Revolusi Dunia yang Inspiratif (4)

Revolusi Iran Ideologi Berdasarkan Agama yang Militan

0
349

Nusantara.news – Spirit model revolusi Iran yang kita ambil adalah spirit militansi ideologis berdasarkan agama. Radikalisme dengan menetapkan musuh bersama (Amerika Serikat dan Yahudi) ditanamkan sejak awal revolusi (1979) dalam kurikulum sekolah, masjid-masjid, dan Ormas Syiah di Iran. Militansi yang terbentuk merupakan model inspirasi yang juga mengakar dalam budaya ‘Kapitayan’ (budaya asli Indonesia): ngalah, ngalih dan ngamuk.

Hancurnya kerajaan di Jawa karena tidak aspiratif lagi dengan aspirasi masyarakat yang berubah alam pikirannya dengan konsep kemasyarakatan, bukan lagi kawula gusti. Menarik untuk digali keberhasilan Ayatollah Khomeini dengan Syiah-nya yang kita sadari adalah faham Islam yang berkembang awalnya disponsori oleh Yahudi, dimana tokoh pencetusnya justru dibunuh oleh Ali Bin Abi Thalib sendiri karena mengagungkan beliau seolah sejajar dengan Nabi Muhammad SAW.

Konsep 12 Imam

Dengan konsep 12 Imam dimana puncaknya adalah kehadiran Imam Mahdi kelak yang diyakini sebagai puncak kejayaan Islam di akhir zaman, Revolusi Syiah diekspor ke kawasan Timur Tengah dan negara-negara Islam. Hal ini digunakan Yahudi untuk mengadu domba Sunni-Syiah dan sebagai cara dalam konteks Proxy War untuk mengambil migas di Timur Tengah (kerangka Proxy War).

Revolusi Iran patut dijadikan model untuk digali, selain keterlibatan Yahudi di belakang lahirnya Syiah, juga yang menjadi pertanyaan, kenapa sampai saat ini secara fisik Iran belum diganggu pasca-kematian Ayatollah Khomeini? Apakah perseteruan dengan Arab Saudi (Wahabi) merupakan akhir kejayaan Yahudi? Pertanyaannya, apakah Yahudi cukup dengan Wahabi dalam melawan Sunni?

Kita memahami bahwa Yahudi sibuk dengan menghancurkan negara Islam Sunni seperti: Yaman, Irak, Libia dan juga Suriah (yang seimbang antara Sunni dan Syiah). Namun, faktanya kekuatan Sunni terbesar saat ini adalah Turki. Seperti kita ketahui Turki Utsmani adalah kerajaan Islam yang paling lama berkuasa di Jazirah Arab. Keseimbangan yang bersifat illahiyah, seberapa gencar dan nafsunya Yahudi menghancurkan Islam, maka sebegitu banyak pemimpin Islam lahir.

Secara geo-politik Iran luput dari perhatian karena masalah nuklir yang menjadi penghambat, ketika Barrack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), Iran sudah lolos dari sanksi internasional PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Hal ini yang membuat Presiden AS Donald Trump jengkel dan ingin meninjau ulang kebijakan AS (Obama) mengenai nuklir Iran. Kejengkelan Trump adalah atas hasutan Israel, sehingga di Timur Tengah setelah ISIS (Islamic State in Iraq and Syiria = Negara Islam Irak dan Suriah) sangat berpotensi menimbulkan kegaduhan mengenai Iran.

Iran sebagai keseimbangan Islam Sunni adalah skema Israel dalam mengadu-domba Islam, agar tidak pernah damai dan bersatu. Semua karena migas yang sangat kaya di bumi Timur Tengah, karena skema Yahudi fokus pada energy security (ketahanan energi). Rata-rata konflik di Timur Tengah adalah persoalan energi berbasis adu domba dalam hal agama dan fitnah terorisme.

Israel bersama AS dan Inggris akan menjadikan isu nuklir Iran sebagai isu strategis baru di Timur Tengah. Hal ini karena kekhawatiran Israel bahwa rudal jelajah Iran bisa mencapai dan menembus wilayah Israel. Secara geo-strategi adalah ancaman bagi Israel. Soliditas dan militansi rakyat Iran menjadi suatu bahaya, oleh karena itu dengan segala cara Trump (yang didukung kubu Yahudi konservatif) akan mempunyai skema penghancuran Iran. Namun, diyakini setelah persoalan ISIS selesai, karena secara pertahanan Irak dan Suriah sudah hancur, dan migasnya juga sudah dikendalikan, berbagi antara AS dan Rusia.

Skenario AS dan Yahudi

Pertanyaannya, apakah skenarionya akan diserang langsung karena dibuktikan atau difitnah bahwa Iran menipu PBB, bahwa ternyata senjata nuklir nyata adanya. Banyak sekali modus bagi AS untuk menjustifikasi kebijakan dan tindakan militer sekalipun untuk mencapai tujuannya. Secara logika, Cina dan Rusia pasti melakukan veto jika dilakukan dengan skema PBB. Skema lain tentu dengan mengadu-domba dengan salah satu negara tetangga (dulu dengan Irak) atau disusupkan bahwa Sunni adalah garis keras yang anti Syiah, seolah perlawanan oposisi yang didukung kekuatan militer AS secara tradisional dengan alasan demokrasi, namun potensi ini kecil sekali di Iran.

