Relawan di Jatim Siap Menangkan Khofifah-Fandi Utomo

0
177

Nusantara.news, Surabaya – Meski belum resmi mendaftar, nama Khofifah Indar Parawansa tak henti terus dielukan dan diharapkan menjadi Gubernur Jawa Timur menggantikan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf, melalui Pilkada serentak 2018, mendatang.

Dukungan terus mengalir agar Menteri Sosial di pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla ini bisa kembali, menjadi gubernur dan memakmurkan masyarakat Jawa Timur. Dukungan itu di antaranya datanya dari Eks Relawan Kemiskinan Jawa Timur. Mereka mengaku siap all out memasangkan dan memenangkan Khofifah dengan Fandi Utomo, yang juga Wakil Ketua Komisi II DPR RI.

Kepada Nusantara.news, Pudjihandi sebagai Kordinator Eks Relawan Kemiskinan Jawa Timur, dengan terang-terangan menyebut kalau timnya siap kerja keras untuk meraih kemenangan, jika keduanya benar-benar jadi pasangan duet di Pilgub Jawa Timur, 2018.

“Untuk mengusung calon itu haknya partai politik. Dan, ketika muncul pasangan Khofifah-Fandi saya kira ini adalah figur yang tepat di Pilgub Jatim,” kata Pudjihandi, Jumat (28/7/2017).

Menurutnya, sosok Fandi Utomo tidak asing lagi di kalangan relawan, termasuk Relawan Peduli Kemiskinan. Saat ini, jaringan relawan itu tersebar di seluruh Jawa Timur. Mereka, lanjut Pudji bergerak di luar jalur partai. Selain itu, para relawan yang dipimpinnya juga memiliki kedekatan emosional dengan Fandi Utomo sejak perhelatan Pilpres 2004 lalu.

“Kami dengan Fandi Utomo hubungannya adalah pertemanan dan sampai saat ini solid. Kami bergerak tidak dalam lingkungan politik. Kalau politik, itu urusannya Mas Fandi yang saat ini duduk di parlemen,” jelasnya.

Dirinya juga menyebut, mereka-mereka yang ada di dalam jaringan relawan tersebut, merupakan jaringan sejumlah aktivis, termasuk dari GMNI.

“Ya, kita terikat secara moral dari GMNI. Mas Fandi dulu juga aktivis GMNI di ITS,” tambahnya.

Ia juga menyebut, jaringan yang dibangun oleh Fandi Utomo merupakan jaringan bawah tanah. Selain masih solid hingga saat ini, hubungan antara anggota juga dengan Fandi Utomo terus terbina dan berjejaring.

Pudjihandi, selain menguraikan jalinan kedekatan dan jejaring yang telah terbina. Juga terus berkomunikasi dan memiliki kedekatan dengan Khofifah, termasuk saat Pilgub Jatim 2013 lalu. Meski dirinya sempat mengakui relawan ini sempat terpecah. Ada beberapa relawan yang gabung dalam gerbong pemenangan Khofifah-Herman Surjadi Sumawiredja (Berkah), ada juga yang gabung dalam tim Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Meski begitu hubungan pertemanan dan jaringan sebagai relawan masih terus solid.

Oleh karena itu, lanjut Pudjihandi, ketika muncul wacana duet Khofifah-Fandi Utomo, itu dinilai merupakan komposisi yang tepat. Menurutnya, pasangan tersebut mencerminkan sosok Nasionalis-Religius. Karena pasangan Nasionalis-Religius sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas berbagai bidang di Provinsi Jawa Timur ini.

“Kalau teman sendiri yang punya hajat, kita harus mendukung. Kita kenal dengan Mas Fandi Utomo sudah lama. Kita juga tahu nama besar dan kemampuan Ibu Khofifah, pasangan ini sangat pas untuk menjadikan Provinsi Jatim menjadi lebih baik, kita akan mendukung penuh,” pungkas mantan Ketua Komite Independen Pemenangan (KIP) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004 lalu.

