Rencana Renovasi Pasar Pakis Malang Timbulkan Keresahan Para Pedagang

0
192
Belakangan ini terjadi keresahan pada beberapa pedagang Pasar Pakis, Kabupaten Malang. Mereka resah terkait agenda pemerintah yang akan merenovasi untuk kepentingan revitalisasi pasar. Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Malang, Zia Ulhaq mengatakan, agar Pemkab Malang bersabar dahulu dalam menyikapi beberapa pedagang karena sosialisasi belum merata.

Nusantara.news,  Kabupaten Malang – mencuatnya konflik pasar di Kota Malang, membawa efek domino para pedagang pasar di Kabupaten Malang, tepatnya Pasar Pakis. Beberapa dari mereka khawatir akan agenda pemerintah mengenai revitalisasi pasar.

Pasalnya, apabila berkaca dan belajar dari konflik pasar merjosari dan dinoyo Kota Malang, banyak pedagang yang dirugikan karena tidak sanggup mencicil atau membeli lapak sebagai tempat baru mereka. Padahal lapak tersebut adalah hak dari para pedagang asal.

Latar belakang tersebut yang kemudian menyebabkan kekhawatiran beberapa pedagang Pasar Pakis, Kabupaten Malang. Belakangan ini, mereka resah terkait agenda pemerintah yang akan merenovasi untuk kepentingan revitalisasi pasar agar nampak bersih, indah dan nyaman.

Menanggapi adanya keresahan para pedagang tersebut, anggota Komisi A DPRD Kabupaten Malang, Zia Ulhaq menuturkan, agar Pemkab Malang lebih bersabar dalam menyikapi prinsip beberapa pedagang yang masih enggan dengan adanya rencana revitalisasi pasar.

“Mungkin, beberapa pedagang yang menolak dengan adanya renovasi pasar belum mendapatkan sosialisasi dan informasi secara detail,” pungkasnya, kepada wartawan, Jum’at (16/6/2017) lalu.

Pihaknya menjelaskan terkait sikap pedagang yang masih enggan dan menolak agenda revitalisasi tersebut. “Bisa jadi karena pedagang trauma adanya persoalan di pasar tradisional lain yang pada akhirnya pedagang asal dirugikan, Terlebih mereka juga khawatir diwajibkan membeli stand kepada investor pembangunan pasar tradisional nantinya.” jelasnya.

“Iya kalau mereka dari pedagang asal jangan sampai nantinya bayar lagi dengan harga yang tinggi, yang ada malah mereka malah tak mampu membayar, apabila pasar tersebut benar di bangun,” imbuhnya.

Zia Ulhaq berharap agar Dinas Pasar lebih aktif dan intensif melakukan sosialisasi rencana renovasi dan revitalisasi Pasar Pakis. Penjelasannya juga harus jelas dan menyeluruh supaya tidak ada kecurigaan dan timbul kerugian di salah satu pihak.

“Namun apapun alasannya, sebagai warisan sejarah, pasar tradisional harus tetap ada sebagai salah satu bentuk  tradisi dan budaya tawar -menawar dan lainnya. Karena itu adalah budaya rakyat juga,” tutup Politisi Partai PDI – P tersebut.

Darmaji, salah satu pedagang sayur Pasar Pakis yang dihubungi Nusantara.news mengungkapkan, pihaknya khawatir akan agenda revitalisasi pasar tersebut. “Apabila berkaca dari masalah gegeran atau kisruh antar pedagang dan pihak pemerintah sehingga membuat banyak pedagang yang justru dirugikan, kami ya takut terjadi seperti itu,” jelasnya, Senin (19/6/2017).

“Itu kan kayak pedagang diusir secara halus. Dan, itu mungkin salah satu caranya. Namun jangan sampai terjadi seperti itu,” imbuh pria 58 tahun tersebut.

Untuk saat ini, ia menjelaskan, beberapa pedagang masih khawatir dan enggan untuk membicarakan agenda revitalisasi pasar. “Masalahnya juga belum ada sosialisasi dan informasi yang secara jelas diterima oleh pedagang,” jelas Darmaji.

“Harus jelas dan detail informasi yang diberikan, mulai sebelum sampai sesudah itu bagaimana teknisnya biar sama-sama tahu semua pedagang dan tidak ada yang dirugikan,” tandasnya.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here