Resmikan Tol Sumo, Jokowi Ingatkan Prestasi Indonesia Bangun Jagorawi

0
95
Presiden Jokowi "Indonesia pelopor pembangunan jalan tol, terbukti ada Jagorawi, negara lain hanya penonton. Kini terbalik, Indonesia tertinggal" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan tiga seksi terakhir dari pembangunan ruas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo), sepanjang 15,5 kilometer. Ketiga seksi yang diresmikan oleh Presiden Jokowi meliputi Seksi IB Western Ring Road-Sepanjang 4,3 kilometer. Kemudian, untuk Seksi II Western Ring Road-Driyorejo yakni sepanjang 5,1 kilometer dan Seksi III menghubungkan Driyorejo-Krian sepanjang 6,1 kilometer. Peresmian pengoperasian Jalan Tol Sumo di gelar di Gerbang Tol (GT) Waru Gunung, Selasa, (19/12/2017).

Hadir di acara peresmian tersebut, ada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Gubernur Jatim Soekarwo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, Kapolda Jatim Irjen Polisi Mahfud Arifin, serta pejabat Jasa Marga dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyebutkan dengan bertambah dan rampungnya pembangunan sejumlah ruas tol termasuk yang ada di Jatim diharapkan akan meningkatkan daya saing serta menggenjot pertumbuhan ekonomi semakin tinggi.

“Jika stok infrastruktur kita masih rendah dan stok infrastruktur negara lain lebih tinggi, artinya kita akan kalah bersaing dan mengakibatkan produk-produk kita lebih mahal. Inilah mengapa infrastruktur sangat penting untuk menjawab ketimpangan ekonomi daerah yang terjadi. Karena, tidak meratanya pembangunan ekonomi akibat tidak adanya konektivitas,” terang Presiden Jokowi.

Ambisi Jokowi, 2019 Ruas Tol Merak-Banyuwangi Harus Selesai

Presiden Jokowi “Tidak ada alasan, akhir tahun 2019 pembangunan Jalan Tol Merak-Banyuwangi harus sudah selesai, bisa difungsikan agar ekonomi Jawa bisa meningkat” (Foto: Tudji)

Selanjutnya, Presiden Jokowi meminta pembangunan jalan tol dari Merak sampai ke Banyuwangi sepanjang 1167 kilometer, harus terus dikerjakan setiap hari. Dan, dia meminta tanpa alasan, pembangunan jalan tol itu (Merak-Banyuwangi) pada akhir 2019, harus sudah selesai.

“Tidak ada alasan, pada akhir tahun 2019 pembangunan ruas tol Merak-Banyuwangi harus sudah selesai dan bisa difungsikan agar ekonomi Jawa bisa meningkat,” tegasnya disambut tepuk tangan seluruh undangan yang hadir.

Baca Juga: Gandeng Tentara, Prov Jatim Renovasi 1.825 Rumah Tidak Layak Huni

Ditegaskan, ruas tol yang telah selesai dibangun dan beroperasi sepanjang 561 kilometer, sisanya diminta untuk terus dikebut dan harus selesai akhir 2019. Pihaknya juga meminta selain jalan tol, untuk bisa memenuhi terwujudnya daya saing semua harus dibenahi, yakni pelabuhan, bandara, pembangkit listrik dan jalan tol untuk terus dikebut. “Karena hanya dengan pembangunan infrastuktur Indonesia akan bisa bersaing dengan negara-negara lain, serta mengejar ketertinggalan,” terangnya.

Masih kata Jokowi, pembangunan jalan tol dari Merak hingga Banyuwangi dengan panjang 1.167 kilometer, bisa jadi juga akan terkendala pembebasan lahan, namun pihaknya meminta itu harus bisa teratasi.

Hingga saat ini, ruas jalan tol di Jawa yang sudah beroperasi sepanjang 541 kilometer. Sementara yang masih dalam proses konstruksi 433 kilometer dan tahap persiapan 171 kilometer, yang ada di Jatim sepanjang 268 kilometer.

Jika ruas jalan tol di Jawa sudah beres, kemudian akan dibangun jalan tol di wilayah lain. Sebagai contoh, sudah dimulai Jalan Tol Trans Sumatera, kemudian segera disusul pembangunan di Lampung, Palembang dan Medan. Salah satu fungsi dibangunnya jalan tol adalah untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi.

Indonesia Pelopor Pembangunan Jalan Tol, Terbukti ada Jagorawi

Presiden Jokowi juga menyinggung keberhasilan Indonesia di mata dunia, khususnya soal pembangunan jalan tol. Dikatakan, kalau dulu Indonesia dikenal oleh negara-negara lain sebagai negara yang pertama kali membangun jalan tol, tetapi saat ini tertinggal dengan negara-negara lain yang dulu sempat menjadi penonton keberhasilan Indonesia.