Sementara, saat dikonfirmasi seberapa jauh kesiapannya untuk berlaga di Pilgub Jawa Timur, Fandi Utomo menjawab masih menunggu perintah. Tetapi, tak dipungkiri, Fandi Utomo kerap terlihat ikut mendampingi Khofifah di sejumlah acara.

Nama Khofifah Terus Meroket

Untuk diketahui, jelang Pilkada Jawa Timur nama Khofifah Indar Parawansa terus meroket, salah satunya yang dirilis oleh Surabaya Survei Center (SSC). Disebut, popularitas Khofifah terus naik hingga menjelang Pilkada Jawa Timur.

SSC mencatat popularitas Menteri Sosial asal Surabaya itu bahkan menyentuh angka 90 persen, meski belum secara resmi mendeklarasikan diri maju di Pilkada Jawa Timur 2018, mendatang.

Perolehan angka tersebut jauh mengungguli bakal calon yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Saifullah Yusuf, yang sejak lama mendeklarasikan siap maju di Pilkada Jawa Timur. Serta calon lainnya yang telah resmi mendaftar baik dari PDI Perjuangan atau Partai Demokrat.

“Dari sebanyak 800 responden dengan margin of error 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen menghasilkan data sebagai berikut, nama Khofifah Indar Parawansa tercatat paling populer,” kata Direktur SSC, Mochtar W Oetomo di Hotel Yellow Surabaya Rabu (12/7/2017), lalu.

Data Survei SSC menyebut Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Menteri Sosial ini popularitasnya paling tinggi di antara nama-nama lain, angkanya di atas 90 persen.

“Dari hasil survei SSC, nama Khofifah merupakan kandidat paling populer di Jawa Timur, angkanya 90 persen. Disusul Saifullah Yusuf angkanya 84,6 persen dan Tri Rismaharini 79,8 persen. Nama lainnya, ada Anang Hermansyah angkanya 67,3 persen,” terang Mochtar.

Sementara, nama tokoh lainnya yang terjaring dalam survei SSC dan paling banyak disukai adalah Tri Rismaharini, Mahfud MD. Untuk akseptabilitas, Tri Rismaharini menempati urutan tertinggi yakni 75,8 persen. Baru berikutnya Saifullah Yusuf 75,5 persen. Untuk elektabilitas, tertinggi Saifullah Yusuf dengan angka 26,6 persen, Tri Rismaharini dengan angka 24,1 persen dan Khofifah 16,8 persen. Di bawahnya adalah Abdullah Azwar Anas diangka 5,5 persen. Kemudian La Nyalla Mahmud Mattalitti dengan capaian 4,40 persen.

Fandi Utomo, Pengusaha dan mantan dosen teknik elektro ITS

Fandi Utomo terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrat, Dapil Jawa Timur I dengan perolehan 26,335 suara. Namanya tercatat sebagai tokoh dan petinggi PD Jawa Timur. Mantan dosen teknik elektro di Teknologi Sepuluh November, Surabaya (ITS) tahun 1993-2004, saat ini menjadi pengusaha bidang pengelolaan hutan di Kalimantan (PT. Aquila Silva).

Fandi adalah putra dari mantan Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo (1998-2008) dan adik dari mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional, Joyo Winoto (2005-2012).

Di Pilkada Walikota Surabaya 2010 lalu, disokong PD, PKS, PPP dan PKNU Fandi mencalonkan diri sebagai Walikota Surabaya, namun gagal. Di periode 2014-2019 Fandi bertugas di Komisi II membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur dan reformasi birokrasi dan kepemiluan.

Pendidikannya tercatat di SMA Sooko, Mojokerto (1986). Kemudian S1, di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya (1993). Fandi Utomo lahir di lingkungan keluarga yang aktif berpolitik. Saat di bangku kuliah dikenal aktif berorganisasi, yakni di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Tahun 2009, Fandi bergabung menjadi kader Demokrat dan mendapat tanggung jawab sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Timur (2009-2011).[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here