet. Pakistan tentu lebih merasa nyaman jika AS dan RRC bersahabat. Sementara Polandia beranggapan bahwa RRC perlu didorong untuk memainkan peran kunci dalam politik keseimbangan global di kawasan Asia Pasifik agar tidak selalu berporos pada relasi AS – US. Satu bukti lagi tampak nyata di sini. Polandia yang berhaluan komunis itu ternyata juga bukan negara yang bisa dipengaruhi Uni Soviet.

Runtuhnya Teori Domino

Namun, masih dibutuhkan 7 tahun lagi pasca pertemuan Nixon – Mao bagi kedua negara untuk membuka hubungan diplomatic secara resmi. Pasalnya, Nixon masih harus menghadapi ideologi anti-komunis yang relatif kuat di kalangan elite politik AS serta lobby Taiwan yang selama ini telah terjalin erat dengan Washington. AS agaknya tidak ingin melukai perasaan Taiwan, salah satu sekutu lamanya di Asia Pasifik yang mulai ditinggalkan pasca kunjungan Nixon ke RRC. Namun secara politis, kebijakan Satu Cina AS pada dasarnya telah berubah drastis: dari Republik Cina (Taiwan) ke RRC.

Pada tahun 1988 pangkalan militer AS di Subic Bay (Angkatan Laut) dan Clark (Angkatan Udara) di Filipina—sebagai ujung tombak SEATO—secara resmi ditutp menyusul pembubaran SEATO pada tahun 1977. AS tidak melihat ada alasan logis mempertahankan SEATO sebagai alat pertahanan militer untuk membendung RRC—menyusul semakin kuatnya persamaan kepentingan antara negeri itu dengan negeri tirai bambu dalam perimbangan politik menghadapi Uni Soviet di kawasan Asia Pasifik.

Antusiasme terhadap menghangatnya hubungan Washington-Beijing bahkan terlihat lebih kuat diekspresikan oleh kaum kapitalis AS ketimbang para politisi. Di benak mereka terhampar 1 miliar  rakyat RRC yang potensial menjadi konsumen dan buruh murah jika RRC membuka peluang investasi kelak. Dalam pandangan kaum kapitalis AS, politisi hanya mementingkan ideologi, tapi buta melihat peluang profit.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Perang Dingin—yang oleh para politisi dianggap sebagai upaya membendung komunsime untuk menyelamatkan kapitalisme–sebenarnya justru menjengkelkan para kapitalis. Tembok Perang Dingin telah membelah dunia menjadi dua: dunia komunsime yang terlarang bagi operasi bisnis kapitalis AS dengan dunia bebas. Apa yang dibangun oleh para politisi pada dasarnya justru menghalangi ekspansi modal kaum kapitalis.

Bersamaan dengan itu konflik-konflik antar sesama negara komunis di Asia Tenggara juga semakin tampak ke permukaan menjelang akhir dasawarsa 1970-an. Selain terjadi perang di perbatasan RRC-Vietnam, rezim komunis Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot digulingkan oleh Heng Samrin, seorang komunis yang dekat dengan Vietnam.

Alih-alih “mempraktikan” Teori Domino, antar negara komunis di Asia Tenggara justru saling menikam di bawah satu panji yang sama: Marxisme-Leninisme. Akibatnya, satu pihak cenderung akan terhalang oleh pihak lainnya untuk melakukan—jika memang benar ada—ekspor revolusi komunis ke negara lain sebagaimana yang dibayangkan oleh penganut fanatik Teori Domino.

Kegagalan teori ini dalam praktik justru bukan karena AS dan negara-negara Barat yang melakukan pembendungan, melainkan saling jegal antar negara sesama komunis sendiri. Pertikaian berdarah dan sengit antar sesama negara komunis ini membuat Teori Domino tamat riwayatnya. AS memang sangat terlambat memahami perkembangan di luar dirinya. Namun, negeri ini dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi dan meninggalkan teori ini.

