Relevansi Indonesia Merdeka 100 Persen dari Pria dengan 1.000 Nama

0
194

Nusantara.news, Surabaya – Merdeka 100 Persen, itulah yang dikehendaki Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman saat menolak hasil perundingan Linggarjati 1947 dan Renville 1948 yang menggerus teretorial Negara Republik Indonesia.

Maka Jenderal Soedirman secara militer terus bergerilya di perbukitan kartz sejak Gunungkidul hingga Pacitan. Sedangkan Tan Malaka yang sempat mendirikan Persatuan Perjuangan sempat ditahan selama 2,5 tahun tanpa pengadilan. Usai pemberontakan PKI/Font Demokratik Rakyat (FDR) Tan Malaka dibebaskan. Tapi Tan Malaka terus berjuang membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi sebelum akhirnya ditangkap  oleh Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya di bawah Komandan Letda Soekotjo dan dieksekusi di desa Selopanggung,Kediri, 21 Februari 1949.

Memang, perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan diproklamirkan 17 Agustus 1945 silam, masih belum dirasakan secara penuh hingga kini. Kolonialisme gaya baru mengikuti tren global menjadikan negeri ini belum merasakan 100 persen merdeka, kondisi yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh Tan Malaka yang lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Koto, Sumatera Barat, 2 Juni 1897.

Tarik menarik kepentingan asing seakan menghilangkan modal besar negara yang membentang dari Sabang sampai Merauke berupa kekayaan alam melimpah dan ratusan juta rakyatnya. Yang terjadi, jurang kesejahteraan melebar dan penguasaan ekonomi oleh hanya segelintir orang. Pemahaman itu bahkan membuatnya tak hanya dimusuhi kaum kolonialis namun juga bangsanya sendiri.

Bagi kalangan pergerakan mahasiswa, prinsip dan ideologi Tan Malaka jadi kajian mendalam. Sebab selain menawarkan mimpi idealisme, jalan pemikirannya dianggap masih relevan hingga kini untuk melepaskan bangsa Indonesia dari bentuk-bentuk penjajahan baru. Suara kritis yang terus dikeluarkan demi kemerdekaan total hingga akhir hayatnya.

Tak heran Ketua BEM FISIP UNAIR Surabaya Andre Rahmad, mengatakan pemikiran Tan Malaka masih relevan hingga kini. “Terutama tentang konsep ketahanan ekonomi di tengah arus globalisasi. Relevansi ini bahkan mendapat tempat karena negara biang globalisasi seperti Amerika Serikat, Inggris dan banyak lagi, kini justru kembali mengarah ke deglobalisasi dengan menguatnya paham populisme. Kendati tidak sama persis, perubahan ini sudah diprediksi Tan Malaka ketika menyuarakan Indonesia Merdeka 100 Persen,” terangnya, Kamis (19/1/2017).

Bahkan ada benang merah dari 25 tulisan Tan Malaka yang mendasari rajutan gagasan dan konsep mengenai suatu negara merdeka. Yakni kemandirian dalam mencapai kemerdekaan 100 persen serta keberpihakan terhadap rakyat jelata. Gagasan dan konsep rakyat tersebut secara konsisten dipegang oleh Malaka melampaui batas-batas zaman pra-proklamasi sampai dengan pasca-proklamasi.

Ketiadaan perubahan dan kesinambungan pemikiran dan perjuangan Tan Malaka melintasi perubahan zaman pada tahun 1945 dalam pemikiran perjuangan Tan Malaka agaknya hadir sebagai akibat pemaknaanya terhadap filsafat Hegelian yaitu tesis-antitesis-sintesis. Dia bahkan menganggap proklamasi 17 Agustus 1945, masih ada masalah-masalah baru ataupun masalah yang belum tuntas yaitu menghadirkan kemerdekaan sampai ke akar-akar bangsa. Prinsip yang membuat dirinya menerjang gelombang sebagai oposan di kala nama Soekarno sangat populis di benak bangsa Indonesia.

Sayang kedekatannya dengan marxisme, menjadi senjata bagi pihak yang tidak setuju dengan prinsip dan pemikirannya. Padahal Tan Malaka dengan tegas menyatakan masih sebagai muslim taat berbekal kemampuan menghafal Al Quran yang didapat di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tempat lahirnya yang masih berbalut ajaran Islam kental.

Ketegasan itu juga ditunjukkan ketika dia memiliki keyakinan bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidak sepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926, menyebabkannya Tan Malaka didepak dari dan cap sebagai Trostky (penghianat, RED) melekat pada dirinya.

Penggalan pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional keempat pada 12 November 1922 dapat menjelaskan bagaimana sikapnya terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia menentang thesis Lenin yang diadopsi pada kongres kedua, yang menekankan perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan Islamisme”.

Di lain kesempatan ketika terjadi konflik dalam tubuh serekat Islam, seorang bertanya pada Tan Malaka, apakah dia seorang komunis yang anti agama (atheis)? Tan Malaka menjawab dengan bahasa Belanda :

”Als ik voor God sta, ben ik Moslim, maar als ik voor de mensen sta, ben ik geenn moelim, omdat heeft gezegd date er onder de mensen vele duivels zijn” (jika saya berdiri dihadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim, tetapi jika saya berhadapan di depan manusia, saya bukan muslim sebab bukankah Tuhan pernah mengatakan bahwa diantara manusia itu banyak setannya).

Kemerdekaan menurut pandangan Tan Malaka, harus dirasakan dan didapat oleh kaum proletar dengan jalan revolusi total dalam arti sesungguhnya. Konsep itu dirasa bisa berjalan kalau kaum menengah dan bawah yang masih mendominasi demografi Indonesia hingga kini, melek politik dan sejarah, Pendidikan akhirnya jadi salah satu sarana perjuangan Tan Malaka dengan istilah Musyawarah Rakyat banyak (Murba).

Pendidikan kemurbaan haruslah didasarkan atas kemauan mengadakan kemakmuran bersama oleh kerjasama, bukan kemakmuran buat perseorangan (individu). Kemakmuran bersama ialah kemakmuran buat tiap-tiap anggota yang suka bekerja untuk masyarakat itu (sosialisme). Kemakmuran yang setinggi-tingginya dapat diperoleh cuma dengan jalan mekanisasi (pemakaian mesin semodern-modernnya). Pemakaian mesin yang paling efisien cuma dapat diperoleh dengan kerja gotong-royong yang teratur rapi (kolektifisasi)

Arah pendidikan adalah membangun kemandirian rakyat hingga mendapatkan kehidupan lebih baik. Hasil pendidikan adalah masyarakat tanpa kelas. Artinya masyarakat yang tidak dibedakan atas kelompok penindas dan tertindas. Dalam usaha tersebut akan tercapai masyarakat sosialis, egaliter dan merdeka.

Sebagai sosok yang terlibat dalam arus pergerakan nasional patut ditempatkan pada posisi yang terhormat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia. Keteguhan dan konsistensi Tan Malaka berpihak pada kaum proletar, rakyat jelata dan kromo di Indonesia dalam menghadapi kapitalisme-imperialisme Belanda patut kita adopsi dalam membangun pemikiran merdeka dan mandiri kita. Akhir kata, sikap kritis dalam merefleksikan sejarah hidup, pemikiran dan konsep Tan Malaka diperlukan untuk mengaktualisasikan isu dan tema yang dikemukakan dan masih relevan hingga kini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here