Resesi AS-China dan Rambatannya ke Indonesia

0
130
Perang dagang antara AS dan China memang sudah mereda, tapi eksesnya menimbulkan resesi bagi kedua negara. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping harus bertemua berkali-kali untuk memuluskan pengakhiran perang dagang.

Nusantara.news, Jakarta – Perang dagang AS-China memang sudah mereda, tapi dampak yang ditimbulkannya adalah ancaman resesi terhadap Amerika, termasuk China. Seberapa besar dampak resesi itu terhadap Indonesia?

Perang itu selalu berdampak buruk, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Begitu pula perang dagang antara AS-China. Meskipun intensi perang dagang kedua negara adidaya itu telah mereda, namun sisa-sisa pertempuran keduanya masih dapat dirasakan. Begitu pula sisi positif kesepakatan pasca perang pun masih dapat dirasakan.

Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China baru saja mengumumkan pembelian 500 ribu ton kedelai dari Amerika Serikat. Pembelian partai besar ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengadakan pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping tahunlalu. Kesepakatan perdagangan bernilai US$180 juta ini sekaligus mendongkrak harga jual kedelai AS ke level tertinggi dalam kurun waktu 4,5 bulan di pasar berjangka komoditas.

Transaksi pembelian tersebut mengindikasikan mencairnya ketegangan perdagangan dua negara kekuatan ekonomi terbesar dunia. China membeli 8,2 juta metrik ton kedelai dari AS sepanjang 2018. Walaupun angka ini merosot tajam dibanding periode yang sama tahun 2017 sebanyak 21,4 juta metrik ton.

Bahkan Departemen Pertanian AS (USDA) menyebut penjualan kedelai ke China turun tajam dari 7,1 juta metrik ton Oktober 2017 menjadi hanya 300 ribu metrik ton periode tahun ini. China adalah importir terbesar kedelai AS yang menyerap sekitar 60% ekspor kedelai Paman Sam senilai lebih dari US$12 miliar pada 2017. 

Skenario terbaik dari mendinginnya hubungan dagang AS dengan China adalah tercapainya kesepakatan dagang dan perang dagang sesungguhnya dapat dihindari. Presiden Trump sekali waktu pernah berucap, “Semoga situasi perdagangan ini akan diselesaikan pada akhirnya oleh saya sendiri dan Presiden Xi yang saya hormati,” kata Trump sebagaimana dikutip dari laman resmi Gedung Putih.

Skenario kedua adalah eskalasi berkala perang dagang. Ini bisa terjadi jika dua negara tak mencapai kata sepakat. Konflik perdagangan akan berlanjut dan mengubah perdagangan internasional ke fase new normal, termasuk juga hubungan bilateral AS-China.

“Beberapa tahun ke depan kita mungkin akan melihat periode eskalasi yang berganti dengan rekonsiliasi di bawah serangan ancaman dan juga pembicaraan,” tulis The Center for China and Globalization (CCG) dalam sebuah riset independen. 

Keinginan Trump untuk mengurangi defisit perdagangan AS terhadap China ke angka nol nampaknya mustahil terwujud. Namun, indikasi bahwa Trump tak memasang tenggat waktu untuk mengakhiri perang dagang hanya akan menghasilkan konflik perdagangan berkepanjangan. Kecemasan AS atas kebangkitan teknologi Cina dapat memperparah konflik.

Skenario terakhir dan yang paling buruk adalah eskalasi perang dagang besar-besaran. Ancaman Trump untuk meningkatkan tarif atas barang Cina senilai US$267 miliar serta pungutan sebesar US$200 miliar dan US$50 miliar akan direalisasikan. Jika saja hal itu terjadi, maka tarif pajak barang impor akan mencakup keseluruhan volume ekspor Cina ke AS. Hal ini tak hanya mengakibatkan dampak negatif pada ekonomi dua negara, tapi juga mengganggu rantai nilai global serta pertumbuhan ekonomi dunia.

Lepas dari isu perang dagang AS-China, saat ini  AS tengah terancam resesi ekonomi yang serius. Ditandai dengan kenaikan harga emas dan menekan harga logam di industri. Dengan sendirinya nilai tukar dolar AS pun jatuh terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.

