Revolusi Dunia yang Inspiratif (3)

Revolusi Kawasan Amerika Latin dengan Isu Food dan Energy Security

0
128

Nusantara.news – Revolusi di kawasan Amerika Latin terjadi pada dekade 1990–2000 an. Rasa tidak senang terhadap perlakuan politik Amerika Serikat (AS) menimbulkan ketidakadilan yang memunculkan semangat anti AS di kawasan Amerika Latin (AL). Salah satu penyebabnya adalah kesewenangan AS sebagai ‘polisi dunia’ yang mengabaikan kedaulatan suatu negara dengan menculik dan mengadili presiden Panama Manuel Antonio Noriega (si Muka Nanas) dengan alasan kejahatan mafia narkoba. AS mengambil Noriega seperti penjahat jalanan tanpa prosedur diplomatik, namun dunia bungkam saat itu.

Sentimen anti AS yang sudah dimulai era Kuba (Che Guevara dan Fidel Castro) yang tidak bisa ditumbangkan AS—seperti halnya Korea Utara dan Cina di Asia dan Rusia di Eropa—sehingga paham Sosialis hidup di kawasan Amerika Latin.

Revolusi Pangan

Konsep revolusi Kawasan Amerika Latin adalah kedaulatan negara terhadap pangan dan SDA, dimulai dari World Food Summit (tahun 1996 di Roma) dengan berdirinya La Via Campesina (organisasi perjuangan petani internasional) dimana Wakil Indonesia, Henri Saragih sebagai Ketua SPI (Serikat Petani Indonesia) sempat menjadi presiden petani tingkat dunia tersebut.

Konsep kedaulatan pangan (food security) yang menjadi fokus kekuatan Barat selain energi, adalah pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Kedaulatan pangan (KP) adalah pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas baik sesuai cara budaya lokal, bukan dengan industrialisasi melalui teknologi yang selama ini membuat ketergantungan pada Barat.

Revolusi ini dikenal dengan istilah kembali ke alam dengan produk organik yang tidak merusak struktur tanah dan kodrat alamiah, artinya dengan prinsip gotong-royong dan solidaritas menjadi acuan utama, bukan pertanian dengan konsep agro-industri yang tidak peduli dengan kehancuran lingkungan. Perjuangan ini menjadi masif setelah pelaksanaan World Food Summit pada Juni 2002 dengan dibentuknya Planning Comitte for Food Sovereignity (IPC) yang menjadi partner kritis FAO yang berbasis agro-industri (unorganik). IPC menentang sistem perdagangan WTO yang dikuatkan dengan pertemuan tahun 2007 di Mali (Afrika Barat).

Ketika terjadi krisis pangan tahun 2008, mengakibatkan reformasi di tubuh organ PBB untuk pangan (Komite Ketahanan Pangan PBB – CFS). Maka atas desakan pertemuan dunia bidang ketahanan pangan pada Oktober 2009, secara resmi PBB memberi ruang pada kedaulatan petani untuk terlibat dalam menghapus kelaparan dunia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tokoh utama dunia dari Amerika Latin, dan kita tahu mazhab sosialis adalah yang mendasari revolusi pangan dunia. Hal ini mendasari kebijakan revolusi negara-negara Amerika Latin terhadap pemaksaan agro-industri oleh AS di kawasan Amerika Latin bahkan khusus Venezuela yang terbesar SDA (Sumber Daya Alam) migasnya—selama ini dikooptasi oleh AS—muncul tokoh revolusioner yang anti-AS yakni Hugo Chavez, diikuti Morales (asli Indian di Bolivia) lalu Argentina, Chili, Brazilia, Mexico dan beberapa negara di kawasan tersebut.