Implementasi Doktrin Nixon: AS Mundur dari Perang Vietnam

Doktrin Nixon terkait dengan RRC telah menjadi landasan politik luar negeri AS sejak masa kepresidenannya hingga masa Obama. Hubungan kedua negara tergolong intens, terlebih di era  yang Deng Xiaoping mulai membuka diri terhadap investasi asing. Kedua belah pihak jelas banyak mengambil manfaat dari reformasi ekonomi sejak era Deng, sekalipun terkadang masih muncul beberapa perbedaan tertentu diantara keduanya.

Akal Sehat Menang atas Fanatisme Buta

Kunjungan Nixon ke RRC telah menandai sebuah pergeseran penting dalam peta geo politik di Asia Timur. RRC tidak lagi dilihat sebagai ancaman bagi kepentingan AS di kawasan ini. AS akhirnya memilih RRC sebagai sekutu politik untuk mengimbangi apa yang dibayangkan oleh Washington sebagai ambisi Moskow menarik orbit negara-negara di kawasan Asia Timur ke dalam pengaruhnya.

Sekalipun sangat terlambat AS akhirya menyadari bahwa Beijing ternyata bukan pesuruh  Moskow. Negara-negara komunis, bagaimanapun juga, tidak dapat disetir sesuka hati oleh Uni Soviet. Mereka juga memiliki otonominya sendiri, dan oleh karenanya, tidak jarang berbeda kepentingan satu sama lain—sekalipun mereka diikat oleh solidaritas sebagai sesama komunis.

Diawali dengan keyakinan di lingkar satu Presiden Kennedy yang mulai menyadari bahwa strategi pembendungan terhadap RRC memerlukan peninjauan ulang, Presiden Nixon melangkah lebih jauh dan konkret untuk meninggalkan strategi pengepungan AS terhadap RRC. Dengan demikian, Nixon yang berasal dari P. Republik mewujudkan apa yang pernah digagas oleh Presiden J.F. Kennedy yang berasal dari P. Demokrat.

Dalam konteks ini, Teori Domino yang sebelumnya menjadi pijakan dasar kebijakan dan strategi global AS dalam menghadapi ancaman komunisme tak lagi dipergunakan. Oleh karenanya, ketimbang harus menguras energi untuk mengepung RRC, realisme politik di lapangan akhirnya mendorong Washington mengambil arah baru dalam politik luar negerinya: memanfaatkan perbedaan di kalangan negara-negara komunis untuk kepentingan strategis AS sendiri. Fanastisme ideologis anti-komunisme perlahan beralih dan berganti menjadi realisme-pragmatis terhadap komunisme, khususnya terhadap RRC.

Namun demikian, kecenderungan perubahan kebijakan semacam itu tidak dapat dibaca bahwa AS melepas sikap anti komunis. Negeri ini pada dasarnya tetap melihat komunisme sebagai ancaman terhadap apa yang dinamakan sebagai free world. Apa yang coba ditawarkan Nixon adalah upaya untuk memposisikan komunisme dengan pendekatan yang lebih pragmatis dan realistis.

Di sisi lain, Posisi politik RRC di kawasan Asia Pasifik justru sangat penting sebagai partner strategis global AS dalam persaingan hegemoninya dengan Uni Soviet, di samping jumlah penduduk RRC yang merupakan potensi pasar bagi kaum pemilik modal di AS.

Lebih dari seperempat abad pasca PD II AS telah membelanjakan jutaan dolar untuk membangun kekuatan militer guna membendung komunisme di Asia. Negeri ini juga menerjunkan personel militernya dalam kancah Perang Korea dan Perang Vietnam, namun tidak membuahkan kemenangan.

Pada kurun yang sama, puluhan ribu pemuda AS yang tergabung dalam dinas kemiliteran gugur sia-sia di medan tempur untuk dan atas nama perang melawan komunisme. Di dalam negeri perang terhadap komunis di Korea dan Vietnam lebih banyak menuai cacian daripada dukungan. Tahun 1946 Truman telah membangun tembok penghalang untuk membendung komunisme; di awal era 1970-an Nixon menghancurkannya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here