Revolusi Mental Melalui Huruf Hijaiyah, Mungkinkah?

0
145
Sejumlah murid didampingi orang tuanya mengikuti kegiatan menulis huruf arab (hijaiyah) secara massal di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (21/9). Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan ribu peserta dari pelajar tingkat SD hingga SMP se-Kota Kediri beserta wali murid tersebut guna membentuk karakter religius generasi muda sekaligus memeriahkan tahun baru 1439 Hijriah. Foto: antara

Nusantara.news, Kediri – Sebanyak 50 ribu anak dari usia 10-15 tahun, pelajar tingkat SD hingga SMP berkumpul di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Kamis (21/9/2017). Mereka berkumpul untuk menulis huruf Alquran dimulai menebali huruf hijaiyah.

Kegiatan ini disebut-sebut sebagai awal dari revolusi mental yang selama ini dihimbau oleh Presiden Joko Widodo. Dikatakan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, menulis huruf hijaiyah secara bersama-sama merupakan gerakan membangun karakter anak.

“Revolusi mental bisa dimulai dari mana saja. Salah satunya dimulai dari membangun karakter agama anak seperti menebali huruf hijaiyah,” ujar wali kota yang akrab disapa Mas Abu ini.

Pendidikan karakter sudah seharusnya dilakukan secara perlahan dan dengan cara yang menyenangkan. Dan itu harus dilakukan secara masif. Mas Abu tampaknya tahu betul bagaimana menyelaraskan revolusi mental dengan dunia pendidikan. Hal utama yang harus dikedepankan dalam revolusi mental di dunia pendidikan adalah karakter bangsa. Dalam hal ini adalah sikap hormat dan tanggung jawab.

Betapa pentingnya huruf hijaiyah bagi warga Kota Kediri terutama para generasi penerus bangsa, menurut Mas Abu, harus dimulai dengan mendidik mental sosial serta akhlakul karimah yang diwujudkan dalam generasi cinta Alquran. “Salah satu upaya membangun karakter anak adalah dengan menumbuhkan pemahaman lebih mendalam terhadap agamanya. Kita mengisi tahun baru Islam dengan kegiatan positif seperti dengan dilaunchingnya gerakan membangun karakter anak di hari pertama tahun baru Islam 1439 Hijriah,” ungkapnya.

Mas Abu juga mengimbau kepada para orang tua agar selalu waspada. Pasalnya, gempuran teknologi melalui media sosial (medsos) cukup efektif mengubah pola pikir dan sikap anak. Makanya, meski tidak serta merta melarang mereka, orang tua harus terus memantau porsi dan setiap interaksi yang dilakukan anak di dunia maya. “Teknologi memiliki dampak yang positif tapi bisa memuat hal yang negatif pula. Makanya kita harus selalu mengawasinya,” imbaunya.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar saat melihat anak-anak sedang menulis huruf Alquran.

Sebelumnya Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah membacakan 17 karakter anak yang dapat dibentuk melalui menebali huruf hijaiyah ini, di antaranya, terbiasa suci, konsisten, konsentrasi, sabar, teliti dan jeli, sidiq, amanah, ikhsan, ulet, patuh, setia, mandiri, tenang, hati-hati, teratur dan mawas diri.

Gerakan ini akan diteruskan dengan dijadikan tugas yang diparaf oleh wali murid kemudian guru lalu juga diteruskan di TPQ. Anak-anak juga akan diberikan sertifikat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran Agama Islam (MGMPAI) apabila dapat mengkhatamkan setiap juz.

Pendidikan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang dilakukan pemimpin maupun guru, yang mampu mempengaruhi karakter anak didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana cara berbicara atau menyampaikan materi harus bisa jadikan inspirasi. Lebih detail lagi bagaimana bertoleransi dalam berbagai hal dalam konteks nyata dalam kehidupan.

Dalam tataran yang demikian, tentunya ada beberapa hal yang perlu dikaji sekaligus menjadi renungan bersama agar tidak menjadi mentalitas bangsa yang instan. Bangsa yang maju tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, tehnologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Artinya, pemahaman karakter diri yang tangguh akan menjadikan seorang individu berkarakter yang sesungguhnya.

