Reuni IMF-Bank Dunia, Menghidupkan Memori Dukun Cabul

2
2290
Managing Director IMF Christine Madeleine Odette Lagarde sedang berbisik dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Adakah Indonesia akan masuk perangkap utang IMF lagi ke depan?

Nusantara.news, Jakarta – Trauma rakyat Indonesia terhadap Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund—IMF) masih menganga. Nasihat IMF justru kemudian membuat krisis Indonesia paling dalam dan paling lama.

Pada 12-14 Oktober 2018 nanti Pemerintah Jokowi menyanggupi sebagai tuan rumah Annual Meeting IMF-World Bank (Bank Dunia) yang akan digelar di Bali. Hajatan besar yang akan dihadiri sedikitnya 15.000 para pengambil keputusan di dunia dari 189 negara, konon yang berminat hadir bisa bertambah menjadi 18.000.

Tentu saja perhelatan itu akan membawa multipler effect terhadap perekonomian yang cukup besar. Seperti hunian hotel diperkirakan akan penuh dengan nilai jual mencapai US$100 juta (ekuivalen Rp1,4 triliun). Belum lagi kuliner di hotel dan di sekitar Nusa Dua, Gianyar, Kuta, Legian, Jimbaran, Seminyak, Ubud, Kintamani, Bedugul, Gilimanuk dan tempat kuliner pavorit lainnya.

Dampak lanjutan lainnya, adalah oleh-oleh asal Bali akan diburu para peserta di jeda waktu rehat mereka. Sehingga tempat-tempat pavorit adalah produk handycraft dan produk seni lainnya.

Tentu tidak ketinggalan transportasi lokal di Bali akan lebih sibuk dan kalau boleh dikatakan akan macet total. Itulah dampak nyata kemeriahan di Annual Meeting IMF-WB. Termasuk transportasi udara internasional akan melonjak drastis.

Bahkan Menko Perekonomian Luhut Binsar Panjaitan menyebut 50% dari total biaya sekitar Rp868 miliar (bisa saja membengkak), akan kembali berupa setoran devisa dari industri pariwisata. Secara umum, pertemuan itu diyakini akan menggairahkan ekonomi domestik. Sampai di sini tentu saja menarik.

Dukun cabul

Pertanyaannya, siapa yang paling banyak menerima benefit dari pertemuan tahunan IMF-WB itu? Tentu saja IMF dan Bank Dunia. Betapa tidak, kedua lembaga keuangan internasional ini akan memperoleh benefit yang luas berupa tambahan utang dari negara anggota, tanpa kecuali mungkin saja indonesia akan membuka line utang baru.

Kemungkinan besar, negara-negara anggota yang loyal, seperti Indonesia, akan menjadi target market pelepasan utang. Bunga dan pokok utang itu kemudian akan menjadi penerimaan utama lembaga keuangan internasional tersebut.

Tapi yang sulit dipungkiri, pertemuan IMF membuka luka lama bagi bangsa Indonesia. Banyak kalangan kembali mengingat kejadian saat lembaga pendanaan internasional itu datang menawarkan berbagai ‘obat’ ketika krisis ekonomi 1998.

Ekonom senior pada 1998, Anwar Nasution, menganalogikan IMF dengan ‘dukun cabul’, mengapa? Karena dimana IMF masu ke suatu negara untuk mengobati, selalu menggunakan resep yang sama, yakni tight money policy, kebijakan uang ketat.

“Coba Anda perhatikan, kalau dukun mengobati pasien yang TBC, pilek, demam, sakit kepala, bahkan kutilan, semua obatnya sama. Kan disembur pake air. Jadi IMF itu mirip-mirip ‘dukun cabul’,” demikian kenang Anwar.

Hasilnya bagaimana? Kita tahu Indonesia merupakan salah satu pasien IMF yang terlama mengalami krisis. Itu sebabnya, biaya untuk mengatasi krisis itu paling besar. Indonesia harus menerbitkan obligasi korporasi untuk menyehatkan perbankan mencapai Rp650 triliun. Bunga dan pokok obligasi itu harus dicicil lewat APBN hingga 2032 dengan beban setiap tahun rerata Rp60 triliun.

Saat itu, IMF datang menawarkan dana cadangan dari para anggotanya ke negara-negara yang mengalami kesulitan dalam neraca pembayarannya. Namun IMF justru melakukan tiga kesalahan fatal yang mengakibatkan trauma bagi rakyat Indonesia.

