Revitalisasi BUMN Gula Demi Swasembada

0
54

Nusantara.news, Surabaya – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memastikan akan melakukan impor gula lebih dari 1 juta ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Indonesia harus mengimpor gula konsumsi. Bagaimana dengan nasib para petani tebu yang selama ini sudah berjuang untuk mencapai swasembada gula?

Pakar ekonomi dari Universitas Wijaya Kusuma Prof. Dr. Ir. Setyo Budi, MS menyatakan bahwa kebijakan pemerintah melakukan impor gula dinilai sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada para petani yang selama ini sudah berjuang untuk mencapai swasembada gula.

Menurutnya, industri berbasis tebu sangat strategis sekali. Bagaimana langkah pemerintah dalam meningkatkan produksi gula saat ini dan kalau bisa mencapai minimal 6 juta ton pertahunnya untuk menutupi kebutuhan gula nasional.

Seperti diketahui bahwa kebutuhan konsumsi gula di Indonesia tahun ini mencapai 3,5 juta ton. Sementara kapasitas produksi gula dalam negeri diperkirakan hanya 2,2 juta ton. Untuk kebutuhan industri berupa gula rafinasi, pemerintah akan mengimpor sebanyak 3,5- 4 juta ton.

“Jika pemerintah pandai, tentu produksi tebu para petani ditingkatkan lagi, terutama dengan fasilitas harga pupuk yang murah dan mempermudah dari segi permodalan yang selama ini menjadi kendala serius para petani tebu di Indonesia,” jelasnya kepada Nusantara.news, Senin (22/5/2017).

Ditambahkan, Jawa Timur yang mempunyai lahan tanam seluas 600.000 ribu hektar diharapkan menjadi provinsi percontohan untuk menghasilkan produksi gula lebih besar lagi. Dengan asumsi produksi setiap hektarnya bisa 10 ton maka jumlah produksi gula nasional bisa mencapai 6 juta ton.

Sementara itu Ketua Dewan Pembina Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil meminta pemerintah menghitung ulang kebutuhan impor tersebut. Menurutnya, serbuan gula impor akan membuat para petani lebih sengsara lagi. Dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah hendaknya bisa berpihak pada nasib petani.

“Karena kalau kita diserbu gula impor, bagaimana nasib petani, kami akan tertekan. Misalnya pupuk jangan dibatasi, lha wong pupuk ini kan digunakan petani, bukan digunakan siapa-siapa. Kemudian lahan irigasi milik petani juga diperbaiki,” katanya.

Tak hanya itu saja, dari akses permodalan seharusnya petani juga diberi kemudahaan agar bisa mengembangkan sektor pertanian sekaligus meningkatkan produksi gula. Yang tak kalah pentingnya adalah para petani dipermudah dalam akses mendapatkan varietas unggulan tebu dari pemerintah. “Coba kita lihat tebu milik petani kita, seperti kekurangan nutrisi,” tuturnya.

Di sisi lain, pengamat ekonomi Lutfil Hakim menilai bahwa sudah sepatutnya pemerintah melakukan revitalisasi BUMN gula. Menurutnya,  melakukan perbaikan secara terus menerus atau disebut continuous improvement harus terus dilakukan untuk mencapai sukses, terutama bagi perusahan.

“Bukan hanya alat produksi saja yang harus disegarkan, tapi sistem managemen dan manpower juga harus diperbaruhi. Tiga komponen itu harus berjalan simultan, semua harus bergerak dinamis mengikuti positif menuju pemerintahan dan target yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Lutfil juga mengungkapkan bahwa dalam meriah sukses perusahaan, jawabannya akan sama, yakni bagaimana menyamakan persepsi di semua komponen untuk melakukan perbaikan secara terus menerus.

“Jadi kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah hendaknya juga memikirkan bagaimana nasib para petani. Jangan sampai kita berkoar-koar soal swasembada gula namun tidak sesuai dengan apa yang dilakukan di tingkat kebijakan. Jadi harus saling menyamakan persepsi,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here