Peran orang tua, guru, dosen, dan juga pemimpin sebenarnya untuk meneguhkan kembali nilai-nilai karakter pada anak. Mengenalkan anak pada huruf hijaiyah merupakan gerakan untuk meneguhkan kembali kemartabatan bangsa. Mengapa demikian? Karena pendidikan karakter adalah sistem yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. “Karena itu melalui gerakan ini kita sinergikan peranan orang tua dan guru. Sehingga harapannya pembentukan karakter anak yang positif bisa tercapai,” pungkasnya.

SuperHijaiyyah dan Anak Sholeh Penunjang Pembelajaran

Semakin maju teknologi, semakin mudah dan menyenangkan bagi anak-anak di tataran TPQ maupun Sekolah Dasar untuk belajar. Salah satunya dengan hadirnya aplikasi SuperHijaiyyah. Aplikasi ini menjadi pembelajaran huruf hijaiyah yang menyenangkan di kalangan anak-anak.

Dengan menggunakan aplikasi SuperHijaiyyah ini, anak-anak muslim dapat belajar dan bermain huruf-huruf hijaiyah. Aplikasi ini didesain oleh dua mahasiswa STKIP Al Hikmah Surabaya, yang bernama: Aditya Juliant dan Rayhan Muhammad Al Fatih.

Aplikasi ini mengajarkan pada anak-anak muslim dasar huruf-huruf hijaiyah, mulai dari membaca, menulis, dan bacaan yang benar. Dengan beberapa fitur tambahan dari setiap huruf hijaiyyah, seperti: membedakan huruf hijaiyah, mengenal bunyi bacaan fathah-kasroh-dhommah, cara penyambungan huruf hijaiyah, dan permainan yang menguatkan hafalan anak-anak muslim pada 15 surat di juz 30.

Salah satu fitur unik yang dimiliki adalah fitur bermain Save Hijaiyyah yang akan menguji tiga indikator penilaian terhadap anak-anak muslim dalam memainkan permainan ini. Menguji tingkat kognitif siswa seputar dasar-dasar huruf hijaiyyah, menguji kesabaran siswa untuk mengukut tingkat afektif dan ketangkasan bermain untuk penilaian psikomotorik.

Aplikasi ini telah diuji cobakan dua kali di TPQ Insan Islami dan di kelas 3 Sekolah Dasar Luqman Al Hakim Surabaya pada bulan Juli. Alhasil, pembelajaran dengan aplikasi SuperHijaiyyah ini berhasil diterapkan dengan baik.

Aplikasi SuperHijaiyyah menjadi pembelajaran menyenangkan di kalangan anak-anak muslim.

Sebagian anak salut dan memberikan tanggapan yang positif tentang aplikasi ini. SuperHijaiyyah ini dapat digunakan di komputer, tablet, maupun smartphone dengan dukungan program Microsoft PowerPoint.

Hal ini membuktikan bahwa semakin dimudahkannya umat-umat muslim mempelajari Al-Quran. Mulai dari tahap dasar maupun lanjut. Seperti yang kita ketahui ,terdapat ayat dalam Al-Quran bahwa: dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran. [Q.S. Al-Qamar (54):17]

Tidak cuma sampai di situ, tampaknya para pembuat aplikasi sangat paham bagaimana membentuk karakter anak bangsa. Kemajuan teknologi kadang membuat anak terkesan dipaksakan. Namun sebagian orang mulai sadar untuk mulai mengembangkan aplikasi khusus anak.

Seperti diketahui game sudah menjadi bagian dari hiburan sehari-hari sebagian orang, terutama anak-anak. Sayangnya, masih banyak game yang memiliki unsur kekerasan hingga konten dewasa.

Nah, melihat kondisi ini, developer game asal Bandung Agate menghadirkan game Anak Sholeh. Agate menjanjikan game ini bisa digunakan dalam edukasi, memperkaya pengetahuan agama Islam, sekaligus memberikan hiburan aman bagi anak-anak.

“Penetrasi gadget anak sulit dibendung. Game Anak Sholeh ini menjadi alternatif konten yang positif,” ujar Co-Founder Agate Wiradeva Arif Kristawarman, Rabu (20/9/2017).