Soliditas dan militansi Iran memang sudah ditembus secara ideologi dan dogma-dogma Barat tentang demokrasi. Namun AS selalu punya cara untuk menghancurkan Islam, apalagi Trump adalah Presiden yang menentang Islam, sehingga sempat melarang imigran dan kunjungan dari 7 negara Islam termasuk Iran. Hal ini memperoleh tentangan dan protes sehingga ditunda oleh Pengadilan AS.

Apapun, karena Israel aktif mendesak Trump, pada gilirannya penyerangan ke Iran merupakan suatu keniscayaan. Kekuatan Islam tetap dibagi tiga, yaitu Wahabi (Arab Saudi) partner bagi Israel, Sunni (Turki), dan Syiah (Iran). Kekuatan Syiah di Suriah sangat kuat sehingga dihancurkan, karena anti Yahudi dan merupakan kepentingan Barat.

Dari tiga kekuatan Islam tersebut di atas, Arab Saudi dianggap bukan lagi partner strategis karena migas di Timur Tengah tidak lagi menjadi prioritas bagi AS, karena stok sudah dikuasai, dan sudah memiliki energi alternatif dengan menemukan Shale Gas.

Turki, dianggap bukan ancaman saat ini, walaupun sudah pernah ada kudeta yang disinyalir ada AS dan Israel di belakang pimpinan kudeta.

Iran, ketika AS sibuk dengan ISIS (yang konon juga rekayasa Israel dan Yahudi Konspirasi) diskenariokan untuk menghancurkan Irak (pasca Saddam Hussein), dan Suriah (Syiah garis keras). Hal ini menjelang selesai karena Rusia cukup dominan.

Kepentingan AS dan Israel di tahun berikutnya adalah Iran, karena secara terbuka dan secara kenegaraan adalah anti Barat dan Yahudi.

Bagaimana Indonesia mengambil inspirasi dalam hal revolusi Iran

Revolusi Iran adalah hal khusus karena berdasarkan agama Islam (Syiah). Militansi yang berdasarkan agama, karena bagi Islam memperjuangkan agama dan tanah air adalah ‘jihad fisabilillah. Militansi berdasarkan agama sangat sulit jika dibenturkan dengan ideologi dan pemahaman pemikiran demokrasi.

Bagi AS dan Israel, untuk menghancurkan Iran sangat sedikit opsi yang bisa dilakukan. Satu alasan terkuat adalah dengan menemukan bukti baru dan fitnah tentang nuklir Iran. Dengan alasan tersebut Iran Syiah dapat diperangi secara militer, negara lain yang dapat diajak mungkin hanya Inggris. Namun “saudara tua” sedang sangat sibuk mengurus Brexit. Secara teknis untuk keluar dari Uni Eropa ternyata juga tidak mudah. Jika melalui PBB pasti Cina dan Rusia akan menggunakan hak vetonya.

Indonesia harus menyadari bahwa sebagai negara berpenduduk Islam terbesar, pasti menjadi agenda berikutnya, ketika rezim berkuasa dianggap anti Barat dan Yahudi. Rezim Joko Widodo dianggap pro Cina yang juga seteru AS dan Yahudi untuk perdagangan internasional. Jadi bandulan Proxy War (AS vs Cina) harus bisa dikelola. Jangan seperti era Soekarno yang terjebak dengan komunisme (Uni Sovyet dan Cina) di saat itu.

Indonesia perlu diingatkan mengenai potensi ancaman proxy war, kaitannya dengan keberadaan SDA Indonesia yang kaya akan energi dan pangan sehingga menjadi fokus dunia dalam proxy war.

Inspirasi yang perlu digali adalah spirit militansi revolusi Iran yang solid, persatuan dan kesatuan yang ideologis dengan fanatisme Syiah. Indonesia punya akar militansi yang sampai saat ini masih berbekas seperti ‘Resolusi Jihad’ (pertahanan semesta TNI-Ulama dan rakyat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan). Begitu juga Bonek (Bondo nekat/modal nekat) sebagai suporter Surabaya yang mampu berjalan ribuan kilometer berhari-hari tanpa uang dan pulang membawa uang. Hal ini negatif, tapi menjadi gambaran untuk kita bahwa ‘Bonek’ jika diarahkan untuk tujuan bela negara akan menghasilkan kekuatan ‘pertahanan semesta’ jika Indonesia dalam ancaman fisik. Dalam konteks strategi revolusi budaya, bisa dijadikan modal sosial membentuk pasukan revolusi.

Kehadiran Wakil Presiden AS Mike Pence, walaupun dengan alasan Freeport dan radikalisme Islam (teroris), pasti kunjungannya merupakan peringat pada Indonesia. Ketegangan di Asia Selatan mengenai Korea Utara dan sikap Trump yang menganggap Cina sebagai musuh di perang dingin. Trump bertekad mengalahkan Cina, merupakan ancaman bagi pemerintahan Joko Widodo, agar jangan “main api” dengan Cina, dan jangan remehkan Paman Sam. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here