Ribuan Umat Islam Bangkit Ramaikan Festival Hadrah Solo Bersalawat

0
79
Kaum muslim mengikuti Festival Hadrah di Solo, Jawa Tengah, Senin (24/4). Kegiatan tersebut digelar untuk membangkitkan kembali seni budaya Islam di Indonesia sekaligus memperingati perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO/Maulana Surya

Nusantara.news, Surakarta – Tanda-tanda kebangkitan Islam mulai mendekat. Selain memenangkan Pilkada DKI Jakarta, seni tradisi Islam di sejumlah kota mulai bangkit, termasuk Festival Parade Hadrah 2017 di Kota Solo, Senin (24/4) sore kemarin yang diikuti oleh ribuan peserta.

Seni hadrah memang tradisi Islam yang tetap dijaga di pesantren-pesantren sejak era Wali Songo. Seni itu biasanya tampil ke hadapan publik setiap peringatan Maulid Nabi atau Isra Mi’raj. Meskipun berasal dari Hadramaut, namun di masing-masing kota Indonesia, termasuk Solo, warna lokal yang turut mempengaruhi membuat seni yang mencakup sastra, musik, tari, bahkan seni rupa ini tampak beragam.

Kali ini Festival Parade Hadrah 2017 di kota yang sejak era Walikota Joko Widodo dikenal dengan ikon “Spirit of Java” itu tampak dielu-elukan oleh puluhan ribu warga Kota Solo di sepanjang Jl Slamet Riyadi. Ribuan peserta pun tampak bersemangat, lebih rampak dan lebih teatrikal dengan beragam kostum beradu kekompakan yang begitu menghibur masyarakat.

“Wah, lebih teatrikal dan menghibur. Salut,”ucap Agus Istijanto yang juga seorang pemerhati kebudayaan Kota Solo kepada nusantara.news, Senin (24/4) kemarin. Agus yang kini menetap di Kota Solo kendati beragama Katholik merasa terhibur dengan hadirnya seni hadrah atau bahasa setempat lebih dikenal dengan nama terbangan di kotanya.

Lihat saja, sambung Agus, iring-iringan peserta festival tiada putus-putusnya. Masing-masing kelompok unjuk kebolehan. Bahkan ada yang menyemburkan api dari mulutnya seperti debus. Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi penonton berjejalan sekedar untuk bisa memotret atraksi yang ditampilkan setiap peserta.

Mengutip keterangan Ketua Panitia Festival Parade Sadrah 2017 Samarchin, festival Sadrah kali ini diikuti oleh 213 kelompok peserta. Masing-masing kelompok peserta terdiri oleh 15 hingga 50 orang. Samrchin berharap fesitival yang melestarikan seni budaya Islam ini bisa diselenggarakan setiap tahun.

“Sebenarnya masih banyak kelompok peserta yang mau mendaftar. Sayang ada keterbatasan anggaran. Sebab setiap peserta yang tampil mendapat dana stimulant Rp1 juta tiap kelompok,” terang Samarchin.

Peserta berjalan kaki sepanjang kurang lebih 2,2 Km dari Lapangan Kota Barat, Senin (24/4) pukul 16.00 menuju stadion Sriwedari dan tiba menjalang adzan maghrib. Di sana peserta mengambil air wudhu. Usai shalat maghrib peserta akan bershalawat bersama yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf sekitar pukul 20.00.

Sambil memimpin shalawat dari atas panggung, Habib Syech didampingi oleh Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo, Kapolresta Solo dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Solo. Sebelum acara bersalawat dimulai, Habib Syech mempersilakan Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo memberikan sambutan.

“Saya ada sedikit cerita, tadinya Habib Syech belum yakin betul kalau Solo dijadikan sebagai Kota Berselawat sebelum ada prasasti hitam di atas putih. Saya akan menyampaikan kepada Pak Wali agar Solo dinyatakan di atas bukti prasasti sebagai Kota Berselawat. Dalam rangka event kota Solo, Festival Hadrah diadakan dengan harapan menjadi wahana apresiasi masyarakat khususnya Islam dan pencinta seni Islam di solo,” ungkap Purnomo.

Berdasarkan data yang didapat nusantara.news, seni hadrah alias rebana atau ada juga yang menyebut terbangan, sesungguhnya seni tradisi Islam nusantara yang berkembang sejak zaman wali songo. Kesenian ini berasal dari Hadramaut. Dalam seni hadrah seseorang diikuti oleh sekelompok orang lainnya dengan diiringi rebana bersalawat tentang sifat-sifat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW yang syair-syairnya bersumber dari Kitab Al-Barzanji.

Kini hadrah dengan nama yang berlainan di masing-masing tempat Indonesia bukan saja tumbuh subur di Banjarmasin, Jambi, dan sejumlah kota di Jawa yang tradisi pesantrennya kuat, melainkan juga di wilayah Jabodetabek. Tidak mengherankan apabila kemeriahan Festival Parade Hadrah 2017 di Solo dan dengan nama yang sedikit berbeda di sejumlah kota besar Indonesia disebut-sebut sebagai pertanda bangkitnya umat Islam.

Jadi, jangan sekali-kali meremehkan kekuatan umat Islam. Bukan begitu?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here