Untuk menyiasati rasa bosan anak saat bermain game, Agate menghadirkan variasi konten dan mini game edukatif. Dari sisi pendidikan agama Islam, Agate membawa pengenalan huruf-huruf hijaiyah, doa harian, surat pendek, tutorial sholat, kisah nabi dan rasul serta pengetahuan Islam lainnya.

Game Anak Sholeh ditargetkan untuk menyasar anak usia 6-9 tahun. Di dalam aplikasi ini juga dihadirkan fitur untuk para orangtua seperti tips parenting, jurnal sholeh, real-life mission, dan yang cukup unik adalah adanya notifikasi aktivitas.

“Misalnya anak telah bermain game satu jam, nanti di-warning, nggak langsung mati tapi keluar peringatan,” ucap Wiradeva.

Game Anak Sholeh sudah bisa didownload di Play Store. Sejauh ini, jumlah downloadnya sudah tembus lebih dari 30 ribu. Wiradeva mengungkapkan, karena sekarang masih dalam tahap soft launching, Anak Sholeh sedang terus berupaya disempurnakan. “Targetnya bulan ini bisa dirilis penuh,” sebutnya.

Selain itu, Agate juga merilis produk fisik dari game Sholeh Anak. Ini ditunjukkan agar anak tak hanya bermain gadget, tetapi juga melakukan permainan fisik yang melatih motorik.

Arab Pegon Bukti Perlawanan Ulama Nusantara

Huruf hijaiyah merupakan huruf dasar dalam Arab. Namun betapa dahsyatnya huruf hijaiyah ini pada abad sekitar 16-17 masehi, sehingga banyak ulama Nusantara yang menggunakan huruf tersebut (hijaiyah) untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda.

Menilik ke belakang, secara historis huruf hijaiyah mampu melahirkan sebuah karya konseptual seperti Arab pegon, yang kemudian disesuaikan dengan aksara atau abjad Jawa atau Indonesia untuk menulis kitab, manuskrip dan beberapa surat-surat. Namun demikian, setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, aksara pegon nyaris terlupakan. Generasi sekarang, tidak kecuali umat Islam, hanya sedikit saja yang mengenal aksara pegon.

Padahal selain sebagai bagian sejarah literasi Nusantara, aksara pegon yang dijadikan satu dengan nama Jawa pegon atau Arab pegon, pernah menjadi pemersatu dan pemicu perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Melawan Belanda memang tidak harus memakai senjata, namun bisa melalui pembangkangan dengan penulisan bahasa Jawa pegon yang digunakan untuk alat komunikasi, karena Belanda menggunakan bahasa latin, bahasa melayu dan Eropa untuk komunikasi dan surat-menyurat. Sedangkan ulama-ulama Nusantara tidak mau karena itu produk Belanda. Makanya mereka menggunakan Jawa atau Arab pegon.

Peraturan Belanda yang mendominasi sistem politik dan sosial masyarakat Indonesia, memang mengharuskan para ulama untuk membuat sandi-sandi tertentu. Babad Diponegoro dalam Keraton Jogja ditulis menggunakan huruf Arab Pegon. Demikian pula di Banten, Syekh Nawawi menjadikan Arab Pegon sebagai kode rahasia saat masa penjajahan Belanda.

Naskah Arab Pegon warisan leluhur yang sudah mulai luntur.

Sementara Belanda bertindak arogan dengan membuat aturan agar masyarakat dan kaum santri tidak melawan. Belanda takut jika Islam besar. Maka dari itu, banyak naskah-naskah Arab Pegon yang dibawa ke Leiden Belanda agar tidak dipelajari santri.

Samidi Khalim, Doktor jebolan UIN Walisongo peran literasi ulama-ulama saat itulah yang memberi sumbangsih besar terhadap kemerdekaan sampai sekarang. Dan bahwa karya arab pegon menjadi bentuk perlawanan terhadap Belanda, memang benar. “Siapa pencetus karya pegon sampai sekarang yang pertama kali memang belum ada yang menemukan. Ada yang yang meriwayatkan itu sudah diterapkan pada zaman Sunan Bonang. Namun hal itu masih spekulatif,” beber dia.