Mengutip CNBC, Selasa (26/3), terkait ancaman resesi negeri Paman Sam muncul setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 3 bulan dan imbal hasil obligasi jangka waktu 10 tahun mengalami inversi atau berbalik arah sejak 11 tahun lalu.

Inversi terjadi karena yield obligasi pada tenor jangka pendek lebih tinggi dibandingkan yang bertenor jangka panjang. Padahal, seharusnya yield obligasi dengan tenor panjang lebih tinggi karena tingkat risikonya.

Amerika Serikat (AS) terancam resesi. Isu ini menyebabkan kenaikan harga emas namun menekan harga logam di industri. 

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah akan mewaspadai kemungkinan terjadinya resesi atau kemerosotan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Menkeu mengatakan, pemerintah akan mengamati perkembangan ekonomi di AS atas kemungkinan terjadinya resesi yang bisa berdampak ke Indonesia.

"Memang Amerika dan RRT sekarang ekonomi cenderung melemah semuanya, dan ini harus kita waspadai secara baik," kata Sri.

Pihaknya akan mempelajari faktor-faktor yang mengarah pada resesi di AS. Dia mengatakan, pemerintah sebetulnya sudah melihat bahwa di tahun 2019 ini tantangannya berbeda dari 2018, di mana proyeksi ekonomi dunia menunjukkan pelemahan.

"Dan pelemahannya cukup signifikan. Kalau kita lihat koreksinya (pertumbuhan ekonomi) dari 3,9% ke 3,7%, 3,5%, bahkan sekarang mungkin lebih rendah dari ini. Dan beberapa indikator tadi disebutkan inverse curve dari yield curve US treasury Amerika yang satu tahun, 3 bulan, dan 10 tahun," ujarnya.

Sementara pertumbuhan ekonomi China sendiri terus mengalami penurunan, kalau pada 2010 China tumbuh 10,3%, per 2018 pertumbuhan itu sudah di posisi 6,6%. Resesi ini tentu menjadi persoalan serius bagi kedua negara.

Faktor-faktor di atas, lanjut Sri Mulyani bisa menjadi indikator apakah AS akan mengalami resesi alias pelemahan atau tidak. "Ini biasanya sebagai leading indicator terhadap kemungkinan terjadinya resesi atau pelemahan di Amerika Serikat," tambahnya.

Sementara ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat kurva imbal hasil surat utang AS atau inverted yield curves menjadi salah satu indikator pra resesi di AS. Saat ini ada kecenderungan sinyal resesi AS menguat dan menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar global.

"Dampaknya jika AS masuk resesi tentu cukup cepat ke sektor finansial Indonesia. Belajar dari krisis subprime mortgage 2008, transmisinya semakin cepat ke pasar modal dan perbankan," ujar Bhima.

Menurut dia, sistem keuangan Indonesia saat ini sudah makin terintegrasi dengan pasar global. Sehingga investor yang panik akan menarik modalnya dari Indonesia (panic sell off) dan memicu krisis likuiditas.

"Sementara untuk sektor riil misalnya ekspor ada jeda dampaknya. Resesi AS memicu pelemahan permintaan produk dari Indonesia misalnya alas kaki, pakaian jadi, makanan minuman dan lainnya," ujar dia.

Bhima menyebutkan, sebagai catatan pasar ekspor ke AS porsinya terbilang cukup besar besar yaitu 11,5% dari total ekspor non migas per Februari 2019. Secara tidak langsung seluruh negara lain di dunia akan mengalami penurunan permintaan. 

Defisit perdagangan Indonesia bisa memburuk sampai 2020. Ini bisa ke mana-mana imbasnya rupiah melemah lagi, defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD) melebar dan investasi asing turun. 

"Jika AS terjadi resesi lagi ini semacam Armageddon ekonomi lebih parah dibanding krisis yang pernah ada dalam sejarah. Kita harus bersiap yang terburuk. Ibarat sedia payung sebelum hujan, KSSK perlu memantau risiko ke sistem keuangan dan bantalan fiskal juga harus disiapkan jika Indonesia terpapar krisis," ujar dia.

