Resolusi PBB Permalukan Trump di Mata Dunia

0
297
Papan skor keputusan Majelis Umum PBB yang menyebutkan 129 di antara 193 anggota PBB menyetujui Resolusi yang menentang keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel

Nusantara.news, Washington – Mayoritas anggota PBB tak gentar atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trum yang akan memotong bantuan ke negara-negara pendukung resolusi yang mengecam keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Dalam aksi kolektif melawan Washington tercatat 128 negara mendukung resolusi. Sedangkan yang menentang hanya 9 negara, termasuk AS dan Israel. Sedangkan yang abstain 35 negara dan 21 negara lainnya tidak hadir. Resolusi itu secara tegas mendesak AS membatalkan Deklarasi 6 Desember 2017 di Yerusalem yang masih dinyatakan status quo oleh PBB.

Resolusi itu memang bukan keputusan mengikat. Namun menunjukkan kemarahan mayoritas dunia kepada Trump yang dianggap melanggar Konsensus Internasional selama 50 tahun tentang Yerusalem dan potensial terjadinya isolasi diplomatik terhadap AS di banyak negara.

Apalagi sekutu utama AS seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang ikut mendukung resolusi. Sedangkan sekutu lainnya seperti Australia dan Kanada abstain. Keputusan Trump itu sangat dikhawatirkan oleh banyak negara akan menutup dialog perdamaian Israel-Palestina dan akan lebih memperburuk situasi sejak meletusnya Perang Arab Israel 1967.

Banyak resolusi Dewan Keamanan PBB sejak itu yang memiliki kekuatan hukum Internasional menyebutkan status Yerusalem tidak terselesaikan, bahwa klaim kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak sah dan harus diselesaikan lewat perundingan antara Israel dan Palestina.

Gertak Sambal

Namun Israel secara jumawa menyebut resolusi itu seperti resolusi 1975 yang menyamakan Zionisme dengan rasisme, dan akhirnya resolusi itu dicabut 16 tahun kemudian karena tekanan AS yang mengancam akan memotong bantuannya ke PBB.

“Sungguh memalukan pertemuan itu bisa berlangsung,” ulas utusan Israel untuk PBB Danny Danon. Sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari Israel lewat sebuah postingan di Facebook menyebut :”Israel benar-benar menolak resolusi yang tidak masuk akal ini. Yerusalem adalah ibu kota kita. Akan selalu begitu”.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki R Haley menyebut pemungutan suara itu tidak sah dan tidak berlaku lagi dan tidak aka nada suara PBB yang bisa menggagalkan rencana AS untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sebab itu merupakan hal benar yang mesti dilakukan oleh negaranya.

Dengan nada ancaman, Haley pun menyebut, peristiwa itu akan “kami ingat saat kami dipanggil sekali lagi untuk memberikan kontribusi terbesar kepada PBB”. “Dan kita akan ingat ketika begitu banyak negara memanggl kita, seperti yang sering mereka lakukan, untuk membayar lebih dan menggunakan pengaruh kita untuk keuntungan mereka”.

Ada juga yang menyebut resolusi yang hanya disetujui oleh 128 negara itu sebagai kemenangan AS karena ada 35 suara abstain dan 21 negara lainnya tidak hadir, dan itu dianggap mewakili jumlah signifikan di antara 193 negara.

“Sudah jelas banyak negara yang masih memprioritaskan hubungan mereka dengan AS, karena usaha yang tidak produktif untuk mengisolasi kita karena ini sebuah keputusan yang menjadi hak kedaulatan kita,”ujar sebuah rilis dari Gedung Putih yang dikirimkan ke email wartawan.

Pertanyaannya, setelah munculnya Resolusi apakah AS benar-benar akan mewujudkan ancamannya memotong bantuan ke sejumlah negara yang tidak satu sikap dengan negaranya?

Sejumlah ahli meragukan ancaman itu akan segera dilaksanakan, terutama ke sejumlah negara seperti Mesir dan Yordania yang selama ini menjadi mitra strategisnya di Timur Tengah.

Sejumlah pakar politik luar negeri justru menilai ancaman Trump akan tumpul karena ketergantungan AS sendiri kepada negara-negara seperti Mesir dan Yordania. Israel, kata para analis, akan menjadi negara pertama yang menentang pemotongan bantuan ke Mesir, karena khawatir akan ketidakstabilan yang akan dihasilkan dari keputusan itu

Kegagalan Diplomatik

Namun justru organisasi Yahudi Amerika yang sangat mendukung Israel justru melihat hal yang tidak positif dari resolusi itu. “Kami kecewa atas dukungan luar biasa dari negara-negara anggota PBB untuk resolusi Majelis Umum yang mengecam pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel,”ujar Chief Executive American Jewish Committee David Haris kepada wartawan.

Sedangkan sekutu utama AS sejak Perang Dunia II seperti Perancis dan Inggris justru menempatkan posisi mereka, dan hanya dengan cara menegaskan kembali Resolusi Dewan Keamanan PBB sejak 1967 yang masih berlaku  maka AS akan terhindar dari isolasi dunia.

“Ini lebih penting daripada sebelumnya untuk menggerakkan masyarakat internasional kembali kepada parameter proses perdamaian yang telah disepakati. Dan ini tentu saja menyangkut AS yang setiap orang tahu peran dan pengaruhnya terhadap masalah ini,”ungkap Duta Besar Perancis untuk PBB François Delattre.

Munculnya Resolusi itu, dalam kacamata diplomatik adalah sebagai kemunduran bagi seorang Presiden yang masih mencari prestasi setelah hampir satu tahun bekerja. Hal itu sering kali tampak seringnya terjadinya ketengan antara Trump dan PBB yang pernah diejeknya sebagai klub sosial.

“Saya pikir ada luka yang ditimbulkan dari cara-cara diplomasi yang kaku dan tidak perlu dari pemerintah AS sendiri,” ulas Stewart M Patrick yang merupakan pakar senior di Dewan Hubungan Luar Negeri.

“Dalam kasus ini saya melihat, Trump berusaha mengubah fatsun yang sudah diterima di dunia Internasional. Dengan demikian saya melihat, Presiden Trump sesungguhnya telah mempermalukan diri sendiri dengan mengatakan ini jalan saya,” terang Patrick.

Karena memang, Perangai Trump yang suka membully orang atau lembaga yang tidak disukainya akan menjadi bumerang bagi bangsa Amerika. Selain mempermalukan diri sendiri tindakan Trump itu juga merendahkan bangsa Amerika yang dalam sejarah pernah memilih orang seperti dia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here