Meski saat itu banyak Arab pegon, namun menurut Samidi, aksara Jawa dan melayu zaman itu berbeda. “Kalau aksara Jawa yang dilestarikan santri itu aksara pegon yang tulisannya Arab namun pegon. Tapi kalau Melayu itu aksaranya pegon tapi nama aksaranya itu Jawi,” urainya.

Gus Ruhulla Taqi, pengasuh Pondok Pesantren Qashrul Arifin Yogyakarta mengatakan, mempelajari Arab Pegon bisa menjadi semangat baru dalam meningkatkan pemahaman agama. Terlebih, ulama dulu juga menggunakan Arab Pegon untuk mengajarkan moralitas dan membawa kedamaian.

Ia membandingkan pengajaran saat ini lebih banyak mengedepankan sisi hukum atau yang  bersifat logis, sehingga cenderung memunculkan potensi bentrok. Namun dengan mempelajari Arab Pegon bisa menekan pengkultusan huruf Arab karena tidak semua tulisan dalam bahasa Arab berbau agama Islam.

Ia mencontohkan, ada cerita dari masjid Pathok Negori Mlangi tentang seorang anak menyimpan catatan huruf Arab dibungkus dengan kain mori dan dimasukkan dalam peti. Ia merasa itu peninggalan leluhurnya. Setelah dibuka dan dibaca ternyata tulisan itu hanya catatan teknis pembangunan masjid.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi memaparkan Arab Pegon menjadi bahasa pemersatu Nusantara saat melawan penjajah, hampir mirip dengan Urdu, yakni tulisan Arab dengan bahasa lokal India.

“Setelah Hindu dan Budha mengalami kemunduran, Islam lewat Arab Pegon berfungsi sebagai penyangga bahasa Nusantara melawan penjajah,” ujar dia.

Ia menceritakan, pasca-kekalahan Diponegoro sekitar 1830, para pengikutnya yang terdiri dari ulama dan sufi melarikan diri ke daerah Termas Pacitan. Mereka mendirikan pondok pesantren Termas sebagai benteng pertahanan melawan penjajah. Wilayah itu dipilih karena dikelilingi bukit karang sehingga tidak terjangkau teknologi Belanda.

Para ulama membenci segala sesuatu yang berbau penjajah dan mengeluarkan dalil, mengharamkan segala sesuatu yang berbau penjajah, termasuk penggunaan huruf latin. Oleh karena itu, pesantren pun menggunakan Arab Pegon.

“Tetapi yang perlu dicatat dalil itu adalah dalil strategi perang, bukan dalil agama, karena ulama melakukan perlawanan secara total. Kalau diterapkan sekarang sudah tidak pas, karena Indonesia sudah merdeka,” ucap Yudian.

Dalil itu, tutur dia, juga menjadi salah satu sebab orang-orang di pondok pesantren kala itu jarang yang bergelar akademis karena mereka tidak mengenyam pendidikan dari sekolah yang notabene buatan Belanda.

Dia menerangkan pada abad ke-19 menjadi tonggak utama perjuangan Islam di Nusantara. Namun, hal itu berubah di abad 20 menjadi nasionalis. Penyebabnya, pada abad itu terjadi dua revolusi besar di dunia, yakni Komunis Bolsevic pada 1917 dan setahun kemudian Turki dan India kalah dalam perang dunia pertama. Akibatnya, Islam kehilangan dukungan kekuatan dan muncul kekuatan baru bernama Uni Soviet.

Soekarno saat itu berpikir bahwa untuk mencapai kemerdekaan melawan Barat tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan Islam internasional. Pemikiran itu kemudian memunculkan paham Nasakom (nasionalis, agama, komunis). “Setelah kemerdekaan dicapai, Soekarno menghapus Bahasa Belanda dari Indonesia, demikian pula dengan Arab Pegon, supaya bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu dan menjadi identitas bangsa merdeka yang setara di mata internasional,” tutur dia.

Yudian menambahkan awal kemerdekaan PBB pernah bilang angka buta huruf di Indonesia tinggi, yang dimaksud adalah buta huruf latin karena rata-rata orang kelahiran di bawah 1960 hanya menguasai Arab Pegon.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here