Terbukti, pada tahun 1973 hingga 1978 Indonesia telah berhasil membangun Jalan Tol Jagorawi, yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi sepanjang 46 kilometer. Jalan tol itu dibangun dengan biaya Rp350 juta per kilometer pada kurs rupiah saat itu.

“Tahun 1973, Indonesia telah membangun Tol Jagorawi, negara-negara lain hanya sebagai penonton. Tetapi kini, negara penonton itu malah menyalip Indonesia. Bahkan, Tiongkok yang dulu juga menjadi negara penonton bisa membangun jalan tol lebih dari seribu kilometer, Indonesia sampai saat ini masih kurang dari 800 kilometer,” urai Jokowi.

Lanjut Jokowi, pihaknya menargetkan pembangunan jalan tol di seluruh wilayah di Indonesia dengan cara terus dikebut. Selain untuk pemerataan pembangunan juga untuk menata dan memperbaiki serta terwujudnya pemerataan pertumbuhan ekonomi, yang diharapkan bisa merata seperti di daerah-daerah lain.

Jangan Ribut Terus Soal Tol, Sementara Tolnya Tidak Tambah Panjang

Presiden Jokowi “Tahun 1973, Indonesia telah membangun Tol Jagorawi, negara-negara lain hanya sebagai penonton. Tetapi kini, negara penonton itu malah menyalip Indonesia” (Foto: Tudji)

Menurutnya, Indonesia sampai saat ini masih tertinggal untuk pembangunan jalan tol. Untuk itu pihaknya meminta guna mewujudkan pemerataan pembangunan jalan tol tidak hanya bergantung pada pemerintah, peran swasta juga diminta ikut melakukan hal yang sama.

“Semua yang kita lakukan ini, pembangunan pelabuhan, airport, pembangkit listrik, terminal dan jalan tol semua untuk perbaikan ekonomi nasional dan ekonomi daerah. Tetapi saya kadang-kadang bingung banyak yang terus meributkan kenapa kita terus membangun jalan tol. Lebih panjang ributnya dari pada jalan tol yang dibangun, ributnya terus terjadi tetapi jalan tolnya tidak tambah-tambah. Ini semua untuk membangkitkan ekonomi daerah dan nasional. Itu yang dapat saya sampaikan, dengan ini saya resmikan penggunaan ruas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto,” ucap Joko Widodo, kemudian didampingi menteri Basuki Hadimuljono, Rini Soemarno, dan Soekarwo memencet tombol sirine dibarengi tersingkapnya tabir pertanda peresmian penggunaan jalan tol Surabaya-Mojokerto.

Tol Sumo Laik Operasi dan Dapat Dioperasikan

“Presiden Jokowi resmikan tiga seksi, Seksi IB Sepanjang-Western Ring Road 4,3 kilometer. Seksi II Western Ring Road-Driyorejo panjangnya 5,1 kilometer dan Seksi III Driyorejo-Krian 6,1 kilometer” (Foto: Tudji)

Untuk diketahui, pengoperasian Jalan Tol Surabaya-Mojokerto di Seksi IB, Seksi II, dan Seksi III itu menyusul surat keputusan laik jalan yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Nomor AJ.409/1/9/DRJD/2017 tanggal 1 November 2017. Serta Berita Acara Evaluasi Laik Fungsi Nomor BA.202.2/BPJT/JL.03.04/2017 tanggal 27 Oktober 2017. Dengan itu dinyatakan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi IB, Seksi II, dan Seksi III (Sepanjang-Krian) dinyatakan laik operasi dan dapat dioperasikan sebagai jalan tol.

Peresmian ketiga seksi itu menyusul dua seksi ruas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto yang lebih dulu telah dioperasikan, yaitu Seksi IA sepanjang 2,3 kilometer yakni Waru-Sepanjang yang diresmikan September 2011. Serta Seksi IV sepanjang 18,47 kilometer yang menghubungkan Krian-Mojokerto, dan diresmikan Maret 2016, lalu. Dengan diresmikannya pengoperasian ketiga seksi tersebut, maka Jalan Tol Surabaya-Mojokerto dengan total sepanjang 36,27 kilometer telah beroperasi sepenuhnya.

Baca Juga: Pakde Karwo Optimis Ekonomi Jatim di 2018 Tumbuh 5,6 Persen

Jalan tol yang membentang dari Surabaya hingga Kota Mojokerto itu dikelola oleh PT Jasa Marga Surabaya Mojokerto (PT JSM) yang merupakan anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Dengan nilai investasi pembanguna jalan tol yang melewati 4 wilayah kota/kabupaten itu sebesar Rp4.980.587.000.000 dengan kepemilikan mayoritas saham sebesar 55 persen oleh Jasa Marga, 25 persen oleh PT Moeladi, dan 20 Persen oleh PT Wijaya Karya.