Sedangkan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyebut, risiko makro ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi meningkat. Hal itu tercermin dari neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

"Beberapa tahun terakhir Pemerintahan Jokowi, risiko makro ekonomi Indonesia meningkat. Kenapa, karena trade balance kebanyakan negatif, current account deficit belum pernah terjadi terjadi sejelek ini selama 8 tahun terakhir," ujarnya.

Dia mengatakan, hal tersebut merupakan salah satu penyebab, nilai tukar rupiah cenderung fluktuatif. Sementara, lanjut Rizal, pemerintah hanya menawarkan 'obat' jangka pendek.

Penawar tersebut ialah mempercepat pinjaman atau utang. Sehingga, memacu aliran dana asing masuk ke Indonesia. "Solusi yang dicari solusi jangka pendek, meminjamnya dipercepat, istilahnya front loading harusnya ambil pinjaman issue bond-nya 2-3-4 dimajukan sekarang. Supaya ada inflow dari capital, sehingga rupiah menguat temporer," jelasnya.

Rizal mengatakan, itu memberikan risiko pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, imbal hasil (yield) yang dibayarkan akan semakin besar.

"Menyelesaikan masalah trade balance dan current account deficitdengan cara seperti ini, itu berbahaya karena makin lama kita pinjam dengan yield paling tinggi termasuk paling tinggi di Asia, kita 8% lebih, Vietnam cuma 4%, yang lain cuma 5%, margin-nya 3%," paparnya.

"Jadi pemerintah ini akan mewariskan kepada siapa pemerintah berikutnya time bom, dalam bentuk utang semakin besar, bunga semakin tinggi," demikian Rizal.

Lantas bagaimana dampak resesi yang akan melanda AS dan China terhadap Indonesia?

Paling tidak ada tiga permutasi dampak resesi yang akan melanda dua adidaya tersebut.

Pertama, Indonesia punya peluang ekspor. Akibat perang dagang itu, Indonesia punya potensi untuk mengekspor barang ke kedua negara itu. Tidak cuma itu, Indonesia juga bisa jadi negara ketiga yang mengambil jatah ekspor China dan Amerika.m

Perang dagang itu sangat kompleks. Salah satu sebab awalnya adalah pertumbuhan komoditas baja dan alumunium di China. Indonesia bisa jadi negara ketiga untuk beberapa produk yang dihasilkan China atau Amerika yang menggunakan input kedua negara itu supply menjadi terhambat.

Beberapa komoditas yang bisa diekspor Indonesia, adalah baja, alumunium, buah, dan besi. Pasar Amerika misal baja dan aluminium itu terbuka buat Indonesia ,tapi perlu hati-hati. Untuk pasar China buah-buahan dan juga produk besi dan baja, serta aluminium.

Kedua, menurunnya ekspor bahan baku atau bahan penolong Indonesia ke China dan Amerika. Hal ini terjadi jika cakupan perang dagang meluas ke produk lain.

Tahap pertama dampak ke Indonesia ekspor kedua negara belum terlalu besar. Produk yang dihasilkan China kemudian diekspor ke Amerika itu ambil bahan baku dari Indonesia relatif sedikit. Begitu coverage diperluas, kita perlu kajian lebih lanjut sejauh apa dampak terhadap ekspor untuk kedua negara tersebut,” jelasnya.

Ketiga, terjadi trade diversion (pengalihan perdagangan) yang bisa dimaksimalkan Indonesia. Sebagai akibat adanya intensif penurunan tarif, misalnya Indonesia yang sebelumnya selalu mengimpor gula dari China beralih menjadi mengimpor gula dari Thailand karena lebih murah.

Produk yang dihasilkan China dan Amerika terhambat tarif yang tinggi di kedua negara dan akan cari jalan ke pasar lain ke semua negara. Indonesia salah satunya. Termasuk Afrika dan Amerika Latin.

Itu sebabnya hikmah yang patut dipetik Indonesia di tengah resesi AS dan China adalah terbukanya sejumlah peluang ekspor baik ke Amerika sekaligus ke China dan negara-negara lainnya. Tapi pada saat yang sama efek psikologis resesi kedua adidaya tersebut juga tak bisa dihindarkan, sepanjang pemerintah tak melakukan antisipasi-antisipasi yang konkret.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here