Rencana Kenaikan Bunga Fed Picu Capital Flight Rp12 Triliun

0
88
Capital outflow selama 11 hari pertama bulan Juli 2017 mencapai Rp12 triliun, namun capital inflow selama Januari-Juli 2017 mencapai Rp119 triliun

Nusantara.news, Jakarta – Dalam 11 hari terakhir rupiah mengalami tekanan signifikan menyusul keluarnya investor asing (capital outflow) hampir Rp12 triliun dari sistem keuangan Indonesia. Hal ini membuat nilai tukar rupiah sempat melemah hingga tembus level Rp13.404 per dolar AS.

Hengkangnya investor asing karena mereka mulai mengantisipasi kenaikan bunga Fed Fund Rate lanjutan. “Arus dana keluar terjadi karena investor asing melihat adanya peluang kembali kenaikan Fed Fund Rate, selain itu pasar juga memantau rencana bank sentral AS untuk menurunkan (down sizing) neraca keuangannya,” kata Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo di sela-sela Rapat Kerja Bank Indonesia dengan Badan Anggaran DPR RI pada Senin (10/7).

“Kami melihat ada sedikit capital outflow di minggu pertama Juli. Ada Surat Berharga Negara (SBN) yang dijual kira-kira Rp9 triliun dan dari pasar modal Rp2 triliun,” kata Agus. Hingga 11 Juli nilai capital outflow tersebut sudah mendekati Rp12 trilun.

Pasar sendiri cenderung terus melepas portfolionya di Indonesia, dan di negara-negara tetangga. Mereka menunggu pidato Gubernur Federal Reserve Jannet Yellen. “BI melihat (kebijakan AS) ini tidak dilakukan secara spontan, tetapi dilakukan dengan komunikasi yang baik. Mereka menjanjikan itu gradual dan terukur, jadi kami melihat ini akan diterima oleh market (pasar) lebih dulu,” ujar dia.

Menurut dia, kebijakan bank sentral AS bukan hanya mempengaruhi pasar keuangan di Indonesia, tapi juga di negara-negara lainnya. Hal tersebut tampak dari banyaknya mata uang dunia yang nilai tukarnya melemah terhadap dolar AS.

“Semua mata uang negara-negara lain melemah. Bukan cuma Indonesia (rupiah) yang melemah,” ujar dia. Adapun rupiah tercatat kembali mengalami pelemahan sejak pertengahan Juni lalu hingga kembali menembus level Rp13.400-an.

Sebenarnya periode Januari-Juni 2017 rupiah mengalami penguatan dibandingkan mata uang Turki, Filipina maupun Brazil yang rerata mengalami pelemahan. “Mungkin (mata uang) negara seperti Turki, Filipina, dan Brazil menunjukkan kondisi pelemahan. Tapi secara umum sampai 7 Juli 2017, rupiah menunjukkan penguatan 0,52 persen,” tutur dia.

Penguatan rupiah tersebut menyusul keputusan lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) menaikkan peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi layak investasi. Selain itu, kondisi makro ekonomi Indonesia yang terus bergerak ke arah positif dan sentimen positif pun layak diberikan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Itu sebabnya sepanjang Januari-Juli lalu, terjadi aliran dana asing yang masuk (capital inflow) yang cukup deras, yakni mencapai Rp117 trilun selama 6 bulan. Jadi secara kumulatif, dana asing masih aman di Indonesia sebesar Rp105 triliun. Jumlah itu jauh lebih besar dari total dana asing yang masuk sepanjang 2016 sebesar Rp126 triliun selama 12 bulan.

Agus menekankan bahwa keluarnya dana asing bukan disebabkan oleh pelebaran defisit anggaran. Sebelumnya, pemerintah mengajukan pelebaran defisit anggaran sebesar Rp67 triliun menjadi Rp397,2 triliun atau 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017. Level defisit tersebut mendekati batas aman 3%.

“Kalau defisit pemerintah bilang bisa ke 2,9%, tapi akan dijaga dengan self blocking (penghematan anggaran). Itu semua confindence (percaya diri) tentang itu,” kata Agus. Meski mengajukan pelebaran defisit hingga 2,92% namun pemerintah memprediksi defisit akan terkendali di level 2,67% lantaran penyerapan belanja tak pernah 100%.

Faktor lain yang menyebabkan rupiah dan mata uang utama dunia lainnya melemah, karena keluarnya data perbaikan tenaga kerja di AS. Sementara di dalam negeri tidak ada informasi positif yang menggerakkan sentimen pasar, sehingga membuat greenback, nama lain dari dolar AS, menguat.

Faktor yang juga menjadi pemicu penguatan dolar AS adalah adanya notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan masih ada kemungkinan suku bunga naik tahun ini, tetapi eksekusi kenaikan bunga Fed Fund Rate tersebut melihat perkembangan angka inflasi.

Dari dalam negeri sendiri, rupiah mendapat tambahan sentimen negatif setelah BI memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yakni 5,11% year on year (yoy). Ini adalah tambahan informasi yang kurang support terhadap nilai tukar rupiah.

Melihat sensitifnya pergerakan nilai tukar rupiah yang dipicu oleh capital outflow, nampaknya pemerintah dan Bank Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang lebih baik. Tujuannya untuk merangsang capital inflow lebih banyak.

Apalagi total kumulatif capital inflow jauh lebih besar dibandingkan capital outflow, menunjukkan sebenarnya investor asing masih confindence terhadap SBN maupun saham-saham di pasar modal, terutama terhadap SBN maupun saham yang terkait dengan pembiayaan infrastruktur yang sedang gencar-gencarnya digalang Pemerintah Jokowi.

Sekadar informasi, di pasar global paling tidak ada semacam dana investasi yang setiap saat bisa mampir (flying fund) ke negara yang dianggap memiliki level confidence tinggi hampir US$500 miliar. Indonesia termasuk negara dalam radar flying fund.

Tinggal bagaimana Pemerintah dan Bank Indonesia dapat membangun sinergi agar flying fund tersebut bisa masuk ke Indonesia. Karena itu penciptaan iklim investasi yang baik dan kondusif mutlak dilakukan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here