Beroperasinya seluruh seksi Jalan Tol Surabaya-Mojokerto menambah jumlah konektivitas penghubung sejumlah proyek Jalan Tol Trans Jawa yang akan membentang dari Merak hingga Banyuwangi. Dengan berfungsinya ruas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto diharapkan dapat memperlancar arus distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan perekonomian Indonesia khususnya di Pulau Jawa.

Soekarwo: Tol Sumo Ungkit Kesejahteraan Masyarakat

Gubernur Jatim Soekarwo menuturkan peresmian ruas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto diharapkan bisa menjadi bagian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Jatim. Alur distribusi barang yang masuk maupun keluar dari Jatim akan menjadi lebih lancar dan tidak mengalami kendala kemacetan.

Soekarwo “Tol Surabaya-Mojokerto ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Jatim”

“Dengan diresmikannya Jalan Tol Surabaya-Mojokerto ini, secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Jatim,” terang Pakde Karwo sapaan Gubernur Jatim Soekarwo yang mendampingi Presiden RI Joko Widodo.

Pakde Karwo menjelaskan, keberadaan ruas Jalan Tol Sumo ditunggu lama oleh masyarakat sejak tahun 1994. Dengan terwujud dan dioperasikannya ruas Jalan Tol Sumo akan memangkas waktu perjalanan dari Surabaya ke Mojokerto, atau sebaliknya, yakni dari dua jam menjadi 40 menit.

“Dengan demikian, maka arus barang, transportasi yang menghubungkan wilayah di sekitarnya akan terbantu,” tambahnya.

Masih kata Pakde Karwo, dengan diresmikan Jalan Tol Sumo akan mendorong peresmian jalan tol lainnya di Jatim. Dikatakan, saat ini ada sejumlah proyek jalan tol di Jatim mulai dari wilayah barat sampai timur, yaitu Kertosono-Mantingan, Mantingan-Ngawi dengan progres sudah 80 persen. Sementara untuk ruas Ngawi-Wilangan progresnya sudah 96 persen, Wilangan-Kertosono sudah 39,44 persen. Kemudian untuk ruas Jalan Tol Kertosono-Mojokerto sudah beroperasi, Gempol- Pasuruan, Surabaya-Probolinggo progresnya 50 persen. Untuk ruas Pandaan- Malang progresnya 36 persen.

Presiden Jokowi menjajal ruas Tol Sumo dengan mobil Merah RI-1 (Foto: Tudji)

“Diharapkan pada akhir tahun 2018 semua pembangunan jalan tol di Jatim akan selesai dan bisa digunakan,” jelasnya.

Data di Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Tol Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) untuk seksi IA dikeluarkan sejak 18 April 2007, setelah dilakukan penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) dengan badan usaha pada April 2006.

Kemudian, seksi IV dari Krian ke Mojokerto sepanjang 18,47 kilometer mulai dibangun pada Juni 2012 dan diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo pada Maret 2016, lalu. Sementara seksi IB mulai dikerjakan pada Mei 2014 dan seksi II dan III dikerjakan sejak November 2015.

Jalur Lintas Selatan (JLS) Harus Terus Digarap, Dana Pinjam ke IDB

“Pemerintah pusat diminta terus garap Jalur Lintas Selatan (JLS) di Jatim. Mulai dari Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan” (Foto: Tudji)

Selain membangun jalan tol sebagai bagian dalam rangka mengungkit dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah pusat juga diharapkan untuk terus menggarap Jalur Lintas Selatan (JLS) di wilayah Jatim. JLS terbentang mulai dari Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan.

Baca Juga: DIPA Jatim Rp119 triliun, Enam Daerah Masih Nyantol

Banyak potensi yang bisa digali dari JLS, selain potensi wisata, juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat di pesisir selatan di Jatim. Sebagai contoh, potensi wilayah selatan adalah kekayaan lautnya yang masih belum tergali dengan maksimal. Salah satunya adalah keberadaan ikan tuna sirip kuning yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi.

“Di Pacitan produksinya sekitar 7 ribu ton per tahun. Jika JLS tergarap dengan baik, bukan tidak mungkin perekonomian wilayah selatan di Jatim akan ikut naik,” harap Pakde Karwo kepada wartawan di sela peresmian.

Selain itu, menurut penelitian, kandungan emas dan pasir besi di wilayah selatan Jatim juga cukup besar. Jika itu digarap dengan serius bisa menjadi lahan pekerjaan baru bagi masyarakat.

