Rendahnya Kualitas Wacana Pemimpin Kita

2
459

Nusantara.news, Jakarta – Kualitas pemimpin Indonesia terus menurun. Trendnya bukan semakin naik. Dari waktu ke waktu terus menurun. Tidak hanya kedalaman berpikir dan dimensi kenegarawanan yang merosot, bahkan juga isi wacana yang dilontarkan.

Pasca-reformasi, para elite negara, politisi, hingga presiden kerap melontarkan pernyataan yang tak berbobot. Baru-baru ini, misalnya, pernyataan Jokowi pada acara resmi Dies Natalis kampus besar, Universitas Padjajaran, dinilai tak ada perlunya bicara soal artis Raisa dan Laudia Cynthia Bella yang dinikahi warga asing.

Wacana publik pun saat ini disesaki hal-hal remeh, mulai riuhnya obrolan soal sepatu dan jaket yang dipakai presiden, isu hoax yang tak habisnya disinggung penguasa, hingga drama saling lapor para politisi ‘baper’ (bawa perasaan). Di kutub arus bawah, kegaduhan-kegaduhan yang menyita akal sehat, utamanya di sosial media, menunjukkan kualitas literasi dan wacana kebanyakan masyarakat kita makin payah: malas membaca, berpikir pragmatis, mudah terprovokasi, terbelah dalam ‘prokontra abadi’ dukungan politik.

Sementara di level elite, para pejabat negara dalam bertutur seringkali tanpa sadar posisi dan tak mengerti betul substansi persoalan. Kondisi ini, amat terang menunjukkan bahwa kualitas wacana dan sikap bernegara mereka masih kelas rendah. Dampaknya: penegak hukum berbicara layaknya politisi, pemangku kuasa berkomentar asal bunyi, presiden bahkan terkadang berucap tak menunjukkan kelas seorang kepala negara.

Tentu amat jauh jika dibandingkan dengan para pendahulu kita. Di masa lalu, para pemimpin memiliki pikiran-pikiran bernas, perbedaan dan perdebatan ditunjukkan begitu cerdas, pun kualitas wacana mereka sangat berkelas. Hampir semua tokoh pergerakan, selain jago berbicara, juga punya gagasan tertulis yang adiluhung, misalnya Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, Tjipto, Sutan Sjahrir, Tjokroamioto, dan masih banyak lagi.

Begitupun pada masa orde lama dan orde baru, tak pernah diragukan visi kenegarawanan Bung Karno dan Pak Harto sebagai presiden yang memiliki cita rasa tinggi. Orang-orang di sekitar dua presiden tersebut, termasuk para pembisik dan orang kepercayaan, diambil dari kalangan terpilih, ahli di bidangnya, serta menjadi ‘begawan disiplin ilmu’ di zamannya. Mereka tak sembarangan berkata, tak mudah memberi masukan ‘receh’, apalagi bertindak di luar nalar publik.

Di masa orde lama, republik yang baru lahir akhirnya cepat melesat karena didukung tokoh-tokoh alumni pergerakan yang handal: Moh Yamin, Agus Salim, Natsir, Djuanda, Sumitro Djojohadikusumo, Roeslan Abdulgani, dan sebagainya. Pun begitu di zaman Orde Baru, masa depan Indonesia diracik oleh kaum profesional seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Sumarlin, Ali Wardhana, B.J. Habibie, Moerdiono, Ali Murtopo, Sudharmono, Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alatas, dan lain-lain.

Kualitas Wacana Soekarno dan Soeharto

Di masa orde lama, Soekarno lahir sebagai pemimpin yang mahir berpidato, juga kaya dengan gagasan. Segala pikiran Bung Karno, bahkan sanggup menyihir ribuan massa. Gagasan, prinsip, dan pemikiran Bung Karno bukan hanya digandrungi bangsanya sendiri, tapi juga bagi bangsa-bangsa luar yang mendambakan keadilan dan keadaban global bagi setiap umat manusia.

Sumbangsih pikirannya melintasi bidang politik, ekonomi, sosial, Islam, hingga kebudayaan. Pancasila, Teks Proklamasi, Trisakti, Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non-Blok, dan sejumlah ajaran Bung Karno, menjadi bukti sejarah bahwa bangsa ini pernah memiliki presiden yang amat brilian.

Kualitas wacana atau isi pembicaraan Soekarno, utamanya di depan khalayak, tentu saja berkait soal kedaulatan, kemandirian, karakter bangsa, dan kebangsaan. Wacana bangsa saat itu disuguhi konten-konten yang bermutu. Di pihak lain, kualitas kenegarawanan Bung Karno terletak dari kerelaannya “tenggelam” dalam penderitaan asalkan kedaulatan dan persatuan bangsa tetap terjaga.