Tiga hal yang dimaksudkan, pertama, IMF menutup 16 bank pada November 1997 tanpa memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran, termasuk simpanan masyarakat (blanket guarantee). Hal itu cikal bakal nilai tukar rupiah ambruk dari Rp2.300 menjadi Rp17.000 pada 1998.

Harusnya blanket guarantee dulu diberikan baru bank-bank ditutup, tapi karena bank-bank itu ditutup terlebih dulu, sehingga menimbulkan rush karena para nasabah tidak percaya. Itu lah awal jatuhnya nilai tukar rupiah.

Kedua, IMF memaksa pencabutan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam kondisi rupiah yang semakin tersperosok. Sementara Indonesia masih memerlukan subsidi BBM untuk mendorong perekonomian dan sektor tertentu. Hal ini menambah rumit beban krisis yang ada.

Ketiga, Indonesia diberikan dosis yang sangat kecil alias mendapat suntikan utang sebesar USD1 miliar per bulan dalam jangka waktu 15 bulan. Jumlah tersebut tidak cukup bagi Indonesia yang utangnya saat itu mencapai USD130 miliar.

Pencabutan subsidi BBM itu maksudnya baik tapi kalau waktunya tidak tepat justru kontraproduktif. Jadi ibarat dokter memberikan obat tapi dosisnya kurang, akibatnya tidak cukup.

Sepanjang sejarah, IMF cukup sering melakukan kesalahan mulai 1985, 2004, 2013, hingga 2016. Bahkan Lembaga keuangan internasional itu telah mengkui kesalahannya dengan menerapkan resep serupa di tiap negara yang memiliki kondisi berbeda.

Sangat jelas kalau apa yang bisa diharapkan dari sebuah lembaga yang terus-menerus mengakui kegagalannya tanpa ada konsekuensi. Artinya, IMF bisa melakukan apapun tapi masyarakat yang menanggung kegagalan resepnya. Dukun cabul itu nyaris tanpa sanksi apapun dari setiap kesalahan resepnya.

Reuni kegagalan

Ekonom senior Rizal Ramli berpendapat dana Annual Meeting IMF-WB terlalu besar dan jumlah yang besar itu dibebankan kepada rakyat Indonesia. Apalagi dana itu dikeluarkan pada saat di-back mind rakyat Indonesia masih sangat kuat bahwa lembaga keuangan internasional itu pernah menghancurkan ekonomi Indonesia.

“Ini jelas tragedi, a Greek tragedy, sungguh tragedi Yunani (bisa terulang di Indonesia),” kicau Rizal.

Jumlah uang yang sedemikian fantastis itu menjadi tragedi ditengah utang terus bertambah dan masyarakat semakin resah karena harus menanggung akrobat utang yang jor-joran. Menteri Keuangaan Sri Mulyani melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, telah melakukan lelang Professional Congress Organizer Pertemuan Tahunan IMF-WB itu. Mirisnya, Sri Mulyani mengatakan anggaran sebesar Rp868 miliar itu bukan jumlah yang besar.

“Sekali lagi, ini tragedi yang seharusnya mendapat perhatian Presiden Jokowi agar dikoreksi, ditinjau kembali,” demikian Rizal.

Menurut Rizal, di tengah lesunya ekonomi, menteri-menteri yang menjadi komprador IMF malah melakukan austerity (penghematan yang salah), yakni dengan memotong anggaran dan subsidi. Tak hanya itu, juga mengejar-ngejar pajak rakyat.

“Cara ini gagal di negara-negara Amerika Latin dan Yunani. Apes kita kalau harus jadi pasien IMF lagi,” tegas Rizal.

Dalam berbagai kesempatan dan tulisan, bahkan sejak tahun 1997, Rizal kerap mengingatkan pemerintah agar jangan ikut saran IMF. Sebab IMF menurut mantan kepala Bulog itu bukan Dewa Penyelamat namun lebih tepat disebut Dewa Amputasi yang sangat mahal biayanya dan ditanggung rakyat Indonesia.

Pertanyaannya, apakah kita akan kembali menjadi pasien IMF-WB? Sebenarnya itu tidak penting, yang terpenting adalah, kita jangan jadi pasien dari ‘dukun cabul’ yang memiskinkan rakyat.[]

2 KOMENTAR

  1. Sejarah tdk pernah mencatat keberhasilan suatu negara karena berpijak di kaki negara lain, pasti menjadi boneka negara lain tersebut. Maju berarti berdiri di kaki sendiri.

    Kalau birokrat masih tdk tahu juga prinsip ini dalam membangun negara, maka rakyat mau omong apa lagi. Daripada diamputasi oleh negara lain, saya sarankan kita amputasi sendiri saja penyakit yg ada pada diri kita.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here