Kembali soal JLS, pemerintah melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII (Wilayah Jatim dan Bali), menargetkan tahun 2019 JLS yang sekarang disebut Pantai Selatan (Pansela) dapat tersambung. Perkembangannya saat ini masih kurang sepanjang 295,90 kilometer yang belum tertangani. Untuk setiap kilometer diperkirakan membutuhkan anggaran Rp10 hingga 15 miliar.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII, I Ketut Darmawahana, sebelumnya di acara Komunitas Bersama Kementerian PUPR dengan tema bahasan ‘Dukungan Infrastruktur PUPR Sebagai Penggerak Perekonomian Lokal dan Penunjang Pariwisata’ yang digelar di Surabaya, Jumat (19/11/2016) malam lalu menyebut, melalui Direktorat Jenderal Bina Marga tahun ini pihaknya akan mengajukan pinjaman dana ke IDB (Islamic Development Bank), yang dalam proses pengajuan ke Bappenas.

“Mudah-mudahan tahun ini disetujui dan pada Januari 2017 sudah bisa dicairkan. Kami optimis cair dan bisa segera mengebut pekerjaan Pansela yang tersisa,” katanya.

Dari sepanjang 295,90 kilometer yang belum tertangani, diharapkan akan bisa di danai dari pinjaman lunak IDB untuk membangun sepanjang 130,05 kilometer, dengan biaya Rp1,42 triliun. Itu dikerjakan dalam kurun waktu tiga tahun, dan selanjutnya dari dana pinjaman IDB (lanjutan) akan dipakai untuk membangun sepanjang 21,83 kilometer dengan nilai Rp272,03 miliar. Sedangkan, sisanya sepanjang 136,10 kilometer akan diambilkan dari APBN sejumlah Rp 2,04 triliun. Dana senilai itu belum termasuk untuk penanganan atau pembangunan jembatan.

“Dana pinjaman IDB bisa menutup kebutuhan dana untuk pembangunan jalan Pansela. Sedangkan sisanya direncanakan menggunakan dana APBN,” urai Kepala BBPJN VIII, I Ketut Darmawahana.

“Melalui Dirjen Bina Marga, tahun ini mengajukan pinjaman dana ke Islamic Development Bank (IDB), untuk bangun Tol Pansela di Jatim” (Foto: Tudji)

Keberadaan Jalan Pansela Jatim dengan titik-titik (spot) pariwisata pantai selatan yang sangat indah dan cenderung masih asli diharapkan akan mampu menarik investor, ikut mengambil peran dalam mengembangkan wilayah selatan Jatim. Keberadaan jalan yang strategis itu juga diharapkan dapat memberikan efek ganda (multiplier effect) terhadap kegiatan ekonomi wilayah dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Soekarwo Puji Peran Kodam Brawijaya untuk Pembangunan di Jatim

Disampaikan, tujuan pembangunan jalan Pansela Jatim adalah untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah selatan Provinsi Jatim. Serta untuk mengurangi bahkan menghilangkan kesenjangan dengan wilayah utara. Pembangunan jalan baru itu juga untuk membuka lokasi-lokasi terpencil dan membuka isolasi daerah, selanjutnya akan bisa diikuti oleh pertumbuhan ekonomi lokal serta peningkatan SDM masyarakat setempat.

Untuk diketahui, ruas Jalan Pansela Jawa membentang menyusuri garis tepi Pantai Selatan dari wilayah Provinsi Banten, Jabar, Jateng, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta hingga Jatim.

Sementara, panjang ruas Jalan Pansela di Jatim, yakni membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi sepanjang 676,82 kilometer, melintas di delapan kabupaten. Yakni melalui wilayah Pacitan sepanjang 87,44 kilometer. Trenggalek 81,48 kilometer, Tulungagung 51,18 kilometer, Blitar 64,20 kilometer, Malang 137,33 kilometer, Lumajang 65,60 kilometer, Jember 83,50 kilometer, Banyuwangi 106,10 kilometer.

Dari sepanjang 676,82 kilometer yang sudah tertangani sepanjang 380,92 kilometer. Sementara lahan yang bisa dibebaskan sepanjang 565,59 kilometer, yang belum selesai dibebaskan 111,23 kilometer.

Pembangunan Jalan Pansela dilaksanakan sejak tahun 2002 namun sampai sekarang belum selesai. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan jalan tersebut berupa kondisi topografi yang berat berupa pegunungan yang menyebabkan biaya pelaksanaan tinggi, serta alotnya pembebasan lahan terutama penggunaan tanah milik Perhutani. Persoalan selebihnya adalah karena beberapa ruas jalan yang akan dibuat melalui pegunungan, dengan kelandaian mencapai kurang dari 20 persen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here