Restrukturisasi Krisis Ekonomi, Soekarwo Tekankan Perkuat Sektor UMKM

0
52

Nusantara.news, Surabaya – Sektor Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulung punggung perekonomian Jawa Timur dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Tak hanya berkontribusi besar bagi PDRB, namun UMKM mampu tumbuh baik, meski mulai tergerus ekonomi global yang kini sedang lesu.

Gubernur Jawa Timur  Soekarwo berharap siapapun Gubernurnya nanti bisa membentuk usaha mikro semakin solid lagi. Menurutnya, turbelensi ekonomi yang terjadi saat ini sebagai dampak dari gagalnya liberalisasi ekonomi dunia. Memang, liberalisasi ekonomi jago dalam efisiensi, tapi gagal menciptakan keadilan, sehingga yang kecil semakin tergeser bahkan tidak memiliki tempat dalam percaturan ekonomi dunia.

“Efisiensi menjadi musuh utama keadilan. Dengan efisiensi ini mengemuka, maka disparitas semakin menonjol . Konsep efisiensi yang luar biasa ini akhirnya menjatuhkan UMKM. Nah, jika sektor industri tumbang, maka, yang terjadi adalah maraknya jumlah pengangguran,” jelas Soekarwo, Senin (19/6/2017) di kantor KADIN Jatim.

Karwo mengambil contoh negara Spanyol yang jumlah penganggurannya mencapai 18% dari total jumlah angkatan kerja yang ada. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Amerika yang jumlah penganggurannya mencapai 8,7%, begitu juga dengan di Perancis.

Lanjutnya, apa yang harus dipikirkan saat ini? Menurutnya restrukturisasi moneter harus dilakukan secepatnya. Ada tiga hal yang perlu dilakukan, yaitu dengan menurunkan suku bungan hingga satu digit dan keberpihakan kepada usaha kelompok kecil atau UMKM. Nah, jika hal tersebut dilakukan maka dampaknya adalah pendapatan yang kecil akan naik.

“Efisiensi industri sangat bagus sekali, tetapi pasar akan semakin kecil karena mikro kita pada posisi yang jatuh. Liberalisasi memang jago diefisiensi. Tetapi konsep itu tidak jago dalam keadilan. Untuk itu Soekarwo juga berpesan agar calon gubernur nantinya harus memperkuat bank mikro,” urainya.

Karwo juga sangat menyadari,  tantangan dewasa ini tidaklah ringan, globalisasi ekonomi dunia telah menuntut semua negara dan bangsa-bangsa di dunia untuk bersaing secara ketat dan terbuka. ”Dalam rangka merebut pangsa pasar dunia, kita tidak memiliki alternatif selain meningkatkan daya saing, meningkatkan keunggulan kompetitif dan komparatif semua produk barang dan jasa dalam negeri, utamanya UMKM,” cetusnya.

Dalam rangka rekstrukturisasi pembangunan nasional, mestinya pemerintah mulai menguati sektor UMKM, terutama dalam membangun perekonomian. Sektor itu telah memberikan pelajaran hebat bagi bangsa ini dalam mengarungi situasi ekonomi yang tak menentu.

“seperti diketahui, pada tahun 1998 Indonesia pernah mengalami yang namanya krisis ekonomi. UMKM terbukti mampu menjadi penyangga ekonomi dan tahan terhadap resesi. Dan seiring berjalannya waktu, sektor koperasi dan UMKM tumbuh subur dan menjadi kekuatan ekonomi bangsa,” katanya.

Di Jatim, koperasi dan UMKM tumbuh dengan pesat. Pada 2008, terdapat 4,2 juta UMKM di Jatim. Pada 2015, jumlah UMKM tumbuh menjadi 6,8 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang tinggi, yakni 54,98% dari total PDRB Jatim Rp 1.689,88 triliun, dan menyerap 11,12 juta tenaga kerja atau 92% dari seluruh tenaga kerja di Jatim.

Namun, meski tumbuh pesat dan mampu bertahan di situasi ekonomi yang lesu, sektor UMKM masih mengalami kesulitan untuk mengakses modal di perbankan. Selain itu, suku bunga yang dikenakan kepada sektor ini juga sangat besar dan tidak adil.

“Perbankan hanya memberikan bunga kredit sebesar 14% setahun kepada perusahaan besar (corporate), namun jika rakyat kecil seperti petani dan UMKM yang meminjam modal justru dibebankan bunga sangat besar, yakni 20% setahun. Alasannya karena risiko (high risk),” pungkasnya.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here