Semangat anti AS yang dimulai oleh Kuba dan Chavez menjadi revolusi di kawasan tersebut terhadap hegemoni AS dan berhasil selama dua dekade. Spirit mereka adalah tokoh revolusioner yang menjadi legenda dunia, Che Guevara dan Fidel Castro yang merupakan presiden terlama berkuasa di dunia dan tidak bisa dijatuhkan oleh AS.

Inspirasi bagi ASEAN, khususnya Indonesia

Patutlah revolusi ala Amerika Latin menjadi model yang harus digali dan dijadikan inspirasi. Spirit yang kita adopsi adalah spirit anti AS sebagai musuh bersama dengan bersekutu secara ideologis bersama negara-negara kawasan Amerika Latin. Sekutu tersebut berbasis ideologi sosialisme dimana land-reform menjadi soko guru dalam memberi ruang seluas-luasnya pada partisipasi rakyat secara gotong-royong dalam menggarap pertanian dimana negara hanya sebagai fasilitator, regulator serta katalisator untuk mempercepat proses revolusi tersebut.

Sayangnya, revolusi yang menentang secara head to head AS ini, hanya kuat bertahan dua dekade. Satu per satu pemimpin revolusi di kawasan tersebut ditumbangkan, bahkan God Father mereka (Kuba) juga sudah berjabat tangan erat dengan Paman Sam.

Revolusi di Amerika Latin bersifat ideologis yang menentang keperkasaan AS khususnya dalam Food Security yang diketahui dalam rencana Yahudi secara global akan menggunakan pangan sebagai alat penekan dengan membuat krisis pangan di tahun 2030.

Inspirasi dari revolusi kawasan Amerika Latin adalah setiap tekanan harus disikapi bersama, ketika merasa AS tidak adil dan menekan hubungan dengan setiap negara, maka perlawanan akan bangkit. Walau berisiko bahwa jika kembali “kalah” seperti saat ini, bermula dari kematian Chaves sebagai inspirator, dan rujuknya AS – Kuba telah melemahkan semangat perlawanan kawasan ini terhadap AS.

Meksiko menjadi korban berikutnya dari arogansi AS melalui Presiden Donald J. Trump dengan pengetatan migran, isu ketersediaan tenaga kerja, Trump yang mengutamakan kepentingan nasional membatasi imigran pencari kerja, karena mengurangi peluang tenaga kerja AS yang menjadi pengangguran.

Bagi Indonesia pelajaran dan inspirasi revolusi Kawasan Amerika Latin terhadap AS adalah substansi dalam hal kedaulatan negara, khususnya soal food & energy security (ketahanan pangan dan energi). AS sebagai pemegang kendali perdagangan migas dan pangan dunia tentu akan mengatur negara produsen pangan dalam perdagangan dunia. Kedaulatan rakyat menjadi azas utama dalam kedaulatan pangan.

Indonesia yang sebagian penduduknya adalah petani, tentu harus memikirkan konsep dan implementasi seperti pertanian di negara-negara Amerika Latin. Program kedaulatan pangan Joko Widodo yang ditargetkan dalam 3 tahun (berarti harus terwujud Oktober 2017), jika melihat realitas di lapangan masih jauh panggang dari api.

Semangat negara-negara Amerika Latin untuk berdaulat menjadi inspirasi bagi kita untuk bagaimana kedaulatan pangan harus diperjuangkan karena menyangkut nasib petani yang merupakan 65% dari penduduk Indonesia. Menyejahterakan petani adalah menyejahterakan rakyat sekaligus mempersempit ketimpangan sosial di Indonesia. Redistribusi aset dari Pemerintah diharapkan menjadi prioritas untuk petani karena rata-rata mereka hanya memiliki tanah garapan 0,7 hektare. Secara ekonomi jumlah yang dihasilkan tidak mencukupi biaya layak standar rumah tangga sehingga akhirnya mereka banyak berubah profesi.

Semangat Amerika Latin menjadi semangat petani Indonesia, bahwa pangan adalah salah satu komoditi strategis yang perlu perhatian khusus. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here