Resmikan Masjid Raya Daan Mogot, Jokowi Dinilai Berpihak kepada Ahok

0
106
Jokowi resmikan Masjid KH. Hasyim Ashari di Jl. Dan Mogot, Jakarta Barat.

Nusantara.news, JAKARTA – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin sudah menyarankan agar Presiden Joko Widodo menunda meresmikan Masjid Raya KH Hasyim Asyari di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, karena bisa menimbulkan opini tidak netral terkait Pilkada DKI Jakarta yang digelar 19 April 2017.

Namun,  pada Sabtu (15/4/2017), Jokowi mengambil keputusan tetap meresmikan meresmikan masjid itu. Dia mengatakan masjid ini adalah  hasil kerja Pemprov DKI Jakarta. “Masjid ini hasil kerjasama Pemprov DKI dengan pemerintah pusat,” kata Jokowi.

Karena menyebut Pemprov DKI, kalimat ini bisa saja ditafsirkan menunjuk pada Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta.

Soal klaim Ahok yang berjasa membangun masjid tak berhenti sampai disitu. Ahok sempat mengaku namanya hendak dijadikan nama masjid tersebut.  “Ceritanya, ada pejabat di DKI yang usul nama saya, ‘bagaimana masjid raya Daan Mogot dikasih nama Nurul Qomar. Supaya orang tahu Bapak yang bikin’,” tutur Ahok saat berkunjung ke Kantor GP Ansor di kawasan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (7/4).

Nurul Qomar itu artinya cahaya bulan, hampir sama dengan Tjahaja Purnama.

Klaim ini dibantah oleh peneliti senior dari Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap. “Itu klaim palsu,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (9/4).

“Prakarsa pembangunan masjid disetujui DPRD tahun 2012 atau di era Gubernur Fauzi Bowo. Mulai dikerjakan Gubernur Jokowi tahun 2013. Jokowi meletakkan batu pertama pembangunan masjid yang dinamai Masjid Raya K.H. Hasyim Asyari, seorang pendiri NU,” ujarnya.

“Ahok dalam hal ini hanya penerus. Sehingga, klaim kerja nyata Ahok-Djarot adalah manipulasi fakta sejarah,” sambung Muchtar.

Lebih lanjut, ia menilai pembangunan ini bukan sebagai prestasi. Pasalnya, lima tahun terhitung sejak Jokowi gubernur, Pemprov DKI hanya mampu bangun satu unit Masjid Raya di DKI, padahal ada lima kotamadya dan satu kabupaten di DKI Jakarta.

“Tidak hanya itu, sesuai regulasi, target selesai pembangunan Masjid itu seharusnya tahun 2016. Tetapi, kenyataannya mundur hingga April 2017. Terjadi keterlambatan waktu finalisasi pekerjaan fisik,” ujarnya.

Masjid seluas 2,4 haktare dan bernilai Rp165 miliar ini mampu menampung 12.500 orang jamaah. “Ini membuktikan semangat pemerintah dalam keberagamaan,” ujar Jokowi, seolah hendak meluruskan tuduhan bahwa Ahok anti-Islam.

Sebelumnya, Din Syamsudin menyatakan, peresmian masjid menjelang pencoblosan, apalagi melibatkan salah seorang calon gubernur, akan mengganggu ketenangan masyarakat pemilih yang berseberangan.

“Bukankah penundaan pembacaan tuntutan JPU pada sidang penistaan agama didalihkan pada alasan gangguan ketentraman? Demi keadilan, seyogyanya alasan yang sama diterapkan pada rencana peresmian masjid pada waktu yang tidak pas,” kata Din dalam keterangan persnya yang diterima Nusantara.news, kemarin.

Terlebih, acara peresmian itu, tentu akan diberitakan secara luas oleh media, yang dengan sendirinya mempertontonkan bahwa Presiden Jokowi tidak netral, bahkan berpihak secara nyata terhadap Ahok-Djarot. “Hal ini bertentangan dengan pernyataan beliau sendiri berulang kali mengatakan tidak berpihak,” kata Din.

Sebenarnya, lanjut Din, sebagian rakyat sudah menilai bahwa Presiden Jokowi dari awal sudah tidak netral dan tidak berdiri mengayomi seluruh rakyat. Maka, peresmian masjid, yang dihadiri oleh Ahok, menambah rasa ketidakpercayaan sebagian rakyat, padahal pelaksanaan agenda pembangunan negara dewasa sangat memerlukan dukungan seluruh rakyat.

Rakyat, imbuh Din, mendambakan keteladanan politik berupa “satunya kata dan ucap”. Selama ini sering diucapkan “tidak boleh ada politisasi agama”, tapi peresmian masjid itu tak pelak lagi akan dianggap sebagai bentuk ” politisasi agama yang nyata”.

Walau demikian, umat Islam tidak akan terpengaruh. Jokowi atau Ahok bisa saja beranggapan bahwa dengan peresmian masjid sebelum pilgub, akan ada efek positif bagi Ahok dari kalangan pemilih muslim. Tetapi, kata Din, umat Islam sudah cukup cerdas dengan trik-trik politik. “Justru oleh karena itu mereka akan semakin menjauh,” katanya.

Selain itu, Din juga merasa mengklarifikasi berita tentang gambar masjid yang apabila dilihat dari atas menyerupai lambang agama lain (non-Islam). “Kalau benar, maka sebaiknya diperbaiki dulu agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, karena akan dianggap sebagai “masjid dhirar” atau “masjid yang membahayakan” dan karenanya karenanya harus dijauhi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here