Ribut Soal Sepele, Dialog GNPF-MUI dan Jokowi Menuju Antiklimaks

0
235
Pengurus GNPF-MUI foto bersama Presiden Jokowi usai pertemuan di Istana, Minggu (25/6/2017)

Nusantara.news, Jakarta – Pertemuan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) dengan Presiden Jokowi di Istana pada Minggu (25/7/2017) yang diharapkan dapat mencairkan hubungan antara kelompok kritis Islam dengan Istana, tampaknya tidak mustahil berakhir antiklimaks. Sebab, kedua pihak bukannya berupaya menindaklanjuti hasil pertemuan, tapi malah sibuk mempersoalkan masalah sepele, misalnya siapa yang menjadi pemrakarsa silaturahim di hari yang fitri itu.

Sejak awal, pihak Istana yang diwakili Menteri Sekretaris Negara (Mensegneg) Pratikno terkesan sudah ‘menyepelekan’ pertemuan itu dan menyatakan yang menginisiasi pertemuan itu dari pihak GNPF-MUI.

Menurutnya, keinginan GNPF-MUI awalnya disampaikan melalui Menteri Agama Lukman Hakim yang diteruskan ke Pratikno. Saat itu juga Pratikno melaporkan kepada Presiden.

Kebetulan, Presiden Jokowi beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla memang sedang menggelar halalbihalal di Istana Negara. Karena itu, kata Pratikno, Presiden mau menerima karena bertepatan acara “open house”.

Alhasil, pada pertemuan itu hadir dari pihak GNPF-MUI, di antaranya Ketua GNPF MUI Ustad Bachtiar Nasir serta sejumlah pengurus GNPF-MUI, seperti M. Kapitra Ampera, Yusuf Muhammad Martak, Muhammad Lutfi Hakim, Habib Muchsin, dan Zaitun Rasmin. Sementara Presiden didampingi Menkopolhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Mensesneg Pratikno.

Namun, pernyataan itu dibantah GNPF-MUI yang seolah tak terima jika pihaknya dianggap  yang memohon untuk berdialog.

“Ini perlu diluruskan. Pertemuan kita (GNPF-MUI) dengan Presiden yang dikesankan ada kata meminta ketemu. Yang benar bukan meminta tetapi kami menggagas terjadinya dialog antara GNPF MUI dengan Presiden,” tandas Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir di Jakarta, Selasa (27/6/2017).

Bachtiar menjelaskan, pertemuan itu merupakan kebutuhan kedua belah pihak. Karena menyangkut upaya menuntaskan permasalahan yang terjadi di Tanah Air, seperti tergambar dalam pernyataan Jokowi saat dialog berlangsung.

Menurutnya, dalam dialog itu Jokowi sampai tiga kali menyinggung soal pentingnya komunikasi. Bahkan, Jokowi menyatakan apabila komunikasi berjalan baik antara kedua pihak, maka tidak akan ada aksi massa yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diadili terkait penodaan agama pada tanggal 4 November 2016 atau dikenal dengan aksi 411 dan aksi 2 Desember 2016 atau aksi 212.

Karena itu, GNPF-MUI menilai memang Istana membutuhkan dialog atau pertemuan tersebut.

Sikap kedua belah pihak tampaknya menggelikan. Karena, esensi dari pertemuan yakni menjalin komunikasi politik yang konstruktif menjadi hilang. Kini, kedua pihak seolah sibuk mempertahankan gengsi yang bukan pada tempatnya.

Logikanya, pertemuan, silaturahim, dialog atau apapun namanya tak akan mungkin terjadi jika salah satu pihak menolak. Artinya, kedua pihak punya posisi yang sama sehingga tak perlu dipersoalkan siapa yang mengawali.  Atau mungkin kedua pihak lupa bahwa pihak yang lebih awal mengajak berdamai atau memaafkan itu pahalanya lebih besar apalagi di hari Raya Idul Fitri.

Kalaupun kehadiran pengurus GNPF-MUI di Istana itu dalam rangka “open house” Jokowi selaku Kepala Negara tentu tak akan mengurangi makna silaturahim tersebut. Toh, pengurus GNPF-MUI merupakan bagian dari rakyat yang sedang dijamu sang Kepala Negara, seperti tamu-tamu lainnya.

Kini, anak bangsa berharap langkah konkrit apa selanjutnya yang akan dilakukan kedua pihak untuk menindaklanjuti dialog di Istana itu. Sehingga, pertemuan di Istana itu tidak menjadi silaturahim basa-basi tanpa makna. Apalagi, dialog di Istana itu sudah diawali dengan upaya serius GNPF-MUI  menemui Wapres Jusuf Kalla (JK). Mungkin itu jauh lebih baik dipikirkan kedua pihak, ketimbang sibuk mengurusi hal-hal sepele yang kurang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa dan negara ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here