Pesona berbeda ditampilkan Soeharto. Senyum khasnya membuat penguasa orde baru ini dijuluki sebagai “The Smiling General”. Dia dikenal sebagai ‘Bapak Pembangunan’. Ia juga disebut pemimpin yang bisa memerintah tanpa kata. Irit bicara, bergaya aristokrat, dan penuh unggah-ungguh. Pidatonya yang selalu menggunakan teks, menunjukkan kehati-hatiannya sebagai kepala negara dalam memberi pernyataan. Seolah ingin menegaskan bahwa ‘ucapan raja tak boleh salah’ atau ‘presiden gegabah, negara menanggung malu’.

Pak Harto juga memiliki otak encer. Ia membangun ratusan ribu sekolah dasar sampai SMA, merumuskan program kerja Pelita I-VII dan GBHN sebagai panduan pembangunan Indonesia. Swasembada beras, keluarga berencana, kesetiakawanan sosial, wajib belajar (wajar) 9 tahun, gerakan disiplin nasional, ABRI masuk desa, puskesmas, program dari desa ke desa, hingga klompencapir adalah penamaan-penamaan kebijakan era Soeharto yang begitu melekat di benak masyarakat Indonesa kala itu,  bahkan sampai sekarang. Semua warisan program tersebut merupakan buah kedalaman berpikir, juga kekuatan wacana para pemangku kuasa di masa orde baru.

Di luar negeri, Soeharto juga berperan dominan, utamanya di tingkat Asia Tenggara. Soeharto menguasai bahasa Inggris dan Belanda dengan sangat baik. Namun beliau lebih suka berbahasa Indonesia. Di panggung dunia, bahasa ibu pertiwi itu dijunjung tinggi, diucapkan dengan santun dan tertata. Sebab, apa yang diucapkannya adalah cerminan negaranya.

Di zaman Soeharto, para menteri diisi para profesional, pakar, purnawirawan, teknokrat atau ABRI aktif, dan hanya segelintir pengurus partai yang berasal dari Golkar. Tidak mungkin ada menteri yang berasal dari PPP dan PDI. Berbeda dengan di zaman rezim setelahnya, posisi menteri (demikian juga duta besar), seolah-olah menjadi bancakan para petinggi partai politik. Dari Wantimpres hingga para ‘pembisik’ di kantor kepresidenan dipenuhi ‘politik balas budi’ atau jatah kekuasaan. Sialnya, semua “jatah” itu lebih sering terisi oleh orang yang tak paham di bidangnya.

Kini, kualitas wacana yang berbobot di forum-forum resmi kenegaraan, pada mimbar dan pidato para pejabat, ataupun di hadapan para awak media, seperti menjadi barang langka. Yang mengemuka lebih banyak slogan dan wacana-wacana tanpa ruh. Pun apa yang dialami sebagian besar rakyat kita, tak banyak yang bergairah untuk sekadar berpikir tentang wacana-wacana yang mendalam dan serius.

Terlepas dari apapun, sejatinya, kualitas pemimpin hanyalah refleksi atau wujud dari kualitas rakyatnya. Pemimpin adalah produk rakyat. Apalagi di era demokrasi segalanya harus dipilih melalui proses pemilihan. Rakyat hanya bisa memilih tokoh-tokoh yang dicalonkan melalui partai politik. Tak banyak pilihan.

Kualitasnya tidak pernah diuji dan dibuktikan secara jelas. Segalanya bisa dimanipulasi oleh media. Betapa media bisa mengubah apa saja. Sesuai kepentingan pemesannya. Cara berpikir dan keyakinan rakyat bisa diubah. Hari-hari ini semuanya terbukti secara faktual. Betapa demokrasi di Indonesia sangat ‘absurd’ (hina). Karena tidak mampu melahirkan tokoh dan pemimpin yang punya visi kenegarawaan, juga wacana yang berkualitas.[]

2 KOMENTAR

  1. Tulisan di atas isinya sangat benar. Bagi saya pribadi yang merasakan dipimpin oleh semua Presiden yang dimiliki Indonesia, merasa seakan baru dipimpin oleh 2(dua) orang Presiden, yakni Bapak Soekarno dan Bapak Soeharto. Tanpa mengurangi hormat saya kepada Bapak Habibi dan Gus Dur, yang sempat memimpin negeri ini hanya seumur jagung. Sedang penerusnya lebih banyak bingung ngurusi dan membangun CITRA pribadinya melaui gayanya masing-masing.

  2. Sangat setuju dengan tulisan di atas, setidaknya yang saya ketahui, alami dan rasakan, saat ini dapat kita lihat dan rasakan para pemimpin negeri tidak berbuat murni untuk kepentingan bangsa dan negara tapi lebih banyak diwarnai kepentingan politik dan golongan, kami hanya bisa berdoa mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa segera menurunkan hidayahNya kepada para bapak-ibunya pemimpin negeri yang belum menyadari posisinya dan negeri ini senantiasa dipimpin oleh putra-putra terbaik bangsa yang senantiasa menyadari posisinya dan mampu menjaga amanah

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here